Hadapi MEA 2015, Sektor Jasa Minim Persiapan

NERACA

Jakarta – Menjelang datangnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, kesiapan Indonesia masih minim. Salah satu penyebabnya adalah defisit neraca perdagangan akibat perdagangan jasa yang masih defisit. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan defisit neraca jasa terlampau besar.

Bayu mencontohkan untuk eskspor jasa transportasi pada 2012 sebesar US$3,8 miliar namun impor jasa sektor yang sama mencapai US$12,5 miliar. “Angka defisit itu sangat harus kita perhatikan. Salah satu tantangan (MEA) adalah menjaga defisit di bidang jasa,” kata Bayu di Jakarta, Rabu (29/1).

Kondisi miris juga dialami, misalnya di neraca jasa asuransi. Ekspor asuransi dari Tanah Air US$24 juta, tapi impor produk asuransi mencapai US$1 miliar. Data 2012 itu menurut Bayu bisa memburuk menjelang pelaksanaan MEA. “Dari sudut defisit, mungkin ekspor jasa kita naik sedikit, tapi impor kita akan tetap meningkat,” cetusnya.

Dari catatan Kemendag, kesiapan Indonesia menghadapi MEA baru 83%. Mayoritas 17% persoalan ada di sektor jasa. Sedangkan total perdagangan intra ASEAN untuk jasa, nilainya US$44 miliar, dan antara ASEAN dengan negara lain mencapai US$215 miliar.

Untuk mengejar ketertinggalan di bidang jasa, Bayu menuturkan sudah ada beberapa langkah untuk memperkuat basis industri jasa dalam negeri. "Ini memang tidak mudah, jasa itu komplek, bidangnya di mana-mana. Salah satu kebijakan teknis kita adalah standarisasi layanan termasuk sertifikasi profesi," urainya.

Dikuasai Asing

Ketua Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty mengatakan industri jasa termasuk sektor yang rawan dalam kaitannya dengan MEA 2015. “Itu semua bisa dilihat dari laju defisit transaksi perdagangan jasa yang tidak kunjung membaik dari tahun ke tahun karena banyak dikuasai oleh asing,” ujarnya.

Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal III/2013 sebanyak US$8,45 miliar atau 3,8% dari produk domestik bruto (PDB), turun dari kuartal II/2013 yaitu US$9,9 miliar atau 4,4% dari PDB. Salah satu tekanan terbesar dari defisit transaksi berjalan adalah membengkaknya impor migas. Penurunan defisit transaksi berjalan didukung oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas dan berkurangnya defisit neraca jasa dan pendapatan.

Walaupun terdapat perbaikan pada neraca jasa, tetapi defisit transaksi jasa hanya menurun tipis dari US$3,12 miliar menjadi US$2,61 miliar. “Contohnya kelas menengah kita yang lebih suka berwisata ke luar negeri dibandingkan negeri sendiri,”ucapnya.

Dia mengakui sektor industri jasa pariwisata Indonesia memang masih kalah dibandingkan rata-rata negara Asean lainnya, terutama jika dilihat dari ketersediaan infrastruktur, dan sistem transportasi yang memadai.

Selain sektor jasa, dia juga menggarisbawahi kesiapan RI di sektor keuangan dan tenaga kerja professional. Seiring dengan kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan BI, dia khawatir hal tersebut dapat menurunkan sisi kompetitif perbankan Indonesia. “Rata-rata suku bunga Asean sekitar 3%, kalau itu dinaikkan terus-menerus jangan salahkan pengusaha swasta pinjam di CIMB Singapura, Krungthai Bank di Thailand yang bunganya di bawah itu,“ tegasnya.

Tidak kalah pentingnya, MEA 2015 akan membuat mobilisasi pekerja asing bergerak bebas di Indonesia yang tentunya akan mengancam posisi tenaga kerja dalam negeri. “Intinya kita harus memperjelas mutual recognition agreement (MRA) sehingga ada mekanisme khusus bagi pekerja asing yang ingin masuk Indonesia,” tekannya.

Dia mencontohkan, misalnya profesi dokter harus dilengkapi sertifikasi dari Ikatan Doketr Indonesia (IDI) dan berbahasa Indonesia. Hingga saat ini, hanya beberapa daerah saja yang sadar akan pemberlakuaan MEA pada 2015, contohnya Bali.“Gubernur Bali mulai menyiapkan peraturan daerah yang mewajibkan setiap turis asing di Bali harus menguasai bahasa Bali,” jelasnya.

Kesadaran yang rendah akan MEA yang segera diberlakukan pada 2015 juga dikhawatirkan Telisa yang merupakan salah satu dari anggota tim MEA 2015 di Bappenas. “Khususnya daerah perbatasan, ini cukup rawan. Belum ada persiapan dan sosialisasi yang mendalam mengenai MEA di daerah perbatasan, apalagi daya saing tenaga kerja di sana bisa dibilang amsih rendah,” ungkapnya.

Sementara itu, pengajar senior Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) Universitas Indonesia Nuzul Achzar berpendapat Indonesia harus mulai bertransformasi dari jasa konsumsi seperti retail dan laundry ke jasa produksi misalnya logistik, jasa akuntasi, dan finansial. “Justru potensi penggerak perekonomian kita berada pada jasa produksi, bukan jasa konsumsi,” katanya. Menurutnya, Indonesia harus mencontoh Singapura yang sebagian besar perekonomiannya ditopang oleh sektor jasa produksi.

Namun demikian, Direktur Perundingan Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan (Kemendag), Sondang Anggraini mengatakan, ada empat sektor jasa yang menjadi prioritas dalam perdagangan bebas ASEAN nantinya. Sektor jasa tersebut antara lain logistic services, e-Asean, pariwisata dan kesehatan.

Untuk sektor logistic services terdiri dari maritime cargo handling services, storage warehousing services, freight transport agency services, packaging service, courir services dan lain-lain. Untuk sektor e-ASEAN terdiri dari computer and related services dan communication services. Untuk sektor pariwisata seperti hotel, restoran, agen perjalanan, pemandu wisata dan lain-lain. Sedangkan untuk sektor kesehatan seperti pelayanan rumah sakit, perawat, fisioterapis dan lain-lain.

Related posts