Produksi Perikanan Nasional Nyaris Lumpuh - Dampak Cuaca Ekstrem

NERACA

Jakarta - Cuaca ekstrem yang melanda Indonesia beberapa waktu belakangan ini nyaris melumpuhkan produksi perikanan nasional. Tengok saja untuk di bidang perikanan budidaya. Banyak tambak yang kebanjiran sehingga menyebabkan ikan mati. Sementara pada perikanan tangkap hampir seluruh nelayan dengan perahu kecil tak lagi melaut, kalau pun melaut hanya perahu-perahu besar saja. Hasil tangkapannya pun turun drastis hingga 50% dari biasanya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan, curah hujan yang terjadi belakangan ini memang tinggi sekali khususnya di pantura, sehingga dalam pantauan kami bebera daerah tambaknya banyak yang tergenang air baik tambak tradisional maupun tambak intensif.

“Tambak-tambak tradisional habis tergenang banjir, bahkan tambak intensif juga kena dampaknya,” kata Slamet saat ditemui di sela acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Kelautan dan Perikanan 2014 di Jakarta, Selasa (28/1).

Daerah yang terkena dampak dari cuaca ini, sambung Slamet, antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tambak-tambak di daerah tersebut tergenang banjir, yakni tambak ikan bandeng, udang, lele, gurame, dan nila. “Daerah terparah terkena dampak banjir Karawang, Subang, dan Indramayu,” imbuhnya.

Itu sebabnya, Slamet mengaku sedang melakukan koordinasi dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi maupun kabupaten untuk melakukan antisipasi dengan identifikasi lokasi mana saja yang tergenang banjir. Untuk mengantisipasi dini dari banjir ini kami menghimbau agar para pembudidaya jangan buru-buru menebar benih karena kondisi cuaca yang masih buruk. “Kami menginstruksikan kepada kepala dinas propinsi dan kabupaten yang pernah mendapatkan bantuan ekskavator untuk nanti digunakan rehabilitas tanggul dan saluran,” ujarnya.

Adapun jumlah tambak yang terkena dampak banjir ini disepanjang pantura ada sekitar 250 ribu tambak tradisional dan tambak intensif, dan kerugian ditaksir sekitar Rp 250 milliar, yaitu kerugian dari udang dan bandeng khusus dipantura saja. “Makanya ke depan KKP akan bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan BPPS untuk rehabilitasi saluran,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Achmad Poernomo, Kepala Balitbang Kelautan dan Perikanan mengatakan, cuaca ekstream tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang terjadi pada tahun lebih banyak sering terjadi sehingga banyak nelayan yang tidak melaut dan mengganggu produksi perikanan khususnya perikanan tangkap.

"Kalau angka kerugiannya belum bisa kami hitung berapa. Tapi yang jelas tangkapan bisa turun drastis hingga 50%. Pada saat tertentu ya, misal pada biasanya bisa dapat 100 ton mungkin sekarang dapat 50 ton," kata dia.

Meski tangkapan ikan laut turun, namun dia memastikan stok dan pasokan ikan nasional masih kondisi aman saat ini. Karena cuaca seperti ini biasanya hanya sampai dengan akhir bulan Februari, biasanya memasuki Maret sudah dalam kondisi normal lagi. "Stok kita itu ada 6,4 juta ton per tahun, yang bisa diambil 80% dari 6,4 juta ton. Itu supaya aman dan lestari jadi kalau kita ambil lebih dari itu nggak boleh," katanya.

Secara umum, kebutuhan konsumsi ikan nasional 35 kg per kapita per tahun. Dengan jumlah penduduk di atas 240 juta jiwa maka kebutuhan ikan nasional mencapai 18 juta ton per tahun.Saat ini produksi ikan nasional untuk ikan budidaya mencapai 19 juta ton, sedangkan produksi dari perikanan tangkap itu maksimal 80% dari 6,4 juta ton per tahun .

Achmad menjelaskan selama ini kategori kapal kecil ukurannya 5-10 gross tonnage (GT). Untuk berlayar mereka biasanya mengandalkan informasi dari pelabuhan sehingga masih terbatas. Sedangkan untuk kapal besar masih bisa melaut dan memiliki kelebihan mendapatkan informasi cuaca terkini karena terkoneksi dengan KKP dan BMKG. "Untuk sekarang ini dengan bulan-bulan ini cuaca lebih ektrem dibandingkan yang tahun lalu. Semoga sepanjang tahun nanti tidak," katanya.

Target Produksi

Pada tahun 2014 mendatang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan segera menetapkan target produksi ikan sebesar 20,05 juta ton. Target ini terdiri atas dua bagian, yakni perikanan tangkap sebesar 6,08 juta ton dan perikanan budidaya sebesar 13,97 juta ton.

Dalam keterangan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo mengatakan target sebesar 20,05 ton ini didasarkan pada pencapaian yang positif target tahun 2013. Nilai ekspor perikanan pada semester I sendiri mencapai 621,7 ribu ton atau senilai US$ 1,97 juta. Hal ini juga didukung industrialisasi kelautan dan perikanan dengan pendekatan blue economy yang memperlihatkan pertumbuhan yang positif.

Sharif mengatakan, komoditi yang masih menjadi komoditi andalan untuk target produksi adalah komoditi tuna dan udang. Untuk komoditi udang yang masih diandalkan, menyumbang 36,7% atau sebesar US$ 723,6 juta dengan negara tujuan ekspor utama Amerika, China, Jepang, dan Uni Eropa.

Related posts