Wacana PGN Merger Bikin Banyak Mudharat - Pertamina Tidak Lagi Efisien

NERACA

Jakarta – Wacana PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) merger dengan anak usaha Pertamina, PT Pertamina Gas (Pertagas) menuai banyak kritikkan. Pasalnya, selain merugikan saham PGN juga merugikan investor ritel. Tidak hanya itu, wacana ini dinilai banyak mudharatnya karena membuat Pertamina tidak efisien.

Direktur Pengkajian Energi Universitas Indonesia (UI), Iwa Garniwa menilai, kinerja PT Pertamina (Persero) selama ini memprihatinkan dibandingkan dengan perusahaan migas milik negara lain yang umurnya lebih muda.,”"Pertamina seberapa besar keberhasilan mereka menunjang industri migas ini? Kemajuannya memprihatinkan dibandingkan dengan negara lain yang umurnya lebih muda," katanya di Jakarta, kemarin.

‪Saat ini, kata dia, Pertamina bisa dianggap broker tanpa mampu membangun ladang-ladang minyak baru. Yang ada hanya kerja sama dengan pihak luar. Sehingga target lifting minyak tidak tercapai. ‪Menurutnya, Pertamina saat ini menjadi agen pembangunan yang tergantung pada investor asing.

Pemerintah bisa memberikan petroleum fund kepada Pertamina untuk mampu membangun infrastruktur serta mampu mengeksploitasi ladang baru atau lama. ‪Kemudian menjadi janggal, lanjut Iwa, malah kemudian diwacanakan Pertamina mengakuisisi PGN. "Hal ini akan semakin tidak efisien bagi Pertamina. Menurut saya lebih tepat bahwa Pertamina mengurusi minyak, PGN mengurusi gas, PLN mengurusi Listrik dan di bawah naungan kementerian BUMN dan ESDM bersinergi demi kepentingan bangsa dan sebagai agent pembangunan," tuturnya.

Selain itu, isu akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk oleh Pertamina, tak hanya membuat saham PGN terjun bebas. Pemilik saham publik yang notabene BUMN seperti Jamsostek yang kini berganti nama menjadi BPJS Ketenagakerjaan juga ikut menanggung rugi karena harga saham terus anjlok.

PT Jamsostek saat ini memiliki 525.817.000 lembar saham PGAS. Pada 24 Oktober 2013, saham PGAS ditutup di level Rp5.450 per saham. Kemudian, pada 27 Januari 2014, saham PGAS anjlok di level Rp4.560, maka terjadi kerugian sebesar Rp890 per lembar saham. Jika dikalkulasikan, maka kerugian Jamsostek sebesar Rp890 per lembar saham dikalikan jumlah saham Jamsostek di PGAS yang sebanyak 525.817.000 lembar saham, berarti total kerugian menjadi Rp467, 98 miliar. Sebelumnya, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartarto menuding, ada pihak-pihak yang memanfaatkan penurunan tajam saham tersebut,”Ini operasi pasar agar ada pihak yang memperoleh keuntungan," ujar Airlangga.

Tidak hanya itu, dirinya juga menilai, statement Menteri BUMN Dahlan Iskan soal akuisis tersebut juga menjadi penyebab terus terkoreksinya saham PGN. Padahal tanpa statement Dahlan itu harga saham PGN mahal dan sebaliknya dengan statement itu harga saham jadi murah. (bani)

Related posts