Intraco Penta Terbitkan MTN Rp300 Miliar

NERACA

Jakarta- PT Intraco Penta Tbk (INTA) melalui anak usahanya, PT Intan Baruprana Finance (IBF) menerbitkan Medium Term Notes (MTN) I sebesar Rp300 miliar. Penerbitan MTN tersebut antara lain untuk mendukung ekspansi penyaluran pembiayaan baru anak usaha perseroan pada bisnis alat berat, transportasi dan mesin-mesin.“Aksi ini akan mendukung pembiayaan baru sebesar Rp 1,6 Triliun untuk membiayai pembiayaan alat berat multi merek (multi brand), transportasi dan mesin-mesin lainnya,” kata Direktur Utama IBF Fred L. Manibog di Jakarta, Selasa (28/1).

Menurut Fred, selaku arranger dari MTN ini yaitu BNI Securities dan memiliki jangka waktu tiga tahun. Selain membidik sektor industri yang biasa dilayani seperti pertambangan, perseroan berencana untuk masuk ke pembiayaan truk dan alat berat di sektor transportasi, perkebunan, infrastruktur dan logistik atau pengiriman barang, serta minyak dan gas bumi.

Bahkan, untuk mendukung ekspansi tersebut, perseroan juga akan mencari pendanaan lainnya seperti pinjaman perbankan. “Sudah ada dua bank yang berkomitmen. Besarannya belum bisa kami sebutkan sekarang, tapi lebih besar dari nilai MTN ini. Dua bank tersebut merupakan bank nasional,” jelasnya.

Fred menyebutkan, total pembiayaan yang disalurkan perseroan pada 2013 mencapai Rp2,2 triliun dan memiliki total aset sebesar Rp2,3 triliun. Sedangkan target pembiayaan baru untuk tahun ini sebesar Rp1,5 triliun sampai Rp1,6 triliun. "Kalau tahun lalu (2013) pembiyaan baru mencapai Rp1 triliun. Pembiayaan konvensional dan syariah ke depan juga kita harapkan seimbang. Saat ini konvensional 70%,” jelasnya.

Diketahui, pada akhir tahun lalu INTA mengkonversikan utang sejumlah anak usaha menjadi saham. Langkah ini dilakukan untuk mendukung kinerja bisnis perdagangan besar alat-alat besar yang dilakukan anak usaha. Konversi sebagian utang anak usaha perseroan antara lain yaitu perseroan dan PT Intraco Penta Prima Servis (IPSS) serta PT Intraco Penta Wahana (IPW) yang sahamnya dimiliki paling sedikit 99% oleh Perseroan. Penandatanganan perjanjian konversi utang dilakukan pada 5 Desember 2013.

Kesepakatan itu mengkonversi sebagian hutang IPSS dan IPW kepada perseroan masing-masing sebesar Rp 10 miliar menjadi 10 juta lembar saham baru. Sebagai induk usaha, perseroan optimistis atas peluang cukup besar untuk pertumbuhan dan perkembangan usaha di bidang perdagangan besar alat-alat berat yang dilakukan oleh kedua anak usahanya.

Hal tersebut dilakukan untuk dapat menangkap dan mendukung peluang pertumbuhan secara maksimal sehingga perseroan memutuskan untuk memberikan penambahan modal disetor sebesar Rp 10 miliar masing-masing kepada IPPS dan IPW. “Keduanya merupakan hasil konversi utang IPPS dan IPW terhadap piutang Perseroan. Transaksi ini merupakan salah satu bentuk dari komitmen penuh Perseroan sebagai induk usaha untuk mendukung perkembangan usaha anak usahanya sehingga memberikan tambahan kontribusi kepada pertumbuha perseroan secara grup,” jelasnya. (lia)

Related posts