Pesimisme Ekonomi Dalam Optimisme Politik

Oleh: Deniey A Purwanto

Peneliti INDEF

Tahun 2014 adalah tahun pesta demokrasi. Berbagai drama politik lengkap beserta lakon-lakonnya mulai dimainkan. Sejumlah calon pemimpin negeri ini mulai dihadirkan. Yang sedikit berbeda mungkin adalah munculnya figur-figur yang militan, persisten dan membumi seperti Joko Widodo, Anis Baswedan dan Mahfud MD, disamping para pemain lama.

Sebaliknya, perekonomian Indonesia 2014 diliputi tabir pesimisme yang cukup dalam. Pada sisi eksternal, keputusan Federal Reserves AS untuk melakukan pemangkasan stimulus moneter (tapering off) dipastikan akan memberikan tekanan tersendiri terhadap nilai tukar.

Demikian pula dengan perkembangan ekonomi negara-negara Uni Eropa yang diperkirakan mulai mengalami pemulihan. Tentunya, masing-masing negara membutuhkan aliran dana investasi yang cukup memadai, termasuk kawasan ekonomi regional yang juga menghadapi masalah yang serupa.

Dengan demikian tantangan bagi Indonesia tidak saja untukmenahan arus pelarian modal asing ke negara-negara maju (capital outflow) seperti AS dan Jerman tetapi juga ke negara-negara tetangga seperti seperti Malaysia, Thailand dan Singapura.

Sementara sisi internal, Pemerintah telah menetapkan untuk menjalankan pengetatan di sisi fiskal maupun moneter. Pengetatan fiskal dilaksanakan melalui penurunanporsi defisit anggaran terhadap PDB di mana sebelumnya 2,4% menjadi 1,49%. Pemerintah juga mengagendakan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) hingga 15%.

Sisi moneter, Bank Indonesia juga memastikan untuk melanjutkan kebijakan pengetatan moneter dengan mempertahankan BI Rate pada tingkat 7,5%. Kebijakan pengetatan moneter ini akan terus dilakukan paling tidak hingga defisit transaksi berjalan dapat ditekan dibawah 3%. Kebijakan ini tentu akan diikuti dengan peningkatan suku bunga kredit perbankan. Hal ini tidak saja akan menjadi disinsentif bagi upaya peningkatan investasi di Indonesia juga rawan terhadap terjadinya kredit macet.

Selain double-barrel tightening policy di atas, gejala perlambatan ekonomi setiap menjelang pesta demokrasi tampaknya akan terulang kembali. Belanja Modal APBN 2014 ditargetkan tumbuh 6,88% setelah dua tahun sebelumnya mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi, yaitu berturut-turut 23,12% dan 32,73%. Serupa ketika realisasi APBN 2009 menunjukkan pertumbuhan belanja modal sebesar 4,26% setelah dua tahun sebelumnya berturut-turut tumbuh 16,99% dan 13,2%.

Hal yang serupa juga tampak dari pertumbuhan investasi. Di era pesta demokrasi tahun 2009, pertumbuhan investasi mengalami perlambatan dengan hanya tumbuh tidak lebih dari 4% setelah sebelumnya berturut-turut tumbuh 9,32% dan 11,89%. Tahun ini, dengan berbagai tekanan yang ada, rasanya sulit untuk berharap investasi tumbuh sebesar tahun-tahun sebelumnya yang berturut-turut tumbuh sebesar 8,77% dan 9,81%.

Mungkinkah membalikkan pesimisme ekonomi di tahun 2014 ini? Hal ini akan ditentukan dari sejauhmana pelaksanaan pesta demokrasi dan hasilnya. Jika semua berjalan aman dan lancar satu putaran, maka sangat mungkin berkontribusi positif terhadap perekonomian, untuk selanjutnya dirumuskan dan dijalankan melalui kebijakan.

Related posts