Pelaku Pasar Khawatirkan Kenaikan Inflasi

Senin, 03/02/2014

NERACA

Jakarta- Sinyal akan dilakukannya tappering off lanjutan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dan melemahnya nilai tukar rupiah seiring ekspektasi inflasi yang masih tinggi dinilai menjadi alasan pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking). Tercatat, sepanjang pekan kemarin, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih (nett sell) sebesar Rp1,57 triliun dibandingkan sebelumnya yang melakukan aksi beli bersih (nett buy) senilai Rp803,25 miliar.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, meski menghijau di akhir pekan, turunnya bursa saham AS di akhir pekan sebelumnya berimbas pada negatifnya laju bursa saham Asia, termasuk juga IHSG. Sehingga pelaku pasar pun memanfaatkan kondisi tersebut untuk profit taking. “Tampak saham-saham big caps yang telah menguat sebelumnya mengalami tekanan jual.” jelasnya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Tak ayal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan kemarin mengalami pelemahan 18,59 poin (-0,24%) atau lebih rendah dari sebelumnya yang naik 25,11 poin (0,57%). Beberapa sentimen yang muncul, antara lain rilis hasil pertemuan FOMC yang memulai dilakukannya tappering off mulai awal Februari ini melalui pengurangan pembelian obligasi menjadi US$65 miliar dari sebelumnya US$75 miliar.

Selain itu, nilai tukar upiah juga masih melanjutkan pelemahannya, dan tercatat berada di bawah support Rp12.188. “Perkiraan inflasi yang akan lebih tinggi secara month to month dengan meluasnya musibah alam serta melonjaknya nilai tukar ¥ karena pelaku pasar beralih pada aset yang lebih aman turut berpengaruh pada pelemahan laju nilai tukar rupiah.” tuturnya.

Reza pun memperkirakan, pada pekan depan IHSG akan berada pada rentang support di level 4269-4325 dan resisten di level 4448-4476. Pola IHSG sendiri membentuk pola menyerupai evening star di sekitar middle bollinger bands. MACD naik terbatas dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih uptrend terbatas. “Laju IHSG sempat berada di bawah kisaran target support (4386-4421) sehingga dapat membuka peluang pelemahan jika sentimen yang ada kurang mendukung terjadinya rebound.” ucapnya.

Meski IHSG masih diharapkan menguat, sambung dia, pelaku pasar harus tetap mewaspadai potensi pelemahan jika sentimen yang ada terutama rilis data-data makro Indonesia kurang sesuai dengan estimasi pasar. Beberapa saham yang dapat diperhatikan antara lain SIMP, SCMA, AUTO, SMGR, PNBN, UNVR, ITMG, ASII, KLBF, BBRI, CPIN, MNCN, INCO, GGRM, BBNI, dan AKRA. Selain itu, juga dapat memperhatikan saham LSIP, HRUM, AKRA, MPPA, ITMG, AALI, AISA, PGAS, MAPI, ADRO, SIMP, dan CTRA.

Adapun data-data ekonomi yang selanjutnya akan menjadi perhatian sentimen antara lain NAB business confidence and ex-im price Australia; Balance of trade, retail sales Jepang; HSBC manufacturing PMI China; Consumer and business confidence, industrial production, retail sales, and manufacturing production KorSel; IFO business climate, IFO business expectations, import price, GFK consumer confidence Jerman; ZEW economic sentimen, markit manufacturing PMI, current account, consumer confidence, and markit service PMI di Zona Euro.

Termasuk data ekonomi terkait GDP growth rate and nationwide house price Inggris; Consumer confidence Perancis; Consumer and business confidence Italia; Retail sales Spanyol; Markit service PMI, new home sales, Dallas Fed manufacturing index, durable goods orders, redbook, consumer confidence, chain store sales, and Fed rate decisions Amerika Serikat (AS). (lia)