Reksa Dana Saham Jadi Produk Unggulan Mandiri Investasi - Perluas Pasar Malaysia dan Hongkong

NERACA

Jakarta – Menargetkan pertumbuhan dana kelolaan hingga 40%, PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) berencana menerbitkan produk baru. Selain itu, perseroan cukup optimis akan mencapai target tersebut berlandaskan pada proyeksi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini yang diperkirakan dapat menembus dikisaran 4.700-5.000.

Sementara indikator lainnya nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp11.000, dan Inflasi sekitar 5-6%,”Sedangkan BI rate semester satu ini akan naik 25 bps dan akan kembali turun di semester kedua”, ujar Direktur Utama MMI Muhamad Hanif di Jakarta, Rabu (29/1).

Dia juga menyebutkan, tahun lalu pihaknya berhasil mengantungi dana kelolaan sebesar Rp19,3 triliun. Sementara hingga saat ini posisi dana kelolaan telah mencapai Rp21,4 triliun. Hingga saat ini porsi dana kelolaan MMI masih berimbang antara ritel dan korporasi.

Namun, untuk memperbesar porsi ritel, MMI menjual produknya hingga ke Malaysia dan Hongkong,”Kami inginnya produk baru berupa reksadana saham, tetapi belum diputuskan, jadi belum bisa disebutkan apa jenis produk baru kami”, katanya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama pihak MMI menggandeng anak muda untuk berinvestasi melalui program 'Investasi Selagi Muda'. MMI menilai, investasi sangat penting karenadapat memenuhi kebutuhan di masa mendatang,”Secara detil, investasi untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi muda-mudi dalam melakukan investasi, khususnya di reksadana”, ungkapnya.

Dia mencontohkan, ketika krisis 2008 posisi IHSG turun dari 2.700 ke 1.200. Yang artinya secara jangka panjang investasi sangat menarik, jika melihat posisi indeks saat ini. Untuk itu, para pemula tidak perlu khawatir ketika kondisi indeks sedang dalam tren penurunan. “Karena secara tujuan, investasi dilakukan untuk jangka panjang. Harga saham tidak seperti barang lainnya, karena setiap orang masing-masing mempunyai harganya tersendiri, sehingga pergerakannya naik turun”, jelasnya.

Sebelumnya, pihak induk usaham MMI, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyebutkan bahwa pada tahun 2014 ini MMI berniat melakukan ekspansi untuk membuka kantor cabang di Dubai. Direktur PT Bank Mandiri Tbk Hery Gunardi mneyebutkan, tujuan MMI membuka cabang di Dubai unutk menggaet nasabah lagi.“Hingga saat ini memang masih dalam tahap persiapan. Namun, potensi Dubai sebagai kawasan pusat bisnis sangat besar dan itu yang akan dilirik Bank Mandiri. Dubai cukup potensial dalam segi bisnis, jadi kami fokus saja untuk kembangkan bisnis dan jual produk keuangan”, jelasnya.

Sebelumnya MMI sudah memiliki izin untuk menjual produknya di Singapura. MMI memang terlihat semakin gencar memasarkan produk keuangan di pasar internasional. Salah satunya menargetkan 2 perusahaan untuk mnerbitkan obligasi ringgit di Malaysia.

Penerbitan ini merupakan kelanjutan kerjasama MMI dengan perusahaan investasi asal Malaysia, RHB Investment Bank Berhad (RHBIB). PT Mandiri Sekuritas telah membidik setidaknya 2 perusahaan asal Indonesia untuk melakukan penerbitan obligasi yang nantinya akan dikonversi ke dalam mata uang ringgit. Adapun dalam penerbitannya nanti, nilai yang diharapkan bisa mencapai Rp1 triliun untuk masing-masing perusahaan.

Direktur Investment Banking Mandiri Sekuritas Iman Rachman menyebut, setidaknya sudah ada dua perusahaan yang tengah dibidik perseroan untuk dapat ambil bagian dalam proyek tersebut. Dalam penerbitannya, sukuk akan tetap diterbitkan dalam bentuk rupiah atau pun dolar AS, namun karena pembelinya orang Malaysia, akan dikonversi oleh pihak RHBIB dalam bentuk ringgit. Sehingga diharapkan lebih mudah diserap pasar Malaysia. (nurul)

Related posts