Pola Ekonomi Normatif RAPBN 2014

Selasa, 04/02/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

Founder and CEO BondRI

Pemerintah dan DPR-RI telah menetapkan definisi RAPBN 2014 dengan asumsi makro yang disepakati adalah pertumbuhan ekonomi 6,00%; laju inflasi 5,50%; IDR 10.500 per US$; SPN 3-bulan 5,50%; harga ICP US$ 105 per barel; lifting minyak 870k barel per hari; lifting gas 1,240k barel per hari. Pertanyaan utama, “sanggupkah tim ekonomi saat ini mencapainya?” Jawaban versi normatifnya tentu dan pasti menyatakan sanggup, sebab jawaban sebaliknya akan berdampak tidak populis.

Jawaban versi pragmatisnya adalah, “target akan diusahakan tercapai, namun jika hasilnya tak sesuai harapan, biasanya ada 2(dua) ammo yang telah dipersiapkan, yaitu corrective action plan dan penjelasannya kepada publik. Suatu bentuk contingency plan yang paling umum, rada klise.

Selaku warga negara, mungkin bersikap kritis-konstruktif masih lebih baik daripada skeptik-pesimis. Apapun definisi yang ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR-RI dalam RAPBN, sebaiknya didukung agar dapat terealisir. Kritik konstruktif BondRI terhadap figur RAPBN 2014 ini adalah perihal kewajaran definisi 3(tiga) indikator dalam RAPBN-2014, yaitu laju inflasi, SPN dan daya beli rupiah.

BondRI menilai asumsi tersebut tidak realistis untuk term 1(satu) tahun fiskal, tentunya dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi terkini serta ragam peristiwa penting dan signifikan yang akan kita lalui sepanjang 2014. Figur laju inflasi, SPN dan daya beli rupiah yang demikian berpotensi menjadi bumerang bagi tim ekonomi yang mengusulkan dan juga bagi pihak yang menyepakati. Jika pola multi-revisi pada APBN-2013 kembali terulang pada figur APBN yang baru ini, maka bukan hanya tim ekonomi yang akan diragukan kemampuannya, namun kemampuan para pakar ekonomi nusantara dalam mengelola perekonomian domestik. Selain itu, signifikansi APBN sebagai salah satu perangkat pemerintah dalam sistem perekonomian kita akan kehilangan pamor, yang amit-amit tak sampai menumbuhkan sikap apatis bagi masyarakat investor.

Laju inflasi saat ini di posisi 8,22%, tingkat suku bunga acuan 7,50% dan Rupiah 12.200 per US$. Mungkin masing-masing dari kita bisa merenung sejenak; Dalam kondisi negara yang akan lebih fokus kepada pesta demokrasi 2014, plus adanya potensi perubahan kebijakan pasca transisi di kursi pemerintahan, masihkah asumsi makro dalam RAPBN-2014 realistis? Tidak sama sekali !

Perihal pengetahuan tentang masa depan, tak ada satupun orang yang lebih pintar dari yang lain. Disiplin ilmu dan pakar forecasting memang ada, namun dalam statistik, deviasi tak terhindarkan, apalagi antara harapan dan realita. Hal ini terutama bagi negara yang sarat dengan conflicting interests, bentrok ragam kepentingan dari ragam partisan. Tahun 2014 ini, negara Indonesia akan sarat dengan dinamika politik yang berdampak signifikan pada sikon perekonomian. Karena itu, berusaha fokus dan berupaya mencapai target RAPBN-2014 akan menjadi suatu proposisi yang sangat mahal dan mengandung kompleksitas tinggi.

Walau demikian, dengan tetap bersikap optimis dan berharap yang terbaik, keajaiban bukan tidak mungkin terjadi dalam setahun periode pengukuran fiskal perekonomian kita. Dengan figur target yang berat, inisiatif yang perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh tim ekonomi kini adalah program yang taktis-resolutif. De facto, rapor perekonomian Indonesia di tahun lalu kurang bagus (tak sesuai target). Di tahun kuda ini, semoga tim ekonomi berkesempatan meningkatkan prestasi dan terutama perekonomian nusantara ke sikon yang lebih baik lagi.