Merencanakan Pembangunan Rumah - Rumah Idaman Bukan Lagi Impian

Merencanakan pembangunan sebuah rumah memang tidak semudah terlihatnya. Banyak sekali hal yang harus dipikirkan dan diperhatikan agar perencanaan pembangunan sebuah rumah atau hunian dapat berjalan dengan baik. Untuk pertama-tama sebaiknya cek tanah yang kita gunakan, apakah memang diperuntukkan untuk pembangunan rumah atau tidak. Kita harus mengeceknya ke Dinas Tata Kota. Hal lain yang perlu dipastikan adalah Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Jika hal ini tidak dipenuhi, kita akan sulit mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Cek pula kondisi tanah yang kita beli atau yang ingin kita gunakan, apakah sebelumnya tanah tersebut bekas rawa atau sawah. Jika kondisi kavling tanah seperti ini, akan membutuhkan konstruksi khusus, yang berimbas pada harga konstruksi yang lebih mahal dibandingkan jika tanah kavling merupakan tanah bukan rawa atau bekas sawah, ini menjadi salah satu hal yang cukup penting.

Hal penting yang perlu diperhatikan berikutnya adalah pembangunan rumah harus dibuat terencana, yang disesuaikan dengan ukuran, kondisi tanah, situasi lingkungan, serta pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Namun jika kita ingin membuat rumah 2 lantai, disarankan menggunakan jasa arsitek dan pemborong profesional. Tidak jarang, banyak yang berasumsi kalau kita menggunakan jasa arsitek pasti biayanya mahal, hal inilah yang salah kita pahami. Sebab, arsitek lebih tahu bahan-bahan yang cocok untuk digunakan, dan tidak semua barang mahal cocok untuk digunakan.

Penggunaan jasa arsitek dalam pembangunan rumah justru menghindari pembuatan bangunan yang tidak diperlukan sehingga akan menghindari kegiatan salah bangun atau bahkan tambal sulam. Selain itu, rumah yang akan kita bangun akan lebih baik, tertata, terjamin kualitas, bahkan sesuai dnegan aspek fungsi dan aspek estetis. Jangan membuat ruang tamu dengan luasan yang besar. Hal ini berangkat dari fakta, biasanya ruang tamu jarang digunakan kecuali pada momen‑momen tertentu.

Membuat ruang keluarga yang cukup besar mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Hal ini mengingat ruang keluarga bisa menjadi ruang serbaguna yang berfungsi ganda, yaitu menjadi ruang makan, ruang nonton, ruang santai, bahkan bisa untuk mewadahi kegiatan yang melibatkan orang banyak, misalnya arisan, kegiatan ibadah, dan lain‑lain.

Selain merencanakan ruangan, rencanakan pula sirkulasi ruangan. Pastikan sirkulasi udara dan cahaya dalam rumah direncanakan dengan baik, sehingga kita bisa meminimalisasi penggunaan AC dan lampu. Penggunaan garasi kita alihkan menjadi carport, jika memang luasan kavling tanah terbatas. Ruang yang awalnya dijadikan garasi bisa disulap menjadi ruang tidur, atau ruang lain sehingga penggunaan ruang‑ruang dalam rumah menjadi maksimal.

Sebaiknya jangan menggunakan semua tanah yang tersedia, sediakan ruang terbuka untuk taman sekaligus penyerapan air dan lokasi kehadiran pepohonan. Taman akan menjadikan rumah lebih fresh, tidak sumpek, dan lebih sehat. Jika pembangunan rumah sudah melewati batas KDB, namun kita masih harus membangun beberapa ruang lain, kita harus membuat pembangunan menjadi bertingkat ke atas. Disarankan, lantai dasar digunakan sebagai ruang publik, yang diisi ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan lain‑lain. Lantai 1 digunakan sebagai ruang privat, yang diisi ruang tidur.

Yang paling terpenting tetaplah fokus pada rencana awal dan jangan tergoda untuk melakukan penambahan di tengah jalan, khususnya yang berkaitan dengan finishing yang berakibat pembengkakan bujet. Pastikan komunikasi antara pemilik rumah, arsitek, dan kontraktor terjalin dengan baik dan lancar sehingga bisa menghindarkan kemungkinan kesalahpahaman dalam proses pembangunan rumah. Hingga, harapan si pemilik rumah dan rumah yang diimpi-impikan dapat menjadi kenyataan.

Related posts