Suasana Etnik di Masjid Cheng Ho

Sabtu, 08/02/2014

Saat mengunjungi Kota Surabaya, tidaklah lengkap bila tidak mengunjungi tempat yang satu ini. Masjid Cheng Ho dikenal sebagai masjid pertama di Indonesia yang menggunakan nama muslim Tionghoa. Bangunannya bernuansa etnik dan antik cukup menonjol dibandingkan bentuk masjid lain pada umumnya di Indonesia. Masjid Cheng Ho memiliki kolom sederhana dan dinding dilapisi keramik bermotif batu bata. Di beberapa bagian ada ornamen horizontal berwarna hijau tua dan biru muda. Pewarnaan itu diulang juga pada bentukan kuda-kuda pada bagian interior.

Atap utama masjid ini bersusun tiga lapis menyerupai bentuk pagoda. Pada puncaknya terdapat lafaz "Allah". Sedangkan mahkota pada ujung atap lebih condong pada gaya arsitektur Hindu-Jawa. Ada juga bukaan lengkung pada dinding, sebuah ciri khas arsitektur India dan Arab. Masjid Muhammad Cheng Ho, nama lengkap masjid itu, juga memiliki 8 sudut bagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Angka 11 untuk ukuran Kabah. Angka 9 melambangkan Wali Songo, serta angka 8 melambangkanPat Kwayaitu angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa.

Anak tangga di bagian serambi masjid berjumlah 5, representasi rukun Islam. Sedangkan anak tangga di bagian dalam masjid berjumlah 6, representasi rukun iman. Ruangan mimbar yang dipergunakan oleh imam untuk memimpin sholat dan khotbah didesain seperti pintu gereja untuk menunjukkan perpaduan arsitektur dan penghormatan perbedaan agama. Masjid ini dibangun dengan konsep tanpa pintu sebagai simbol keterbukaan. Seakan memberi pesan bahwa siapa pun, dari etnis apapun, berhak menggunakan masjid ini untuk beribadah.

Cheng Ho sendiri merupakan bahariawan terbesar sepanjang sejarah Indonesia dan tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Nusantara. Kisah pelayarannya tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang dilaluinya, tetapi juga telah mengilhami ratusan karya ilmiah baik fiksi maupun non-fiksi serta penemuan berbagai teknologi navigasi kelautan dan perkapalan di Eropa.

Kuliner Surabaya

Surabaya memiliki beragam kuliner dari yang mewah hingga harga yang murah. Yang penting rasanya menggoda lidah. Kita dapat mengunjungi Tahu Tek Pak Ali di Jalan Dinoyo 147-A yang mulai beroperasi jam 4 sore. Tahu tek atau tahu campur khas yang memiliki cita rasa khas dengan campuran petis yang sedap ditambah irisan kentang, taoge serta kerupuk dan telur.

Rujak cingur dan Sop Buntut Genteng Durasim dapat kita jumpai di Jalan Genteng Durasim 29. Petisnya menggunakan tiga macam bahan, yaitu petis ikan, petis udang, dan petis biasa. Selain itu menu sop buntutnya juga sayang buat dilewatkan. Selain itu ada juga Rujak Cingur Achmad Jais di Jalan Achmad Jais No. 40 yang tak pernah sepi pembeli, bahkan pernah dipesan Presiden SBY.

Makanan khas Jawa Timur lainnya adalah nasi krawu ampel lonceng di Jalan KH Mansyur No. 164, yaitu nasi khas Madura mirip seperti nasi campur atau nasi rames. Hanya saja lauknya khas yaitu ati ampela, usus, babat, cingur, juga mata sapi.