Pelaku Pasar Khawatirkan Kenaikan Inflasi

NERACA

Jakarta- Sinyal akan dilakukannya tappering off lanjutan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dan melemahnya nilai tukar rupiah seiring ekspektasi inflasi yang masih tinggi dinilai menjadi alasan pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking). Tercatat, sepanjang pekan kemarin, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih (nett sell) sebesar Rp1,57 triliun dibandingkan sebelumnya yang melakukan aksi beli bersih (nett buy) senilai Rp803,25 miliar.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, meski menghijau di akhir pekan, turunnya bursa saham AS di akhir pekan sebelumnya berimbas pada negatifnya laju bursa saham Asia, termasuk juga IHSG. Sehingga pelaku pasar pun memanfaatkan kondisi tersebut untuk profit taking. “Tampak saham-saham big caps yang telah menguat sebelumnya mengalami tekanan jual.” jelasnya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Tak ayal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan kemarin mengalami pelemahan 18,59 poin (-0,24%) atau lebih rendah dari sebelumnya yang naik 25,11 poin (0,57%). Beberapa sentimen yang muncul, antara lain rilis hasil pertemuan FOMC yang memulai dilakukannya tappering off mulai awal Februari ini melalui pengurangan pembelian obligasi menjadi US$65 miliar dari sebelumnya US$75 miliar.

Selain itu, nilai tukar upiah juga masih melanjutkan pelemahannya, dan tercatat berada di bawah support Rp12.188. “Perkiraan inflasi yang akan lebih tinggi secara month to month dengan meluasnya musibah alam serta melonjaknya nilai tukar ¥ karena pelaku pasar beralih pada aset yang lebih aman turut berpengaruh pada pelemahan laju nilai tukar rupiah.” tuturnya.

Reza pun memperkirakan, pada pekan depan IHSG akan berada pada rentang support di level 4269-4325 dan resisten di level 4448-4476. Pola IHSG sendiri membentuk pola menyerupai evening star di sekitar middle bollinger bands. MACD naik terbatas dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih uptrend terbatas. “Laju IHSG sempat berada di bawah kisaran target support (4386-4421) sehingga dapat membuka peluang pelemahan jika sentimen yang ada kurang mendukung terjadinya rebound.” ucapnya.

Meski IHSG masih diharapkan menguat, sambung dia, pelaku pasar harus tetap mewaspadai potensi pelemahan jika sentimen yang ada terutama rilis data-data makro Indonesia kurang sesuai dengan estimasi pasar. Beberapa saham yang dapat diperhatikan antara lain SIMP, SCMA, AUTO, SMGR, PNBN, UNVR, ITMG, ASII, KLBF, BBRI, CPIN, MNCN, INCO, GGRM, BBNI, dan AKRA. Selain itu, juga dapat memperhatikan saham LSIP, HRUM, AKRA, MPPA, ITMG, AALI, AISA, PGAS, MAPI, ADRO, SIMP, dan CTRA.

Adapun data-data ekonomi yang selanjutnya akan menjadi perhatian sentimen antara lain NAB business confidence and ex-im price Australia; Balance of trade, retail sales Jepang; HSBC manufacturing PMI China; Consumer and business confidence, industrial production, retail sales, and manufacturing production KorSel; IFO business climate, IFO business expectations, import price, GFK consumer confidence Jerman; ZEW economic sentimen, markit manufacturing PMI, current account, consumer confidence, and markit service PMI di Zona Euro.

Termasuk data ekonomi terkait GDP growth rate and nationwide house price Inggris; Consumer confidence Perancis; Consumer and business confidence Italia; Retail sales Spanyol; Markit service PMI, new home sales, Dallas Fed manufacturing index, durable goods orders, redbook, consumer confidence, chain store sales, and Fed rate decisions Amerika Serikat (AS). (lia)

BERITA TERKAIT

BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25% - DAMPAK KENAIKAN SUKU BUNGA THE FED

Jakarta-Meski Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya 0,25%, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse…

Perusahaan Bisa Manfaatkan Pasar Modal - Danai Ekspansi Bisnis

NERACA Jakarta - Besarnya likuiditas di pasar modal, tentunya bisa dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk mendanai ekspansi bisnisnya jangka panjang…

Pasar Apartemen Tetap Tumbuh di Tahun Politik

NERACA Jakarta –Meskipun tahun depan dihantui sentimen politik, para pelaku properti menyakini industri properti masih tetap positif. Apalagi, properti masih…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…