Gubukku Terbakar

Oleh: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Kamis, 06/02/2014

Alkisah, terdapat sebuah kapal kecil mengalami kecelakaan di laut. Dari sekian banyak penumpang, terdapat seorang yang pandai berenang sehingga berhasil menyelamatkan diri di sebuah pulau terpencil, tak ada penghuninya.

Dengan sabar dia menunggu kalau-kalau ada kapal yang mampir. Selain cuaca panas, di pulau itu juga sering turun hujan lebat. Maka, dia membuat gubuk tempat bernaung dari terik panas matahari dan curah hujan. Dia bertahan hidup dengan mencari buah-buahan, menangkap ikan, dan rajin berdoa kepada Tuhan, semoga segera datang pertolongan. Namun belum juga ada tanda-tanda datang pertolongan.

Suatu hari setelah seharian mencari kayu dan buah-buahan, dia menangis pilu melihat gubuknya terbakar. ”Ya Tuhan, apa salah dan dosaku. Tega nian Engkau melakukan ini padaku. Satu-satunya milikku hanyalah gubuk ini untuk bertahan hidup. Tapi sekarang terbakar.” Besok paginya dia kaget campur gembira ketika melihat ada kapal mendekat ke pulau itu yang datang menawarkan pertolongan.

Dia pun bertanya, ”Dari mana Saudara tahu bahwa saya sudah lama terdampar di pulau ini dan siang-malam berdoa kepada Tuhan menunggu pertolongan?” Penolong itu pun menjawab, ”Aku melihat asap api membubung dari arah pulau ini. Aku yakin pasti ada seseorang yang memerlukan pertolongan, maka aku datang ke sini dan ternyata dugaanku benar. Ayo segera naik kapal, kita kembali ke daratan.”

Pesan moral kisah singkat ini sangat jelas. Ketika terkena musibah, jangan berhenti berusaha dan berdoa. Berusaha dengan segenap kekuatan nalar dan tenaga, berdoa kepada Tuhan dengan ketulusan hati sedalam- dalamnya. Ora et labora. Sehebat dan sepintar apa pun seseorang tak ada jaminan tercapai apa yang didambakannya dalam hidup. Jika tidak disertai kepasrahan kepada Tuhan, ketika terjadi kegagalan akan semakin frustrasi dan kehilangan keseimbangan hidup.

Bahkan ada yang bunuh diri. Sebaliknya, sekalipun rajin berdoa jika tidak disertai usaha secara rasional dan sungguh-sungguh, tak akan terjadi keajaiban. Misalkan Anda masuk ruang ATM ingin mengambil uang, jika nomor PIN salah, uang tak akan keluar sekalipun berjam-jam Anda berdoa dan bersembahyang di ruang ATM.

Pesan moral kedua, jawaban Tuhan dari doa seseorang tidak seketika. Bahkan tidak jarang dalam bentuk lain, di luar apa yang diminta. Dalam hal ini, Tuhan mengganti dengan sesuatu yang lebih tepat bagi hamba- Nya karena Tuhan Mahatahu apa yang terbaik baginya. Makanya ketika berdoa, mesti yakin bahwa doanya didengar dan dikabulkan, tetapi hindari sikap mendikte Tuhan ketika berdoa.

Dalam tradisi Islam, berdoa selalu dimulai dengan pujian dan penyampaian rasa syukur atas anugerah Tuhan yang melimpah tak terhitung. Kedua, menyampaikan permohonan. Ketiga, ditutup dengan sikap rendah hati bahwa Tuhan Mahasuci dari apa yang manusia pikirkan dan sungguh segala pujian hanya milik Tuhan. Dengan urutan ini, kita diajari berdoa dengan sopan dan sungguh-sungguh, tetapi ujungnya keputusan akhir kita kembalikan kepada Tuhan yang mahatahu, mahasuci, dan maha terpuji.

Artinya, kita mesti rida dengan apa pun keputusan Tuhan yang akan diberikan kepada kita. Bahwa apa yang terjadi, itulah yang terbaik setelah kita berusaha secara optimal, lahir dan batin. Dalam Alquran diingatkan (QS 2:216), kita sering membenci sesuatu, padahal di balik itu justru tersimpan kebaikan. Sebaliknya, kita sering terpikat dan kagum akan sesuatu, padahal apa yang kita dambakan itu mencelakakan.

Makanya orang tua selalu memberi nasihat, janganlah membenci atau mencintai sesuatu secara berlebihan karena bisa jadi suatu saat apa yang kamu cintai atau benci akan berbalik posisinya. Banyak kisah hidup yang membenarkan peringatan di atas. Misalnya saja, ada orang yang kesal karena terlambat naik pesawat gara-gara satu dan lain hal yang tidak terduga. Beberapa jam kemudian baru tersadar dan dibuat kaget, merenung, ternyata pesawat yang mestinya dia naiki mengalami kecelakaan.

Cerita serupa bisa diperbanyak karena dalam masyarakat banyak terjadi hal yang awalnya bertolak belakang dengan logika sehat dan keinginan, tetapi setelah selang beberapa waktu baru terbuka tabir kehendak dan kasih Tuhan di balik suatu musibah. Salah satu cara untuk bermohon kepada Tuhan agar terhindar dari musibah yang tidak terduga adalah dengan memperbanyak bersedekah, sekecil apa pun yang dilakukan secara rutin.

Jangan lewatkan tiada hari tanpa menolong dan menggembirakan orang lain, khususnya mereka yang dalam kesulitan. Kalaupun tidak bisa harian, minimal dilakukan setiap minggu secara sadar, dilakukan dengan tulus. Beberapa orang pernah mengalami kejadian- kejadian yang membuatnya surprisedseperti kisah singkat di atas tentang gubuk yang terbakar. Berulang kali terhindar dari kecelakaan, yang menurut nalar sulit dipahami.

Dia yakin, itu pasti semata pertolongan Tuhan karena dia secara rutin senang menolong hamba Tuhan yang dalam kesulitan. Rasulullah bersabda, Tuhan akan senantiasa menolong hamba-Nya selama dia senang menolong sesamanya. (uinjkt.ac.id)