Menkeu Klaim CAD Dapat Ditekan

NERACA

Jakarta - Pemerintah optimistis hingga akhir tahun 2014 current account defisit (CAD) dapat turun hingga di bawah 3% dari PDB. Pasalnya, kebijakan pengetatan konsumsi yang sudah berjalan sejak tiga bulan lalu segera menuai hasil. Meski diakui berdampak juga pada pelemahan produktifitas.

“Tahun 2014 merupakan periode stabilisasi. Maka tahun ini juga kita masih angan mengalami perlambatan hingga CAD dapat ditekan turun hingga di bawah 3%. Kita optimis target itu bisa tercapai sampai akhir tahun,” kata Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, pekan lalu.

Dia menjelaskan target itu dapat tercapai mengingat sejak tiga bulan yang lalu pemerintah telah mengambil kebijakan fiskal yang memperketat konsumsi masyarakat. Bahkan Bank Indonesia (BI) selaku pengendali moneter juga turut mendukung. Namun Chatib juga mengaku hal itu berdampak pada penurunan produktifitas di sektor riil.

“Pemerintah telah berhasil mengurangi impor barang mewah yang selama ini membuat berat neraca berjalan kita. Karena selama ini demand barang mewah di dalam negeri memang tinggi. Sedangkan barang-barang itu juga tidak produktif untuk dibeli, hanya sekedar kesenangan saja,” tutur Chatib.

Bahkan Chatib mengklaim dengan adanya kebijakan pengetatan moneter dan fiskal sejak tiga bulan lalu maka transaksi neraca berjalan pada Desember 2013 kemarin akan menunjukan hasil surplus. Angkanya bisa mencapai lebih dari US$800 juta. “Masyarakat tidak pernah percaya dari kemarin kita saya bilang pasti surplus di akhir tahun. Tapi memang sudah karakter bangsa kita seperti itu. Kebijakan apapun yang diambil pemerintah selalu dianggap salah.”

Kemudian Chatib mengaku langkah tersebut diambil juga mengingat dari sisi ekspor tidak bisa membantu meminimalisir CAD. “Bisa saja kita mengurangi CAD melalui ekspor. Tapi melalui sektor itu kami sadar kepastiannya sangat minim. Karena industri harus tambah pasokan ke pasar. Sedangkan ongkos produksi di dalam negeri sedang tinggi-tingginya.”

Meski begitu pemerintah masih perlu berhati-hati mengingat negara masih menganut rezim devisa bebas. Artinya keberhasilan menurunkan CAD bisa jadi tidak ada dampak yang signifikan terhadap perubahan mata uang. Namun begitu nilai mata uang dijanjikan tetap bertahan di kisara Rp12.000 hingga akhir tahun.

“Tapi kita masih perlu waspada karena kita masih menganut rezim devisa bebas. Namun kita akan pertahankan rupiah dengan menahan outflow. Dengan begitu rupiah dapat terjaga di sekitar Rp12.000,” terang Chatib.

Untuk menahan outflow Chatib mengaku pemerintah akan memberikan insentif kepada investor yang menahan investasinya di dalam negeri. Kemudian investasi yang tertahan ini akan didorong untuk reinvestasi dalam suatu bidang usaha. “Intensif itu akan diberikan dalam bentuk pajak dan berbagai macam kemudahan perizinan,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama pengamat ekonomi Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko menilai masalah CAD akan terus berkepanjangan selagi pemerintah tidak punya kebijakan pembangunan yang baik. “Ya kalau pemerintah bilang CAD bisa ditekan hingga di bawah 3% dan aka nada surplus pada Desember 2013 kemarin sah-sah saja. Tapi lihat saja nanti CAD juga akan terus terasa hingga 2015,2016, dan seterusnya kalau pemerintah tidak punya kebijakan yang baik untuk pembangunan.”

Lalu Prasetyantoko mengatakan kunci agar dapat keluar dari CAD pemerintah harus punya memperbaiki trad balance dengan baik. “Jika pemerintah bisa perbaiki itu maka sebetulnya hingga akhir tahun 2014 ini kita punta potensi surplus US$1 bilion. Jangan sampai kita kehilangan potensi itu,” tutupnya. [lulus]

Related posts