Pengelolaan Sektor Energi Belum Optimal

NERACA

Jakarta - Indonesia dinilai masih memiliki setumpuk permasalahan di sektor energi. Padahal energi merupakan faktor utama pendorong pembangunan nasional. Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sutan Bhatoegana mengatakan, sebagai pendorong pembangunan nasional, ketahanan energi harus didukung. Pasalnya kebutuhan energi akan terus tumbuh di masyarakat.

"Mendukung pembangunan nasional berkelanjutan, maka kebutuhan energi diperkirakan akan terus mengalami peningkatan. untuk memenuhi diperlukan pasokan energi fosil mupun non fosil," kata Sutan, saat mebacakan laporan Komisi VII DPR RI dalam sidang Paripurna di Gedung DPR Jakarta, Selasa (28/1).

Namun, pada kenyataannya masih banyak persoalan yang melilit ketahanan energi Indonesia. Ironisnya, negara ini sebenarnya salah satu lumbung energi terbesar di dunia. Sebab itu pengolahan energi harus dilakukan dengan hati-hati. "Pengolahan belum optimal karena ekspor masih jadi devisa, sebagai bahan bakar maupun industri masih belum terpenuh secara optimal," ungkap Sutan.

Permasalahan lain yang masih menumpuk adalah belum efisiennya penggunaan energi, subsidi energi yang belum tepat sasaran, harga enegi yang belum sesuai keekonomian, terbatasnya kemampuan energi nasional dan rendahnya akses energi oleh masyarakat. "Selain masalah tersebut ada setumpuk permasalahan, belum efisien," tegas dia.

Dia pun menilai perlu ada arahan untuk menjamin energi nasional. Hal ini telah tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional.

Di sisi lain, pengamat Indonesia Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara memaparkan 4 persoalan energi yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini. Ke-4 permasalahan tersebut adalah sebagai berikut,Pertama, di sisi energi primer produksi minyak kita sedang menurun, sementara produksi gas memiliki harapan untuk ditingkatkan sering adanya beberapa proyek yang sedang berjalan adalah proyek-proyek yang akan menghasilkan gas.

Di sisi konsumsi, kebutuhan minyak dan gas meningkat tajam seiring meningatnya pendapatan per kapita bangsa Indonesia, ditambah pula jumlah penduduk yang semakin meningkat. "Pemenuhan kebutuhan energi primer semakin sulit dilaksanakan karena kita kekurangan infrastruktur.- Kapasitas kilang kita juga sangat terbatas. Jadi kalau ada kilang yang rusak maka sebagian minyak yang kita produksikan tidak akan bisa diolah di dalam negeri. dengan demikian, kita moembutuhkan tambahan kilang untuk semakin meningkatkan kehiandalan kita," kata Marwan.

Selain itu kata Marwan, infrastruktur pipa untuk menyalurkan gas dari sisi hulu ke sisi hilir juga masih sangat terbatas, padahal keberadaan pipa dibutuhkan untuk menyukseskan program konversi BBM ke BBG.

"Pipa dibutuhkan untuk menyambungkan sumber gas di satu daerah ke konsumen di daerah lain, utamanya di Pulau Sumatra dan Jawa sehingga membutuhkan jaringan pipa yang tersambung menyeluruh. Pipa juga dibutuhkan untuk menghubungkan satu pulau ke pulau lain (dari natuna, Kalimantan, Sumatra, Papua, Jawa)," ungkap Marwan.

Masalah kedua di sisi energi non migas, diversivikasi energi juga harus dilakukan mengingat cadangan minyak Indonesia hanya 0,3 % cadangan dunia dan cadangan gas kita hanya 1,7 persen cadangan dunia.

Oleh karena itu harus ditingkatkan peran sumber panas bumi karena Indonesia memiliki 50 persen cadangan dunia. Selain itu juga sumber energi matahari yang berlimpah 12 jam sehari, batubara, bio fuel yang diperoleh dari tanaman yang tumbuh subur di Indonesia.

"Kita juga tidak boleh menutup kemungkinan penggunaaan energi nuklir. Ketersediaan energi non fosil harus cukup memberikan rangsangan bagi konsumen agar mampu bersaing dengan sumber energi migas. Bentuk rangsangan misalnya dalam bentuk penetapan harga jual yang tidak terlalu berbedadengan migas, sehingga masyarakat memiliki kesadaran dan keinginan yang cukup tinggi untuk mau menggunakan energi non migas tersebut," papar Marwan.

Sementara khusus untuk panas bumi, karena keterbatasan jangkauannya, maka harus diutamakan untuk penggunaan daerah yang memiliki panas bumi sehingga kebutuhan energi migas di daerah itu turun.

"Untuk penggunaan energi batubara, selain meningkatkan penggunaannya di dalam negeri, juga memungkinkan adanya konversi energi di mulut tambang sehingga daerah sekitar dapat menikmati energi listrik secara langsung," beber Marwan.

Masalah ketiga pengelolaan energi mineral masih dapat ditingkatkan untuk mendapatkan devisa negara yang lebih tinggi dengan cara ekstraksi sehingga bijih yang berkualitas tinggi yang dikirim ke pasar.

Tahap berikutnya membangun infrastruktur pengolahan biji tersebut sehingga menghasilkan bahan setengah jadi sehingga dapat meningkatkan devisa negara. "Ini jangka panjang, penertiban di berbagai hal di urusan mineral baik dalam hal pengukuran, penghitungan, pajak, lingkungan dan CSR sehingga lebih peduli pada masyarakat sekitar dan kepada pelestarian lingkungan," jelas mantan Anggota DPD RI.

Masalah ke empat, listrik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, akan diusahakan agar elektrivikasinya ditingkatkan (ketersediaan listrik sampai ke desa-desa, maupun di daerah yang remote). Namun masalah harga yang optimum yang masih dijangkau masyarkat harus ditinagkatkan.

Related posts