Edukasi Tata Kelola Sampah

Oleh: Jakob Siringoringo, Anggota Kelompok Diskusi dan Aksi Sosial

Rabu, 05/02/2014

Tumpukan sampah pinggir sungai di Tembung merupakan salah satu dari sekian banyak contoh timbunan sampah di daerah kita. Sebagai satu sisi mirisnya adalah ketika pengendara yang melintasi jalan penghubung Willem Iskandar (bilangan Pancing) menuju Tembung itu telah turut melayangkan sampah seenaknya di tempat itu (Analisa 13/01).

Dari pengamatan langsung penulis ketika melintasi jalan tersebut pada 2 Januari lalu memang benar bahwa sisi jalan yang juga rusak akibat adanya pembangunan di sekitar telah disesaki sampah. Padahal beberapa tahun silam, pemandangan tersebut tidak seperti sekarang. Sampah yang berjamaah itu agaknya masih akan memanjang hingga beberapa meter lagi. Berserak, begitulah kira-kira tempat itu sebentar lagi bahkan akan menenggelamkan badan jalan hingga menutup sungai kecil di sebelahnya.

Satu contoh kasus di atas hanya sekadar mengingatkan kita kembali bahwa persoalan ini masih kita pandang dengan sebelah mata. Padahal kasus sampah telah banyak menjadi penyebab meruginya manusia. Sampah telah mengakibatkan hujan tergenang jadi banjir. Seperti kita tahu bersama bahwa banjir bukan lagi masalah alami yang tak tertebak.

Sebaliknya banjir telah lebih banyak terjadi akibat perilaku manusia yang tak mengindahkan perlunya kebersihan. Sekali lagi banjir khususnya di negeri ini bukan lagi masalah alami atau yang sulit terjadi. Justru sampah gampang kita jumpai di mana saja.

Terkait sampah yang mudah dijumpai rupanya hal ini mudah dilacak penyebabnya. Pertama kita adalah bangsa yang konsumtif. Apa saja barang konsumsi selalu saja hendak kita makan/pakai/beli. Apalagi jika terdapat barang baru, kita sangat doyan terhadap hal ini. Contohnya mulai dari barang jajanan, elektronik hingga barang mewah seperti kendaraan bermotor.

Kedua, minimnya kesadaran kita untuk membuang sampah sesuai jenis hingga tempatnya. Untuk urusan yang satu ini, kita adalah jagonya untuk menyepelekan sampah. Kitalah bangsa yang masih membuang sampah sesembarang mungkin, yakni di atas bumi ini secara langsung. Kita tidak memedulikan bahwa ada tempat sampah, khusus untuk sampah. Dengan kata lain, kita masih saja menyatukan diri dengan sampah, sama-sama ada di mana-mana sepanjang bisa dilalui.

Jika ada yang mengatakan bahwa kita keterlaluan bersahabat dengan sampah, itu merupakan pernyataan orang-orang yang telah sadar. Ya, bersahabat yang dimaksud tidak sekadar melihat sampah bertebaran di mana-mana, bahkan mungkin tidur di tengah-tengah sampah. Kitalah masyarakat yang masih memperlakukan sampah dengan seenaknya. Sekali buang saja, entah di mana kita berada, baik di dalam mobil, jalan kaki atau di mana saja.

Tak heran ketika sampah membendung saluran-saluran air, kita hanya bisa pasrah dan kemudian meminta bantuan kepada orang lain saat banjir menenggelamkan rumah kita. Saluran-saluran air yang kini pada umumnya kotor, bau merupakan tempat berbagai sampah berserakan. Kita tak pernah peduli pada saluran air yang tanpa itu, mungkin rumah kitalah saluran gambut, sampah-sampah.

Perhatikan setiap sungai di wilayah kita, khususnya kota Medan. Adakah sungai yang bersih dari sampah hingga kita dapat melihat air mengalir dengan tenang di dalamnya? Penulis beberapa kali melihat sungai yang mengalir di daerah Simpang Barat (Gatot Subroto-Wahid Hasyim) masih juga disesaki sampah, padahal di sisinya terpampang spanduk besar berisi tulisan bahwa sungai tersebut bersih hingga memperoleh penghargaan adipura. Jangankan sungai, parit yang ada di depan rumah sendiri tampak jarang dibersihkan. Jika pun dibersihkan, sampah akan datang lagi hingga dua kali lebih cepat.

Jika menelaah ragam masalah tersebut, patutnya kita memberi perhatian serius untuk menanggulangi ini. Sampah merupakan masalah bersama yang juga dilakukan bersama-sadar maupun tidak. Artinya, persoalan bersama ini mestinya dibutuhkan instruksi tegas untuk menangkal masalah pelik ini agar ditanggapi secara bersama.

Hari-hari belakangan ini, lingkungan bertambah rusak. Cuaca tidak pernah lagi bisa dideteksi persis. Bahkan cuaca belakangan ini seolah mengancam manusia untuk bersiap-siap menghadapi pusaran badai. Perlahan tapi pasti dampak global telah menghantui manusia hanya karena akibat pribadi atau lingkungan kecil yang membuang sampah sembarangan serta melakukan pengrusakan terhadap alam dalam bentuk lainnya.

Menghadapi kenyataan ini seperti disinggung sebelumnya, maka kita hendaknya bisa saling ajak-mengajak agar tidak membuang sampah sembrono. Untuk menyanggupi ini, tentu saja tempat-tempat sampah harus lebih banyak dan lebih baik lagi. Diharapkan pemerintah sudi memberi perhatian serius terkait persoalan sampah ini.

Selain itu, pemerintah melalui tangan-tangan kreatif, kerja keras serta tulus mau mensosialisasikan agar tidak lagi membuang sampah di jalan dengan sembarangan. Promosikan kepada warga ketika sampah ada di tangan kita, entah lagi di mobil, jalan kaki, naik sepeda motor atau di mana pun, tunggu hingga tempat sampah terdekat ada. Dengan kata lain, misalnya bungkus rokok kita yang tengah mengemudi mobil, jangan dibuang sembrono di jalan, tapi simpanlah sejenak hingga ketemu tong sampah.

Kemudian koordinasi bersama semua pihak, termasuk komunitas yang fokus mengkaji maupun menangani sampah agar cara-cara kerja bisa melangkah lebih efektif. Hentikan babat sana babat sini anggaran negara.

Sebaliknya persoalan lingkungan yang mengglobal ini perlu disikapi secepat kilat menyambar demi anak cucu di masa depan. Tiga elemen politik: eksekutif, yudikatif, dan legislatif contohkanlah itikad baik kepada rakyat, sehingga edukasi tata kelola sampah ini sedapat mungkin terealisasi. Berikutnya, keindahan akan menumbuhkan kreatifitas dan bahkan keuntungan bagi semua pihak. (analisadaily.com)