Konsumen Indonesia Dinilai Tetap Optimis

Pasca Kenaikan Harga BBM 2013

Senin, 03/02/2014

NERACA

Jakarta – Pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada 22 Juni 2013 dan berdampak pada kenaikan beberapa bahan pokok lainnya, Lembaga Survei Konsumen Nielsen menilai tingkat kepercayaan konsumen Indonesia tetap stabil bahkan cenderung optimistis. Hal itu terungkap dalam Survei Global Consumer Confidence Index yang diselenggarakan oleh Nielsen di Wilayah Asia Tenggara pada kuartal IV 2013.

Managing Director Nielsen Indonesia Catherine Eddy mengatakan pada kuartal ketiga terdapat sedikit penurunan menyusul dampak dari kenaikan harga bahan bakar dan akibatnya pada lonjakan inflasi. Namun, pada kuartal keempat kepercayaan diri konsumen menguat dan kembali pada tingkat yang tinggi seperti pada kuartal kedua. “Ini merupakan kabar baik bagi para peritel karena mengindikasikan kecenderungan konsumen untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan dan inginkan,” imbuh Catherine, akhir pekan kemarin.

Pihaknya juga menilai posisi konsumen Indonesia tetap yang teratas meskipun pergerakannya cenderung mendatar. “Pola optimisme konsumen yang telah kita lihat di masa lalu pada saat menjelang pemilu kini terjadi kembali dengan meningkatnya kepercayaan diri sebanyak 4 poin dibandingkan kuartal sebelumnya," ujar Catherine.

Catherine memaparkan hasil Survei Online Global Nielsen Consumer Confidence and Spending Intentions, Indonesia mencatat indeks tertinggi secara global yaitu 124 pada kuartal keempat 2013 atau naik empat poin dari kuartal sebelumnya dan 26 poin di atas rata-rata global yang sebesar 94, diikuti oleh Filipina dan Thailand yang juga berada di antara negara-negara yang paling optimistis meskipun terjadi sedikit penurunan selama dua kuartal terakhir.

Kepercayaan konsumen di Filipina turun empat poin menjadi 114 di kuartal keempat 2013 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, dan Thailand juga mencatat penurunan tiga poin menjadi 109. Malaysia turun tiga poin menjadi 108, sementara Vietnam meningkat satu poin menjadi 98, dan Singapura turun satu poin menjadi 97.

The Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions yang diselenggarakan Nielsen sejak tahun 2005 mengukur kepercayaan diri konsumen, kekhawatiran utama konsumen, dan keinginan untuk berbelanja pada lebih dari 30,000 koresponden yang memiliki akses internet di 60 negara. Tingkatan consumer confidence diatas dan dibawah angka standar 100 merupakan indikasi mengenai kadar optimisme dan pesimisme.

Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions dilaksanakan pada 14 Agustus hingga 6 September 2013, dan mensurvei lebih dari 30.000 konsumen online di 60 negara di seluruh Asia-Pasifik, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Utara.

Menurut Indira Abidin Managing Director perusahaan konsultan kehumasan PT Fortune Pramana Rancang (Fortune PR), Indonesia masuk ke dalam kategori yang sama dengan Cina, India, Malaysia, Filipina, Pakistan, Thailand, dan Vietnam yang dijuluki Fast-Track Asia.

“Kategori ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang cepat, sangat siap untuk mengadopsi teknologi, dan belanja iklannya diprediksi akan tumbuh sekitar 10-11% per tahun mulai tahun ini sampai tahun 2015 mendatang,” papar Indira.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga mencatat indeks keyakinan konsumen (IKK) masyarakat mulai membaik pada Oktober 2013, meski masih lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam survei konsumen diketahui bahwa IKK per Oktober 2013 berada di level 109,5 atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya 107,1.

Bank sentral menyatakan indeks kondisi ekonomi saat ini masih melandai karena pesimisme dalam konsumsi barang tahan lama dan penghasilan. "Di sisi lain, optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi pada 6 bulan mendatang meningkat, baik dari sisi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, maupun kegiatan usaha," tulis BI.

Bank sentral juga memperkirakan, tekanan kenaikan harga dalam 3 bulan ke depan kemungkinan akan berkurang, meskipun bakal sedikit meningkat pada saat Natal dan tahun baru. Penurunan tekanan kenaikan harga diperkirakan terjadi terutama pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan serta kelompok makanan jadi minuman, rokok dan tembakau.

Terkait dengan pelaksanaan pemilu legislatif, BI memperkirakan pada 6 bulan ke depan bakal terjadi tekanan kenaikan harga pada April 2014, yang lebih tinggi dari bulan sebelumnya.