Penerimaan Hasil Ekspor BRI Capai RMB4 Miliar

Sepanjang 2013

Senin, 03/02/2014

NERACA

Jakarta - Sepanjang 2013, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk berhasil mencatatkan penerimaan hasil ekspor melalui BRI dalam Renminbi (RMB) sebesar 4 miliar RMB. Sekretaris perusahaan BRI, Muhamad Ali mengatakan volume perdagangan yang tinggi antara China dan Indonesia merupakan peluang bagi BRI.

“Tingginya volume perdagangan kedua Negara merupakan peluang bagi BRI untuk meningkatkan layanannya, kita optimis dengan jasa ini, apalagi saat ini China jadi kekuatan ekonomi terbesar dunia yang perdagangannya sangat baik dengan Indonesia,” kata Ali di Jakarta, akhir pekan lalu.

Melihat peluang itu, BRI juga telah mengaktifkan layanan money changer-nya pada 2012 dan pada 2013 transaksi jual beli tercatat sebesar 3,9 Juta RMB.

Saat ini, RMB atau mata uang Yuan China mulai menyaingi mata uang dolar AS dan menjadi mata uang ketiga terbesar dari sisi nilai transaksi yang kerap digunakan untuk transaksi letter of credit (L/C).

Sebelumnya, China juga telah mengukuhkan diri menjadi eksportir terbesar dunia. Pada tahun 2010 lalu, China mengambil alih posisi Jepang, sebagai negara ekonomi dunia terbesar kedua. Meningkatnya kinerja ekspor impor, membuat negara Tirai Bambu itu berhasil menjadi raksasa ekonomi baru.

Hubungan dagang Indonesia (RI) dan China semakin erat dari tahun ke tahun. Bahkan Wakil Presiden RI Boediono pernah mengatakan, pemerintah menargetkan perdagangan bilateral kedua negara ini mencapai US$ 50 Miliar sampai tahun 2014.

Melihat peluang ini, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) layanan membuka layanan dalam mata uang RMB sejak tahun 2010. “Layanan RMB yang disediakan BRI antara lain transaksi ekspor impor, remitansi, money changer maupun simpanan (giro dan deposito),” ujar Ali.

Selain BRI, Bank Mandiri juga telah membuka fasilitas perdagangan melalui mata uang China, Renminbi. Dengan begitu para pengusaha ekpor/impor dalam negeri yang melakukan transaksi perdangan dengan China tidak perlu lagi menggunakan dolar AS. Juga sekaligus mempertegas bahwa perekonomian China sedang menuju negara adidaya.

“Jadi nanti pengusaha-pengusaha di Indonesia bisa dapat penawaran payment yang menarik. Atau minimal hubungan perdagangan tidak lagi diperantarai dengan dolar AS. Tapi langsung dari Rupiah ke Renminbi atau sebaliknya,” kata Direktur Bank Mandiri, Sunarso.

Langkah ini dianggap penting oleh Sunarso untuk memperluas fasilitas Bank Mandiri agar menunjang para nasabah dalam negeri khususnya pengusaha yang memiliki hubungan dagang dengan China. Sekaligus juga menambah kekuatan permodalan di negeri tirai bambu itu. Lagipula China sendiri secara ekonomi memang sedang tumbuh pesat. Bahkan pada tahun 2010 kemarin sudah dinobatkan sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

“Jadi China memang sedang gencar-gencarnya mengekspansi pasar untuk menjadikan Renminbi sebagai likuiditas yang layak dipakai oleh dunia. Tapi memang mata dunia sekarang sudah mulai melirik Renminbi untuk mengantikan dolar AS. Sehingga bagi China sendiri kerjsa sama ini dapat mengurangi biaya hedging dan lebih efisien,” tandasnya. [sylke]