Tahun 2013, Laba Hexindo Turun 65,21%

NERACA

Jakarta –Perusahaan alat berat, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) hingga akhir kuartal III tahun fiskal 2013, yang berakhir 31 Desember 2013 mencatat penurunan laba tahun berjalan sebesar 65,21% menjadi US$ 16,91 juta dibanding periode yang sama 2012 senilai US$ 48,61 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, penurunan laba diakibatkan menurunnya penghasilan bersih sekitar 28,12% menjadi US$ 342,8 juta dibanding tahun sebelumnya US$ 476,90 juta. Sementara perseroan berhasil menekan beban pokok penghasilan menjadi US$ 286,13 juta dari US$ 375,85 juta, sehingga laba kotor perseroan pada akhir tahun lalu menjadi US$ 56,68 juta. Angka ini 43,91% lebih rendah dibanding 2012 sebesar US$ 101,05 juta.

Di samping mampu menekan beban pokok penjualan, perseroan juga berhasil menekan beban penjualan menjadi US$ 18,11 juta dari US$ 20,69 juta, beban umum dan administrasi menjadi US$ 14,7 juta dari US$ 16,31 juta. Selain itu, HEXA mampu menaikkan pendapatan operasi lainnya menjadi US$ 2,04 juta dari US$ 1,50 juta. Namun, beban operasi lainnya meningkat menjadi US$ 3,26 juta dari US$ 679,04 ribu.

Sebagai informasi, sebelumnya perseroan menurunkan target volume penjualan sampai dengan akhir tahun fiskal 2013 sebesar 4,9%. Realisasi penjualan alat berat tahun lalu sebanyak 2.820 unit, sementara target tahun 2013 2.680 unit.

Kata Direktur PT Hexindo Adiperkasa Tbk, Syamsu Anwar, melemahnya nilai tukar rupiah dan anjloknya harga batu bara menjadi pemicu perseroan terpaksa memangkas target capaian penjualan sepanjang 2013. Turunnya target volume penjualan juga dibarengi dengan turunnya target penjualan.

Di mana Hexindo hanya optimis meraih target penjualan sebesar US$ 561 juta, padahal pada proyeksi sebelumnya perseroan menargetkan dapat meraih angka penjualan sebanyak US$ 633 juta,”Target penjualan tahun 2013 sebesar US$ 561 juta dengan volume penjualan sebanyak 2.680 unit," kata Syamsu Anwar.

Seakan belum cukup terbebani dengan dampak langsung pelemahan rupiah, HEXA juga harus menerima efek samping pil pahit karena impact dari anjloknya harga jual batu bara. Bagaimana tidak, sektor mining industries yang seharusnya dapat menyumbang hampir 20% dari penjualan pada tahun 2013 malah melempem. (bani)

BERITA TERKAIT

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…

Sikapi Kasus Pemalsuan Deposito - BTN Yakinkan Nasabah Kondisi Kinerja Masih Solid

NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyatakan perseroan dalam kondisi kinerja yang solid dengan performa perusahaan…

ADHI Catatkan Kontrak Baru Rp 6,8 Triliun

NERACA Jakarta – Sampai dengan Agustus 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp6,8 triliun.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PLN Terbitkan Surat Utang Rp 5,7 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggalang dana hingga Rp 5,7 triliun dari penerbitan surat…

Bidik Pasar Ekspor Timor Leste - Japfa Targetkan Volume Ekspor 1000 Ton

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan pasar ekspor, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke…

Pendapatan Merdeka Copper Naik 66,95%

NERACA Jakarta - Emiten pertambangan logam, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengantongi pendapatan US$191,77 juta pada semester I/2019 atau…