Permudah Transaksi, Dorong Sistem Pembayaran Terintegrasi

Senin, 03/02/2014

NERACA

Jakarta - Untuk mempermudah sistem transaksi keuangan yang mudah dan terintegrasi sangat diperlukan fasilitas keuangan nonfisik. Terlebih, di tahun 2015 mendatang, Indonesia akan segera terlibat dalam ajang ASEAN Economic Community (AEC) yang berarti akan semakin deras laju transaksi keuangan baik domestik maupun internasional. Untuk itu diperlukan pembangunan infrastruktur dan edukasi yang semakin gencar kepada masyarakat.

“Indonesia harus yakin bisa berperan aktif dalam menghadapi AEC pada tahun depan karena potensi ekonomi yang kita miliki begitu luas. Belum lagi adanya dukungan bonus demografi dengan populasi penduduk mencapai 250 juta jiwa. Bahkan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) kita juga diprediksi akan tumbuh hingga US$1 triliun pada tahun 2014,” kata Direktur Utama PT Artajasa, Arya Damar, dalam acara Seminar Nasional Sistem Pembayaran 2014, di Jakarta, belum lama ini.

Namun, untuk mencapai kesuksesan itu Arya menilai Indonesia harus juga menjadi penggerak utama sistem pembayaran di ASEAN. Dengan begitu Indonesia tidak hanya menjadi pasar yang potensial bagi negara-negara lain tetapi juga bisa meraih potensi ekonomi regional untuk memajukan perekonomian dalam negeri.

“Sistem pembayaran harusnya sudah bisa dalam bentuk e-money (uang elektronik) dan terintegrasi. Hal ini penting mengingat transaksi keuangan internasional akan semakin deras. Dan akan sulit kalau mengandalkan uang fisik,” tutur Arya. Tak hanya itu, dirinya menjelaskan sebenarnya pada tingkat negara kawasan sudah ada lembaga yang menentukan transaksi keuangan internasional, yaitu Asian Payment Network (APN).

“Artajasa sendiri sudah tergabung dalam forum itu (APN). Hal ini semata-mata sebagai kendaraan bagi Indonesia agar sistem keuangan kita menjadi yang terdepan di regional ASEAN,” jelasnya. Meski begitu, Arya meminta agar pihak perbankan dalam negeri mau gotong-royong membangun infrastruktur dan pelayanannya.

Pasalnya, perbankan dalam negeri tidak bisa serta-merta bersandar pada Pemerintah untuk meningkatkan pelayanan dan mendidik masyarakat tentang literasi keuangan. Persaingan antarbank memang harus dihadapi tetapi untuk edukasi dan pelayanan sejatinya dilakukan secara gotong-royong.

“Toh, semua ini untuk meningkatkan daya saing perbankan dalam negeri juga,” tambah Arya. Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya tengah membuat model e-money yang terintegritas. Karena keberadaan e-money yang nantinya berbentuk kartu ini dapat digunakan dalam segala jenis transaksi, baik lingkup domestik maupun internasional.

Singapura dan Malaysia

Hal itu penting agar tidak ada hambatan di antara para pelaku usaha dalam melakukan transaksi pada saat AEC berlangsung. “Sebelum bicara terintegrasi kita harus menentukan terlebih dahulu standardisasinya. Tapi sejauh ini kita sudah melakukan integrasi melalui program ATM Bersama. Dan ATM bersama ini juga sudah bekerjasama dengan 83 bank, termasuk BPR,” tutur dia.

Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Isbandiono Subadi menambahkan, untuk sementara ini sistem pembayaran di negara kawasan masih dipegang oleh Singapura dan Malaysia. Hal itu ditetapkan oleh Asian Banking Consul mengingat kedua negara tersebut memang memiliki sistem pembayaran terintegrasi paling baik dibanding negara kawasan lainnya.

Oleh karena itu, dirinya menekankan agar perbankan dalam negeri harus segera bangun edukasi dan infrastruktur yang terintegasi. “Fasilitas sistem pembayaran terintegrasi ini penting mengingat kita akan segera menghadapi AEC. Bahkan, kita juga berharap dengan sistem ini tidak ada lagi pembayaran TKI (tenaga kerja Indonesia) yang bermasalah kalau mekanisme pembayarannya dapat institusional. Perbankan harus gotong-royong membenahi ini semua,” pungkasnya. [lulus gita samudra]