Jual Bank Mutiara Dipaksakan dan Tidak Realistis - HARGA Rp 6,7 TRILIUN DINILAI MAHAL

NERACA

Jakarta – Keyakinan pemerintah jika kondisi sudah sangat sehat, kini menjadi alasan utama untuk menjual PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) atau yang dulu dikenal Bank Century. Namun dari beberapa kali ditawarkan kepada investor, ternyata bank tersebut masih sepi dari peminat karena faktor harga dinilai terlalu mahal.

Menurut ekonom dan pengamat perbankan FEUI Aris Yunanto menilai skeptis bila bank Mutiara ingin dipinang investor, jika harga yang ditawarkan masih bertahan di level Rp 6,7 triliun. “Harga yang ditawarkan pemerintah untuk menjual bank itu terlalu tinggi, mengingat harga buku bank tersebut masih sangat rendah,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (25/7).

Seharusnya, menurut dia, pemerintah harus menyakinkan terlebih dahulu kondisi bank Mutiara sebelum di jual. Karena bagaimanapun juga, publik semua tahu, lembaga keuangan yang berasal dari Bank Century itu, beberapa tahun lalu telah membuat kepercayaan nasabah turun. “Penurunan kepercayaan itu jelas berdampak pada penurunan perkiraan aset yang akan diperoleh ke depan yang berarti nilai bukunya menjadi rendah. Jadi harga jual Rp 6,7 triliun sangat tidak realistis,”tegasnya.

Aris mengatakan, sewajarnya bank Mutiara dihargai Rp 5 triliun saja. Sebab, secara manajemen maupun kinerja juga belum terlalu baik. Ditambah lagi, kepercayaan nasabah terhadap bank itu belum kembali. "Bisa di bilang, bank Mutiara polesannya belum bagus. Masih banyak yang perlu di benahi, terutama mengembalikan kepercayaan nasabah."tandasnya.

Dia mengingatkan, sebaiknya pihak Bank Mutiara melakukan efisiensi dalam penyelenggaraan perusahaan. Dengan membuktikan kemampuannya mengelola dana pihak ke tiga, obilgor, serta menangani debitur dengan baik, maka kepercayaan nasabah akan kembali. "Baiknya dalam penyelenggaraan perusahaannya bank Mutiara melakukan efisiensi. Saat ini kan posisi non-performing loan (NPL) rendah, sedangkan deposit rasio tinggi, pengelola Mutiara tunjukkan bagaimana menormalkannya. Jika berhasil, pasti pembeli akan tertarik untuk mengambil bank tersebut,”ujarnya.

Bagaimanapun juga, pembeli masih melihat ada prospek bank swasta itu, karena berhasil mengembalikan kepercayaan nasabah dan berhasil mengelola asetnya.

Hal senada juga disampaikan, Chief Economist Dana Reksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan, harga penawaran Bank Mutiara oleh LPS sebesar Rp6,7 triliun saat ini masih terlalu mahal. Meski mengaku lupa price to book value (PBV) Bank Mutiara, Purbaya yakin harga PVB (harga wajar) eks Bank Century itu masih jauh di bawah angka Rp6,7 triliun.

"Tantangannya adalah bagaimana LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) bisa secepatnya menyehatkan Bank Mutiara. Kalau kredibilitasnya bisa diperbaiki, bukan mustahil bank itu akan terjual lebih dari angka Rp6,7 triliun," ujar Purbaya.

Purbaya mengaku yakin, Bank Mutiara akan bisa terjual mengingat pertumbuhan perbankan selalu seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut dia, ekonomi Indonesia akan cemerlang hingga 2016. Sejak LPS mengambil alih (2009)hingga 2015 merupakan ruang yang luas untuk mencapai harga Rp6,7 triliun yang ditetapkan LPS.

