Pergerakan IHSG Menantikan Data Inflasi Januari

Senin, 03/02/2014

NERACA

Jakarta – Pasca libur panjang imlek, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih diselimuti aksi ambil untung lantaran belum adanya sentiment positif. Pelaku pasar masih mengkhawatirkan ekspektasi inflasi yang masih tinggi dan masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Faktor eksternal, sinyal akan dilakukannya tappering off lanjutan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) juga menjadi pemicu investor lebih memilih aksi ambil untung.

Analis PT Anugerah Sekurindo Indah, Bertoni Rio pernah bilang, sepanjang perdagangan kemarin, IHSG BEI bergerak di kawasan negatif dibebani dengan kejatuhan bursa Asia paska hasil Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang akan memangkas stimulus keuangannya, namun menjelang penutupan berbalik arah dan ditutup menguat.

Menurut dia, pergerakan indeks BEI yang kembali berada di area positif itu dipicu aksi beli beberapa investor meyakini data ekonomi domestik yang akan diumumkan pada pekan depan positif, “Indeks Senin awal pekan, diharapkan berpeluang menguat menyambut data inflasi Bulan Januari. Dimana neraca perdagangan berjalan diharapkan menjadi salah satu indikator positif,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya memperkirakan, IHSG berpeluang bergerak di kisaran 4.324-4.442 poin. Sementara beberapa saham yang layak di koleksi awal pekan ini, diantaranya, Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Wijaya Karya (WIKA), Aneka Tambang (ANTM), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG).

Sebagai informasi, menutup perdagangan Kamis pekan kemarin, IHSG naik tipis 1,408 poin (0,03%) ke level 4.418,757. Sementara Indeks LQ45 menipis 0,706 poin (0,10%) ke level 741,755. Aksi beli dilakukan oleh investor domestik. Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 173,95 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 195.937 kali pada volume 3,692 miliar lembar saham senilai Rp 4,903 triliun. Sebanyak 107 saham naik, sisanya 162 saham turun, dan 81 saham stagnan.

BEI jadi satu-satunya pasar modal bisa positif meski poin yang dicetaknya tipis. Bursa-bursa regional lainnya menutup perdagangan di zona merah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Citra Turbindo (CTBN) naik Rp 1.350 ke Rp 8.100, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.100 ke Rp 67.050, Indocement (INTP) naik Rp 625 ke Rp 22.400, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 175 ke Rp 26.425.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Danayasa Artahtama (SCBD) turun Rp 340 ke Rp 3.000, Indomobil (IMAS) turun Rp 305 ke Rp 4.895, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 275 ke Rp 41.900, dan Mayora (MYOR) turun Rp 250 ke Rp 27.000.

Menutup perdagangan sesi pertama, indeks BEI terkoreksi 30,021 poin (0,68%) ke level 4.387,328. Sementara Indeks LQ45 turun 6,477 poin (0,87%) ke level 735,984. Tak satu pun indeks sektoral yang bisa menguat, semuanya kompak terjebak di teritori negatif. Investor melepas saham-saham unggulan dan lapis dua.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 112.906 kali pada volume 1,809 miliar lembar saham senilai Rp 2,48 triliun. Sebanyak 77 saham naik, sisanya 164 saham turun, dan 62 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia masih kompak terjebak di zona merah hingga sesi pertama. Kebijakan The Fed memangkas stimulus membuat investor regional kalang kabut.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Citra Turbindo (CTBN) naik Rp 1.350 ke Rp 8.100, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 500 ke Rp 66.450, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 175 ke Rp 26.425, dan Inti Bangun (IBST) naik Rp 100 ke Rp 5.700.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mayora (MYOR) turun Rp 750 ke Rp 26.500, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 375 ke Rp 14.025, Asahimas (AMFG) turun Rp 375 ke Rp 6.725, dan Danayasa Artahtama (SCBD) turun Rp 340 ke Rp 3.000.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun sebesar 65,18 poin atau 1,50% ke posisi 4.351,25. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 15,06 poin (2,03%) ke level 727,39,”Bursa Asia, termasuk indeks BEI dibuka terkoreksi cukup signifikan memfaktorkan sentimen dari pengurangan stimulus keuangan AS," kata analis Samuel Sekuritas, Adrianus Bias.

Dia mengemukakan bahwa the Fed kembali mengurangi stimulusnya sebesar US$ 10 miliar menjadi US$ 65 miliar tanpa menghiraukan kondisi nilai tukar beberapa negara berkembang yang sedang dalam tren terdepresiasi,”The Fed juga memberi petunjuk bahwa 'tapering' masih akan dilakukan pada bulan-bulan mendatang seiring membaiknya data ekonomi AS," kata dia.

Lanjutnya, beberapa saham di dalam negeri yang menguat signifikan dalam dua hari terakhir seperti Bank Mandiri (BMRI), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Indocement (INTP) dan Kalbe Farma (KLBF) berpotensi mengalami ambil untung.

Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan, pasca-bank sentral AS memilih untuk melanjutkan pemangkasan pembelian obligasi menjadi US$ 65 miliar per bulan itu mensinyalkan bahwa the Fed akan terus bertahan di jalur kebijakan saat ini, terkecuali terjadi krisis dalam skala yang lebih besar.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 353,15 poin (1,59%) ke level 21.788,46, indeks Nikkei turun 488,32 poin (3,17%) ke level 14.895,59 dan Straits Times melemah 33,21 poin (1,09%) ke posisi 3.014,72. (bani)