Pasar Modal Diyakini Masih Likuid

Dampak Kinerja Emiten Positif

Senin, 03/02/2014

NERACA

Jakarta- Kendatipun ditahun ini diproyeksikan bakal terjadi perlambatan ekonomi, namun masih ada keyakinan bila industri pasar modal masih akan tetap tumbuh seiring dengan kinerja emiten domestik yang masih memiliki fundamental positif,”Kinerja emiten domestik masih tetap tumbuh dan karena itu kondisi tersebut akan mendorong dana investor asing kembali masuk,”kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito di Jakarta, kemarin.

Dirinya menuturkan, sepanjang tahun ini aksi beli yang dilakukan investor asing di pasar saham sebesar Rp2,48 triliun. Hal tersebut mencerminkan, bila kinerja emiten domestik saat ini masih memiliki fundamental positif.

Ito juga menegaskan, kembalinya investor asing yang menempatkan dananya di pasar modal Indonesia merupakan tanda bahwa fundamental emiten, termasuk ekonomi Indonesia masih positif ke depannya,”Kinerja emiten akan menjadi daya tarik, investor hanya percaya kalau melihat angka, terbukti kinerja per September 2013 kinerja perusahaan tercatat di BEI masih tumbuh dan ekspektasi untuk 'full year' 2013 juga masih positif. Untuk tahun ini fundamental emiten maupun ekonomi domestiknya pun masih bagus," paparnya.

Dia mengungkapkan, sejak 2006 hingga 2012, terjadi dana asing masuk (capital inflow) ke pasar modal domestik, namun pada 2013 terjadi "capital outflow". Artinya, dana asing yang keluar hanya sebagian saja. Jadi, asing masih percaya terhadap pasar modal domestik.

Selain itu, selama periode 10 tahun, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI sudah tumbuh signifikan,”Jadi, potensi investasi paling menguntungkan adalah di saham, tidak ada yang menyaingi meski indeks sempat terkoreksi karena isu pengurangan stimulus keuangan (tapering) the Fed, serta defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2013 lalu,”tandasnya.

Kemudian seiring dengan pertumbuhan pasar modal itu, Ito mengatakan bahwa jumlah investor domestik juga mengalami pertumbuhan sejalan dengan semakin membaiknya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang industri pasar modal. Hal itu dikarenakan edukasi menjadi program utama BEI.

Sementara kepemilikan asing di saham sekitar 63% saat ini, kondisi itu menurun dibanding 2008 yang mencapai 70%. Maka mendukung industri pasar modal lebih banyak dilirik investor, Otoritas Jasa Keuangan mendorong perusahaan swasta melakukan penawaran saham ke publik (initial public offering/IPO) sebagai alternatif pembiayaan infrastruktur di dalam negeri,”Kami mengundang perusahaan-perusahaan untuk go public. Ini diharapkan bisa menjadi alternatif pembiayaan infrastruktur jangka panjang," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad.

Muliaman menuturkan, sejauh ini arah pembangunan ekonomi Indonesia sangat membutuhkan ketersediaan infrastruktur, namun potensi pembiayaan yang tersedia sangat kecil. Maka jika mengandalkan pembiayaan dari industri perbankan akan sulit untuk mendapatkan dana jangka panjang. (bani)