"Ke depan BI (Bank Indonesia) akan menerapkan aturan pembatasan pendirian bank baru, melalui izin pendirian bank baru yang sangat mahal. Kalau itu diterapkan, asing akan kesulitan masuk. Dan Bank Mutiara bisa jadi alternatif asing untuk dibeli. Kalau memang lokal tidak mau beli karena kemahalan, ya nggak apa-apa kalau nanti dibeli pihak asing," jelas Purbaya.

Sulit Terjual

Pandangan yang sama juga disampaikan pengamat perbankan Paul Sutaryono yang menyampaikan, sulit bagi Mutiara bisa terjual cepat. Pasalnya publik masih trautma kasus dibawa larinya dana nasabah oleh pemiliknya. “Kalau untuk target dibeli dengan harga 6,7 triliun sangat sulit sekali dicapai oleh pasar,karena mereka masih trauma dengan kejadian bank yang lalu yaitu bank century,untuk penjualan ditahun ini saya rasa sangat sulit sekali,”tegasnya

Oleh karena itu, dia menilai perlu waktu untuk menjual bank tersebut dan mungkin bisa mencapai beberapa tahun lagi. Maka, menjelang waktu yang tepat menjual, langkah yang pertama dilakukan harus meningkatkan kinerjanya dahulu. Karena, hal ini paling utama. “Setiap pembeli akan melihat kinerja dari bank tersebut,bagus atau tidak ini penilaian dari pasar,”paparnya.

Kemudian, pihak bank itu harus rajin melakukan road show atau perkenalan diri dengan negara negara luar negeri,karena kalau hanya mengandalkan pembeli dari dalam negeri sangat sulit. Pasalnya, track record dari bank yang dahulu jelek.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang pernah berencana membeli bank itu namun urung dilakukan, karena harga yang ditawarkan dinilai mahal. Dirut BNI Gatot M Suwondo mengatakan, harga Bank Mutiara saat ini sudah terlalu mahal, dibandingkan saat bank itu masuk LPS harganya sekitar Rp4 triliun.

Sementara Wakil Ketua Komisi III DPR Fahri Hamzah pernah mengatakan, rencana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjual Bank Mutiara seharusnya tidak meng­ganggu proses recovery aset Bank tersebut. Kasus Bank yang sebe­lum­nya bernama Bank Cen­tury ini ma­sih dibahas dalam Panitia Khusus Bank Century (Pansus Century) di DPR. “Rencana tersebut sah-sah saja jika uang negara bisa dikembali­kan,”tegasnya. iwan/vanya/munib/bani

BERITA TERKAIT

Indonesia Dinilai Tak Alami Bubble Sektor Properti

      NERACA   Jakarta - CEO dan pendiri perusahaan pengembang Crown Group, Iwan Sunito, mengatakan, Indonesia tidak mengalami…

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten'

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten' NERACA Serang - Bank Pembangunan Daerah Banten (Bank Banten) selaku Bank milik pemerintah…

MKNT Kantungi Restu Gelar Rights Issue - Butuh Modal Rp 1,2 Triliun

NERACA Jakarta - Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), perusahaan telekomunikasi berbasis digital PT Mitra Komunikasi Nusantara…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

KINERJA 3 TAHUN PEMERINTAHAN JOKOWI-JK - Infrastruktur, Harga Pangan dan Bansos Diklaim Membaik

  NERACA Jakarta – Pemerintah kabinet kerja genap berumur tiga tahun. Selama tiga tahun dalam kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan…

Ekonom: Larangan Transportasi Online Berdampak Negatif

Jakarta-Ekonom UI Berly Martawardaya menilai, penolakan yang berujung pelarangan pada transportasi online berdampak negatif pada perekonomian. Sebab, mata pencaharian ratusan…

MASYARAKAT DIMINTA HATI-HATI BERTRANSAKSI BITCOIN - BI: Bukan Alat Pembayaran Sah di RI

Jakarta-Bank Indonesia menegaskan Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran yang sah untuk digunakan di Indonesia. Masyarakat diminta untuk tidak memakai Bitcoin…