Asing Siap Libas Pasar Industri Keuangan Indonesia - Kalah Teknologi Informasi

NERACA

Jakarta – Bila industri keuangan negara Asia lainnya sudah siap menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015, sebaliknya industri keuangan dalam negeri masih gagap. Tengok saja, dari teknologi keuangan, industri keuangan dalam negeri tertinggal jauh dibandingkan Singapura paling siap dan bahkan berada di peringkat ke-dua di dunia. Sementara Malaysia ada diposisi 30 dan Indonesia masih jauh di posisi 76.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM)Sri Adiningsih mengakui,daya saing industri keuangan di Indonesia dalam sistem tekhnologi dan informasi tertinggal jauh dan masih sangat rendah. Faktanya, banyak masyarakat yang masih sangat minim gunakan jasa keuangan,“Jangankan untuk masuk pada tekhnologi keuangan, masyarakat yang memiliki rekening bank saja masih sedikit,” katanya saat dihubungi Neraca di Jakarta, Rabu (29/1).

Dia menilai, sampai dengan saat ini masyarakat Indonesia yang memiliki rekening perbankan saja masih di bawah kisaran 30% dari jumlah masyarakat Indonesia. Harusnya perbankan sudah bisa lebih meningkatkan layanan nya ke seluruh pelosok, agar masyarakat bisa tergugah untuk masuk dalam sektor perbankan.

Dirinya pun mengakui, bila saat ini perbankan asin dan perbankan nasional yang dimiliki asing sangat agresif dan memiliki jaringan serta tekhnologi yang lebih baik. Jika bank nasional, khususnya bank-bank BUMN tidak segera memperbaiki tekhnologi dan jaringannya maka akan terasa sulit mengimbangi. “Disamping jaringan dan tekhnologi yang kuat, produknya juga makin meluas, jika bank nasional milik pemerintah tidak mau memperbaiki maka pasarnya bisa diambil,” paparnya.

Kemudian mengadapi Asean Economic Community (AEC) 2015 nanti, bank-bank Asean seperti bank Singapura maupun Malysia masuk semua, jika tidak berbenah diri akan terasa sulit bersaing dengan mereka. “Pemerintah, maupun perbankan sudah harus mulai membuat pemetaan perbaikan keuangan nasional, jika tidak AEC 2015 hanya bisa menjadi penonton, karena sudah diambil semua oleh asing,” tegasnya.

Sementara menurut Dirketur Artajasa, Hendra Januar, tantangan yang dihadapi industri keuangan dalam negeri menghadapi AEC adalah teknologi informasi dan keuangan, “Kalau hal ini dapat terjawab setidaknya Indonesia dipastikan bisa bermain di ajang tersebut,”ujarnya.

Dia menjelaskan, teknologi informasi dan keuangan di Indonesia belum berkembang pesat. Padahal, kedua hal ini dianggap mampu menjawab segala hambatan transaksi yang selama ini masih di dominasi melalui pembayaran tunai. Sedangkan penetrasi perbankan baru mencapai 20% dari seluruh transaksi di Indonesia baik domestik maupun internasional.

Belum Teredukasi

Selain itu, kesiapan teknologi informasi juga menjawab berbagai macam keluhan dari masyarakat di kemudian hari dalam hal transaksi keuangan. Kata Hendra, kesiapan teknologi informasi dan keuangan ini dianggap penting mengingat dari 250 juta warga Indonesia belum tentu semuanya teredukasi dan terampil dalam melakukan pembayaran yang bersifat institusional.

Sedangkan pembayaran tunai selama ini kerap menimbulkan masalah seperti potensi kehilangan, perampokan dan uang rusak. Tercatat penetrasi transaksi melalui perbankan selama ini juga baru mencapai 20% dan sisanya sebanyak 80% dilakukan secara tunai.

Selain itu, Hendra juga menegaskan, pemantapan teknologi informasi dan keuangan merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Sebab dalam menghadapi tantangan MEA itu masyarakat memang harus teredukasi dalam hal penggunaan uang yang berteknologi. Bahkan produk-produk perbankan dan non bank dalam negeri sudah mulai gencar merebutkan pasar oleh negara tetangga,”Bila tidak, bisa jadi masyarakat di pelosok nanti lebih kenal bank dan mata uang asing dibanding bank dan mata uang dalam negeri.”tandasnya.

Untuk itu Hendra menekankan agar semua stakeholder keuangan dan regulator segera mempererat koordinasi. Pada kesempatan yang sama Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krishnamurti mengaku pemerintah akan segera membahas masalah ini. Pasalnya kontribusi perbankan yang baru mencapai 20% dari seluruh transaksi di Indonesia baik domestik maupun international masih terbilang minim. Padahal di era kemajuan teknologi saat ini seharusnya Indonesia bisa jauh lebih besar dari itu.“Di Eropa atau Amerika orang biasa saja sudah menganggap purba transaksi melalui kartu kredit. Sebab teknologi mereka memang sudah maju dan masyarakatnya juga teredukasi oleh literasi keuangan. Jadi sebetulnnya transaksi lewat perbankan yang seperti selama ini kita lakukan itu boleh dibilang sudah kuno,” ungkap Bayu.

Bahkan Bayu mengatakan potensi perdagangan Indonesia di ASEAN terbilang tinggi. Bahkan begitu tingginya, Bayu mengklaim bisa memperbaiki current account deficit (CAD) yang selama ini diderita. “Dari sektor perdagangan jasa saja bisa sebesar U$215 miliar per tahun. Bahkan khsusus asuransi kita bisa dapat inflor sampai US$24 juta per tahun. Kalau saja kita bisa segera memperbaiki sistem teknologi transaksi kita maka dapat dipastikan ada perbaikan pada CAD,” pungkasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan rangkin internasional, Singapura sudah menduduki posisi ke 2 di dunia. Kemudian Malaysia ada diposisi 30 dan Indonesia masih jauh di posisi 76. Ironisnya, Brunei Darussalam yang tidak jelas mau jadi pemain atau penonton masih ada di atas Indonesia, tepatnya berada di ranking 57. (agus, lulus)

Related posts