Bahaya Laten Bunga Tinggi

Oleh : Serian Wijatno

Profesional Keuangan, Alumni MMUI

Sinyal Bank Indonesia menerapkan kebijakan rezim suku bunga tinggi sudah jelas terlihat. Ini saat BI dengan waktu relatif lebih cepat menaikkan suku bunga BI Rate hingga 175 basis poin menjadi 7,5% dari semula 5,75%. Respon pasar pun sepertinya sangat berlebihan, karena sejumlah bank secara serentak menaikkan suku bunga simpanan yang lebih tinggi.

Kalangan perbankan yakin bahwa BI melakukankebijakan uang ketat (tight money policy). Ini kebijakan Gubernur BI Agus Martowardojo yang menggunakan instrumen suku bunga sebagai alat pengendalian moneter. Berbeda ketika zaman Darmin Nasution yang menerapkan strategi suku bunga rendah untuk melakukan intervensi.

Lihat saja, belakangan ini BI lebih membiarkan rupiah menuju keseimbangan baru dengan menaikkan suku bunga dan tanpa melakukan banyak intervensi. Sementara kebijakan sebelumnya lebih banyak menggunakan masuk ke pasar agar rupiah tidak bergerak liar dan membiarkan suku bunga rendah.

Pertanyaannya, cukup efektifkah kebijakan suku bunga tinggi ini untuk mengobati defisit neraca pembayaran yang menjadi penyakit kronis ekonomi Indonesia? Para pengamat menyebut kebijakan BI ini seperti salah obat, karena penyakitnya adalah di sisi fiskal, tapi mengobatinya dengan kebijakan moneter tanpa melihat efek terhadap sektor perbankan dan dunia usaha.

Kebijakan BI menaikkan suku bunga ini tidak salah obat, karena dengan kebijakan ini berfungsi melakukan pengereman kredit, sehingga tidak dibuat spekulasi dan sekaligus secara tidak langsung dapat membatasi impor yang selama ini juga menjadi beban berat neraca perdagangan Indonesia. BI berkeyakinan dengan membatasi kredit secara tidak langsung membatasi impor, karena semakin besar pertumbuhan ekonomi ternyata juga membuat posisi impor juga tinggi.

Jadi, kebijakan ini dilakukan untuk mengerem laju pertumbuhan dan pada akhirnya juga akan memperkecil defisit transaksi perdagangan yang pada akhirnya mengurangi defisit transaksi berjalan. Hanya, yang perlu diwaspadai adalah masih tetap tingginya impor bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Impor BBM sepertinya sulit dibatasi karena sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah yang cukup besar, sehingga dibutuhkan barang konsumsi yang juga besar, yang ternyata sebagian besar juga impor. Subsidi BBM inilah juga yang menjadi bom waktu perekonomian Indonesia.

Rezim suku bunga tinggi ini diyakini oleh para pelaku perbankan bisa berjalan dalam kurun yang relatif lama hingga awal 2015, karena faktor dalam negeri dan global. Namun, yang paling penting BI tidak overdosis menaikkan suku bunga.

BERITA TERKAIT

Bahaya Jejak Digital Teroris di Media Sosial

Oleh: Hanni Sofia Sedikit yang menyadari bahwa jika ditelisik lebih lanjut, ada pola-pola khusus yang terbentuk di media sosial sebagai…

Dirut BEI Berharap Suku Bunga Tetap - Dinilai BI Melewatkan Timing

NERACA Jakarta – Buntut terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menyusul sentimen global The Fed Rate, memberikan sentimen negatif…

BI Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Bps

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" sebesar 25 basis…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kawasan Produksi dan Pasar

Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Industri dan Perdagangan Apakah ini yang akan kita bentuk sebagai episentrum kedigdayaan ekonomi Indonesia di masa…

Kurangi Ketergantungan pada US$

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Kurs rupiah mencapai titik terendahnya setelah 2015. Pada awal bulan ini rupiah mencapai Rp14.100…

Defisit dan Kerugian Besar

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Mendengar kata defisit, rasanya akan banyak pihak yang resah atau galau.…