Jembatan Timbang, Nasibmu Kini..

Sabtu, 01/02/2014

Jembatan Timbang, Nasibmu Kini..

Keberadaan timbang diyakini mampu mengontrol beban kendaraan angkutan yang diizinkan beroperasi di jalan raya. Sebab, banyaknya kendaraan angkut yang melebihi kekuatan atau kapasitas beban jalan, telah menjadi penyebab utama kerusakan jalan sebelum usianya.

Namun, keberadaan jembatan timbang mendapat komentar sinis dari masyarakat karena seringnya menjadi ajang pemerasan atau pungutan liar (pungli) bagi kendaraan berat yang tak boleh jalan karena kelebihan beban yang diizinkan. Hingga akhirnya, banyak pihak menuntu agar jembatan timbang dihapus. Bahkan, sudah ada areal jembatan timbang yang telah disulap menjadi rest area yang nyaman.

Padahal, lihat saja berapa banyak kendaraan angkutan yang terkena tilang karena kelebihan beban. Contohnya, jembatan timbang di Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dari data yang tercatat di sana, rata-rata tiap bulan berhasil menindak sekitar seribu unit kendaraan. Bahkan, sebetulnya kendaraan yang bisa dikenai tilang lebih banyak lagi. Masalahnya, sesuai aturan, kendaraan yang sudah kena tilang karena kelebiha beban di satu jembatan tilang, tak bisa ditilang di jembatan tilang berikutnya sampai proses pengadilan berkekuatan hukum tetap.

Dasar Hukum

Dasar Hukum pengoperasian jembatan timbang adalam keputusan Menteri Perhubungan Nomor 5 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Penimbangan Kendaraan Bermotor di Jalan. Jembatan timbang diperlukan sebagai fungsi pemantauan terhadap banyaknya kendaraan angkut yang kelebihan beban.

Persoalan yang saat ini muncul adalah banyaknya jembatan timbang yang kapasitas ukurnya jauh lebih kecil dari pada beban kendaraan angkut yang diperiksa. Juga jembatannya yang pendek hingga tak mampu menimbang seluruh badan kendaraan tersebut.

Fungsi penindakan

Jembatan timbang juga mempunyai fungsi penindakan. Pemerintah memberikan toleransi kelebihan beban. Slebihnya harus diturunkan dan ditampung di tempat penampungan di area jembatan timbang.

Jenis jembatan

Pertama, Jembatan timbang konvensional. Jembatan timbang konvensional terdiri dari suatu platform untuk menimbang seluruh kendaraan beserta muatannya, sehingga dibutuhkan platform sepanjang 10 meter sehingga keseluruhan as roda truk rigid dapat berada dalam platform, sedang untuk gandengan dan tempelan biasanya ditimbang terlebih dahulu truk penarik kemudian baru dilakukan penimbangan terhadap kereta gandengan atau kereta tempelannya. Kedua, Jembatan timbang sumbu, yaitu timbangan yang menimbang muatan sumbu, dimana masing-masing sumbu ditimbang satu persatu kemudian untuk mengetahui berat keseluruhan truk dilakukan perjumlahan. Ketiga, Jembatan timbang portabel. Merupakan timbangan yang bisa dipindah-pindahkan, dapat berupa timbangan untuk masing-masing roda atau untuk seluruh kendaraan sekaligus. Keempat, Jembatan timbang modern. Jembatan timbang modern ini harus secara otomatis menimbang kendaraan yang lewat, yaitu dengan timbangan elektronik digital yang terkomputerisasi, artinya secara otomatis kendaraan akan ditimbang secara keseluruhan dan batas-batas toleransi pelanggaran yang diijinkan. Misalnya, secara bertahap pelanggaran akan dikurangi dimulai toleransi kelebihan muatan 70%, kemudian 50%, selanjutnya 30%, dan seterusnya. Dengan program komputer, konsep itu bisa diaplikasikan dengan mudah. (saksono)