PLN Tingkatkan Penggunaan Gas untuk Pembangkit

NERACA

Jakarta – PT PLN (Persero) menargetkan menambah pasokan gas bumi untuk pembangkit listrik di 2014. Pada 2013, PLN merealisasikan penggunaan gas bumi sebesar 410 triliun British thermal unit (TBTU) atau 1.135 miliar British thermal unit per hari (BBTUD). Sementara pada tahun ini, PLN menargetkan akan ada kenaikan. Hal tersebut seperti dikatakan Kepala Divisi BBM dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki.

“Di 2013, realisasi gas untuk pembangkit mencapai terealisasi 410 triliun British thermal unit (TBTU) atau 1.135 miliar British thermal unit per hari (BBTUD). Tahun ini, kami targetkan 431 TBTU atau 1.200 BBTUD yang berarti naik 5,7% dibandingkan 2013,” ucap Suryadi di Jakarta, Selasa (28/1).

Suryadi mengakui bahwa penggunaan gas untuk pembangkit listrik, setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada 2012, pasokan gas ke pembangkit PLN hanya 365 TBTU atau 1.016 BBTUD. Ia mengatakan, pada 2014, tambahan pasokan gas di antaranya berasal dari Lapangan Peluang yang dioperasikan Santos Indonesia di Jawa Timur. “Kami berharap dapat 15-25 MMSCFD mulai April 2014,” katanya.

Pasokan gas Peluang tersebut akan masuk PLTGU Grati, Pasuruan, Jatim yang dioperasikan PLN. Lalu, lanjutnya, tambahan pasokan gas yang sudah pasti lainnya berasal dari Lapangan Gundih dengan operator PT Pertamina EP di Jawa Tengah. Gundih akan memasok 50 MMSCFD ke PLTGU Tambaklorok, Semarang, Jateng mulai awal Februari 2014. LN juga mengharapkan pada 2014, PLTG Semberah, Kaltim mendapatkan gas sebesar 10 MMSCFD dari Vico Indonesia. “Tapi, ini belum pasti. Kami harapkan bisa tahun ini,” ujarnya.

Lebih lanjut lagi, Suryadi memaparkan bahwa pasokan gas Lapangan Kepodang ke PLTGU Tambaklorok belum bisa mengalir pada 2014. Pemerintah, menurut dia, berkeinginan pasokan Kepodang ke Tambaklorok mulai akhir 2014. “Tapi, sepertinya baru bisa Maret 2015 atau paling telat Agustus 2015,” ujarnya.

Hemat Anggaran

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah meresmikan proyek pengembangan gas Jawa-Cepu di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Dengan penggunaan gas sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik ada potensi penghematan Rp21,4 triliun dari selisih biaya penggunaan high speed diesel atau HSD dan gas bumi.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan proyek pengembangan gas Jawa-Cepu merupakan proyek pengembangan lapangan gas Blok Gundih yang berasal dari struktur Kedungtuban, Randublatung, dan Kedunglusi di wilayah Blora, Jawa Tengah. Blok Gundih saat ini memproduksikan 50 mmscfd yang akan disalurkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik di Tambak Lorok.

“Selain menghemat biaya bahan bakar pembangkit, proyek itu juga telah membuka lapangan kerja yang luas. Penyerapan tenaga kerja untuk proyek tersebut mencapai 1.700 orang dengan 65% di antara mereka merupakan penduduk lokal,” ujar Ali.

Ali menambahkan proyek itu juga memberikan nilai tersendiri dengan adanya Central Processing Plant Gundih yang merupakan green plant karena didesain dengan penggunaan own use/BBG yang efisien dan dapat mengurangi emisi. "Hal ini selaras dengan concern Pertamina untuk terus meningkatkan aspek lingkungan dalam setiap pengelolaan operasi perusahaan," kata dia.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mengaku terus mendorong PT PLN (Persero) untuk menggunakan Liquefied Natural Gas (LNG) untuk pembangkit listrik PLN. Saat ini, 24 kargo LNG sudah dimanfaatkan untuk sektor kelistrikan dan membuat PLN bisa hemat Rp 3,6 miliar per hari.

Pelaksana Tugas Kepala SKK Migas Johanes Widjonarko mengatakan pihaknya terus mendorong PLN untuk menggunakan LNG untuk pembangkitan listrik dalam negeri, yang ujungnya akan membantu pemerintah mengurangi beban subsidi listrik yang diperlukan PT PLN (persero).

“Selama ini sudah 22 kargo LNG dimanfaatkan untuk sektor kelistrikan. Pasokan ini berasal dari Blok Mahakam (Total E&P Indonesie) dan diterima oleh fasilitas regasifikasi yang dioperasikan oleh PT Nusantara Regas (NR). Tahun ini SKK Migas telah menginstruksikan untuk memasok 2 kargo LNG dari kilang LNG Tangguh di Papua,” ujar Widjonarko.

Widjonarko menambahkan pasokan LNG untuk kelistrikan saat ini melalui fasilitas PT Nusantara Regas telah menjadi komitmen bersama SKK Migas dan Kementerian ESDM. “Pada masa mendatang akan semakin banyak LNG yang siap dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, sekarang menjadi tantangan bagi setiap pemilik yang akan membangun fasilitas regasifikasi LNG baik di laut dan darat untuk dapat menyelesaikan proyek tepat waktu,” katanya.

Related posts