Mundur Demi Konvensi?

Senin, 03/02/2014

Di tengah carut marutnya dunia perdagangan Indonesia saat ini, Menteri Perdagangan Gita Wiryawan akhirnya memilih mundur dari Kabinet Persatuan Indonesia yang saat ini dipimpin Presiden Yudhoyono.

Gita adalah salah satu dari 11 peserta Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat. Sebenarnya sejak tahun kemarin, sesaat setelah namanya santer masuk sebagai peserta Konvensi, Gita pernah dikabarkan mundur dari posisi Mendag, tetapi isu tersebut ditepis baik oleh Gita sendiri maupun oleh Jubir Kepresidenan Julian Pasha.

Kegalauan Gita untuk memilih mundur atau tidak saat itu disebabkan adanya beberapa tanggung jawab yang harus dia selesaikan mulai dari pertemuan APEC di Bali hingga sidang WTO, sehingga belum ada titik temu yang tepat untuk menentukan keputusan mundur.

Setelah semuanya sudah terlaksana, Gita merasa bahwa tanggung jawabnya sebagai Mendag sudah selesai dan karenanya ia memantapkan hati untuk mundur dari posisinya. Alasan selanjutnya mengapa dia mantap mundur saat ini karena ia merasa keikutsertaannya dalam konvensi capres Demokrat sangat menyita waktu sehingga ia tidak bisa fokus menjalankan tugasnya sebagai menteri; maka Gita akhirnya harus memilih salah satu posisinya.

Apabila melihat dari sisi perspektif komunikasi politik, apa yang dilakukan Gita ini sepertinya manuver dalam manajemen kesan. Gita sadar benar bahwa dirinya sedang menjadi “aktor” yang mengikuti plot cerita penuh drama, intrik, hubungan antagonistis, dan tentu dia ingin keluar sebagai tokoh protagonis yang mendapat simpati, dukungan, bahkan bintang atau pemenang. Konvensi Demokrat merupakan panggung sesak yang diisi banyak pemain watak meski sebagian besar di antaranya bukan bintang luar biasa yang sedang diminati pasar pemilih 2014.

Tampaknya ada sejumlah kesan yang dikelola Gita di momentum pengunduran dirinya. Pertama, dia ingin menanamkan persepsi di khalayak bahwa dia menjawab ekspektasi banyak orang terkait sejumlah paradoks yang sudah dan akan muncul saat seorang pejabat publik seperti menteri harus bertarung di proses politik bernama konvensi.

Mulai dari soal pembagian waktu dan konsentrasi, hingga rawannya beragam program yang ditunggangi demi popularitas. Gita salah satu kontestan konvensi yang dikritik habis-habisan saat tampil menjadi penunggang bebas popularitas di beragam iklan “Cinta Produk Dalam Negeri”. Intensitas tayangan beragam iklan di media massa dan media luar ruang serta bingkai isi iklan yang lebih menonjolkan sosok Gita ketimbang pesannya sendiri menyebabkan kegusaran bahkan kemarahan banyak kalangan.

Jadi wajar jika dalam kasus pengunduran dirinya banyak pihak bertanya: kenapa baru sekarang? Jika memang serius ingin menghindari konflik kepentingan, Gita seharusnya benar-benar serius keluar dari jajaran pemerintahan sejak awal. Momentum juga harus dibaca sebagai pesan, bukan semata penggalan waktu tanpa makna. Jika skenarionya dijalankan sekarang, jangan salahkan publik jika menginterpretasi langkah Gita sebagai manuver pencitraan semata.

Karena itu, pengunduran diri Gita jangan menghapuskan evaluasi terhadap tanggung jawab dia selama menjadi nakhoda di Kementerian Perdagangan. Bagaimanapun, di tengah pacuan terakhir menuju pengumuman pemenang konvensi, strategi Gita masih dominan menggenjot popularitas dan elektabilitasnya lewat iklan di media massa. Sehingga tak disangkal memang langkah Gita menggarap sisi pencitraan sangat menonjol ketimbang kontestan lain. Nyaris tak ada saluran komunikasi politik yang dia lewatkan. Mungkinkah Gita menang?