Menguasai Iptek Kelautan

Oleh: Andi Perdana Gumilang, Peneliti dan Mahasiswa Program Pascasarjana IPB

Rabu, 05/02/2014

Tahun 2014 menjadi tahun penting untuk mencari serta mendapatkan pemimpin baru Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi lautan maka sosok pemimpin yang muncul perlu memiliki perhatian besar dalam mengelola potensi ekonomi kelautan yang ada untuk kesejahteraan rakyatnya.

Berdasarkan fakta geografis, wilayah Indonesia memiliki luas perairan yang lebih luas dibandingkan daratan dan sangat kaya akan sumber daya alam (SDA). Lebih dari itu, wilayah laut Indonesia memiliki nilai strategis bagi perekonomian dunia. Tiap tahunnya, potensi ekonomi sektor kelautan, baik yang berkaitan dengan SDA dan jasa kelautan, bisa mencapai 1,2 triliun dolar AS (KKP, 2013). Dengan demikian diperlukan SDM kelautan yang memadai agar bisa menguasai bidang kelautan.

Laut memiliki tiga fungsi yang sangat menentukan dinamika ekosistem bumi dan kehidupan umat manusia penghuninya. Fungsi tersebut berupa fungsi bio-ekologis, pertahanan dan keamanan, serta pendidikan, penelitian dan informasi. (Till, 2004) Karakteristik oseanografis laut Indonesia yang khas merupakan indikator muncul dan lenyapnya El-Nino dan La-Nina, yang mempengaruhi perubahan iklim global, dan berdampak pada kemarau panjang, banjir, kegagalan panen, kebakaran hutan, serta naik turunnya produksi perikanan.

Laut dan kehidupan yang ada di dalamnya merupakan bahan penelitian dan pendidikan yang tidak akan pernah habis. Kegiatan pendidikan dan penelitian di bidang kelautan memberikan manfaat yang besar dalam pemanfaatan dan pendayagunaan sumber daya kelautan bagi kehidupan manusia. Di samping itu, kegiatan pendidikan dan penelitian juga bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Di sinilah pentingnya dipersiapkan penguatan sumber daya manusia (SDM), lembaga penelitian dan pendidikan, partisipasi dan dukungan pemerintah, swasta dan masyarakat. Ini penting agar semua potensi sumberdaya kelautan tersebut dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan bangsa dan negara ini.

Secara umum sekitar 60-70% petani dan nelayan Indonesia berpendidikan SD, 15% SLTP, 13% SLTA, dan hanya 1% lulus perguruan tinggi (sucipto, 2012). Kondisi ini menunjukkan keprihatinan dalam pedidikan nelayan. Pendidikan sudah saatnya mampu mengangkat pendidikan petani dan nelayan sebagai pelaku penyedia pangan. Amanah UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa perlu menyentuh kehidupan nelayan secara nyata.

Di samping itu kualitas pendidikan penyuluh perikanan laut perlu ditingkatkan. Berdasarkan UU No 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (UU SP3K), penyuluh dituntut profesional dan mampu menjadi mitra strategis petani, nelayan dalam membangun pertanian, perikanan. Nelayan diharapkan terampil menerapkan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan, serta mampu mengelola usaha perikanan secara berkelanjutan.

Penyuluh perikanan berperan penting mendampingi nelayan agar komoditas perikanan yang diperolehnya dapat memiliki daya saing. Infrastruktur pelabuhan perikanan perlu dibangun secara merata di setiap wilayah. Kemampuan penyuluh sebagai mitra nelayan perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti pendidikan lanjut program studi pengelolaan sumber daya kelautan, teknologi perikanan laut, dan yang terkait.

Potensi laut Indonesia yang besar sudah saatnya menjadi fokus untuk memecahkan berbagai persoalan kemiskinan dan pengganguran. Karena itu pendidikan kelautan perlu diperkuat. Upaya untuk mencapai cita-cita dan tujuan pembangunan wilayah laut yang kuat diperlukan sebuah rencana dan sistem pengelolaan sumberdaya laut yang tepat. Untuk menyusun rencana dan menjalankan sistem tersebut diperlukan beberapa komponen penting dimana salah satu komponen tersebut adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) bidang kelautan.

Paradigma pendidikan kelautan perlu berlandaskan pada Iptek. Karena tanpa penguasaan Iptek kita tidak akan mampu memberikan nilai tambah pada sumberdaya laut yang kita eksploitasi. Sehingga jika sumberdaya laut yang kita manfaatkan dan ambil tersebut habis maka tidak ada lagi yang dapat menjadi sumber pendapatan negara. Bangsa ini akan segera jatuh dalam persaingan ekonomi global jika selamanya hanya mengandalkan pada ekspor produk-produk bahan mentah.

Langkah-langkah terobosan untuk memacu penguasaan di bidang IPTEK kelautan setidaknya adalah pertama, pada tingkat makro pemerintah perlu melakukan perubahan paradigma pembangunan ekonomi dan industri berdasarkan pada potensi yang kita miliki yaitu sumberdaya laut. Karena selama ini belum ada perubahan nyata dalam roadmap pembangunan nasional, kita masih berkutat pada orientasi daratan. Penelitian dan industri sudah saatnya mengoptimalkan potensi kelautan untuk kemajuan bangsa.

Kedua, memberikan pembinaan sumberdaya manusia (SDM) sejak dini kepada generasi muda mengenai kelautan, sehingga mereka terpacu untuk mencintai laut dan akan lebih mudah dalam mendalami ilmu-ilmu mengenai kelautan. Kurikulum pendidikan kelautan perlu dimasukkan agar dapat memacu peningkatan IPTEK kelautan. Ketiga, Membangun dan memperluas lembaga penelitian dan perguruan tinggi di bidang kelautan secara memadai. Di sisi lain para peneliti kelautan perlu didorong untuk menghasilkan inovasi baru yang penting bagi kemajuan bidang kelautan.

Dengan demikian diharapkan SDM yang ada mampu menguasai bidang kelautan serta menjadikan kekayaan laut sebagai sumber perekonomian negara dan IPTEK yang dimiliki, tidak hanya menjadi sebuah prestasi akademik semata tetapi juga mampu diterapkan secara nyata. (haluankepri.com)