Menangkap Keuntungan di Industri Barang Konsumsi

Sabtu, 01/02/2014

Di tengah melemahnya beberapa sektor industri dalam negeri, sektor konsumer masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, bahkan dengan kenaikan di atas 20%.

NERACA

Geliat industri di tanah air, khususnya sektor barang konsumsi mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat dan cepat. Hal ini ditopang dari tingginya tingkat konsumsi masyarakat seiring meningkatnya pendapatan kelas menengah dan perubahan gaya hidup mereka.

Utamanya, sektor konsumer menawarkan kebutuhan mendasar konsumen, seperti makanan dan minuman. Tidak heran jika sejak awal masuknya, retailer-retailer dengan konsep mini market belakangan ini tumbuh pesat. Sebut saja, Alfamart yang beroperasi di bawah Alfa Retailindo bisa dengan cepat menyusul kesuksesan retailer besar, seperti Carrefour.

Dari awal kehadirannya di tahun 1998, hipermarket secara rata-rata dinilai mengalami pertumbuhan sebesar 27% per tahun, dan Carrefour menjadi salah satu hipermarket yang bisa dikatakan sukses membumi di Indonesia. Namun, sejak tahun 2012, konsep minimarket yang ditawarkan Alfamart tampaknya menjadi lebih populer di masyarakat.

“Pemain ritel membidik tempat-tempat yang dekat dengan perkampungan. Alfamart dan Indomart tercatat cukup agresif dan berani berekspansi dengan membuka sebanyak 5.000 toko dan terus memperluas distribusinya hingga luar Jawa,” ungkap Sales and Marketing Advisor PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Co. Tbk, Alex de Vries.

Tahun lalu, mini market yang dioperasikan Alfa Mart/Alfa Midi/Lawson, Indomaret/grosir dan Circle K pun membuka gerainya di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Namun uniknya, meski dihadapkan pada pesaingnya seperti Yomart, Circle K, Seven Eleven, dan Bright, loyalitas pelanggan Alfa Mart and Indomaret tercatat cukup besar, menyaingi Carrefour, Hero/Giant and Hypermart.

Proyeksinya, di tahun 2014 persaingan di bisnis ritel antara peritel tradisional dan modern seperti hipermarket, supermarket, dan mini market ini pun akan semakin kompetitif. Bagi orang-orang yang bergelut di dunia pemasaran, menurut Alex, hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri. Apalagi dengan ragam kebutuhan serta karakter konsumen.

Oleh karena itu, kelihaian seorang penjual maupun orang-orang yang bertanggung jawab atas penjualan produk perusahaan akan sangat menentukan seberapa besar pertumbuhan perusahaan tersebut. Pasalnya, hasil penjualan tentunya berkontribusi cukup signifikan terhadap pendapatan dan keuntungan usaha. Khususnya, untuk sektor yang bergerak di bidang barang konsumsi (consumer good).

Namun perlu dicatat, meski pertumbuhannya cukup agresif, di tahun 2011 pertumbuhan perdagangan secara umum masih sekitar 7% sehingga tidak dapat disimpulkan untuk menjual Fast Moving Consumer Good (FMCG) di Indonesia hanya mengandalkan distribusi tunggal melalui pasar modern. Tentunya, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, utamanya bagi pelaku usaha atau seseorang yang bergelut di bidang pemasaran sehingga bisa tetap eksis di pasar.

Salah satunya, faktor psikologi. Tidak banyak pebisnis atau penjual yang tahu begitu besarnya pengaruh ilmu psikologi dan antropologi berperan untuk menggolkan produk di pasar. Meskipun beberapa orang tidak menyetujui teori tersebut, namun kenyataannya untuk industri tertentu hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius. Kemunculan majalah Play Boy di Indonesia misalnya, yang sempat menuai controversial, dan tidak jarang pula barang atau produk yang ditawarkan suatu perusahaan nyatanya ditolak oleh masyarakat.

Padahal, sebenarnya hanya ada dua alasan yang mendasari seseorang untuk membeli suatu produk di pasar, mendapatkan keuntungan dari produk itu sendiri secara langsung (functional product benefits) dan keuntungan yang diperoleh secara emosional (emotional product benefits). Oleh karena itu, sebagai pemain di industri ini, seseorang perlu memiliki strategi pemasaran yang tepat sehingga bisa sukses masuk pasar, bahkan menangkap segmen pasar berpenghasilan rendah.

Di tahun 2014, sebagian perusahaan tidak ingin mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan promosi. Sementara seorang marketer atau penjual dituntut untuk dapat melakukan penjualan atas produk-produk perusahaan. “Tanpa jaringan yang kuat dalam perdagangan modern, peluang keberhasilan Anda akan jauh lebih kecil meski Anda berada di perusahaan FMCG lokal yang secara eksklusif melakukan penjualan,” papar Alex.

Dengan demikian, mempelajari secara detil dan konsisten menekuni bisnis pada industri yang digeluti menjadi hal yang tidak dapat ditawar. Apalagi tidak ada sekolah yang mengajarkan secara langsung untuk sukses menjadi marketer yang handal, tanpa proses trial and error. Kenyataan inilah yang mendorong Alex de Vries, seorang pelaku bisnis di industri barang konsumsi untuk merilis fenomena dan strategi marketing dalam bukunya “Fast Moving Consumer Goods” pada awal tahun ini.