Diserbu Aksi Beli, IHSG Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 18,871 poin (0,44%) ke level 4.341,651. Sementara Indeks LQ45 menguat 4,854 poin (0,67%) ke level 727,253. Kendatipun, investor asing melepas saham lebih dari setengah triliun rupiah, tidak mempengaruhi aksi beli investor domestik. Alhasil aksi beli tersebut menjadi penopang penguatan indeks BEI.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 12.210 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 12.225 per dolar.

Kata analis Panin Sekuritas, Purwoko, kenaikan indeks BEI terjadi ditengah kekhawatiran rencana pemotongan stimulus oleh the Fed dan perlambatan pertumbuhan China,”The Fed akan memulai pertemuan selama dua hari untuk menentukan kebijakan 'tapering'. Pertemuan itu adalah meeting terakhir Bernanke sebagai Gubernur the Fed, per 1 Feb Jannet Yellen akan aktif sebagai gubernur yang baru," kata dia.

Berikutnya, indeks BEI Rabu diproyeksikan masih akan bergerak mudah berubah (volatile) dengan kecenderungan melanjutkan penguatan terbatas di kisaran 4.320--4.360 poin. Sementara analis HD Capital, Yuganur Wijanarko menambahkan, perlu diwaspadai akan adanya aksi jual kembali pada saham-saham domestik menyusul sentimen yang belum kondusif,”Bisa diperhatikan beberapa saham yang defensif,"ujarnya.

Dia mengemukakan bahwa beberapa saham yang dapat diperhatikan BW Plantation (BWPT), Sido Muncul (SIDO), Gajah Tunggal (GJTL), Telekomunikasi Indonesia (TLKM). Perdagangan kemarin, transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net buy) senilai Rp 667,26 miliar di pasar reguler dan negosiasi.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 202.986 kali pada volume 4,09 miliar lembar saham senilai Rp 5,285 triliun. Sebanyak 152 saham naik, sisanya 121 saham turun, dan 82 saham stagnan.

Bursa-bursa regional berakhir mixed setelah melewati perdagangan yang fluktuatif. Meski dibayangi sentimen negatif melemahnya Wall Street, masih ada bursa Asia yang bisa positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya (CTBN) naik Rp 1.125 ke Rp 5.625, Indocement (INTP) naik Rp 1.025 ke Rp 21.250, Unilever (UNVR) naik Rp 575 ke Rp 27.700, dan Inti Bangun (IBST) naik Rp 575 ke Rp 5.975.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.650 ke Rp 66.050, SMART (SMAR) turun Rp 575 ke Rp 6.625, Century Textile (CNTX) turun Rp 500 ke Rp 6.500, dan Selamat Sempurna (SMSM) turun Rp 190 ke Rp 3.060.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI juga ditutup menguat 30,549 poin (0,71%) ke level 4.353,329. Sementara Indeks LQ45 naik 7,887 poin (1,09%) ke level 730,286. Saham komoditas masih negatif gara-gara aksi jual, tapi delapan indeks sektoral di lantai bursa sudah bisa menguat dipimpin saham-saham konsumer.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 119.852 kali pada volume 2,453 miliar lembar saham senilai Rp 2,986 triliun. Sebanyak 155 saham naik, sisanya 92 saham turun, dan 74 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia akhirnya rebound setelah aksi beli mulai muncul sejak awal perdagangan. Poin yang dicetaknya masih minim, kalah tinggi dari BEI. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Unilever (UNVR) naik Rp 900 ke Rp 28.025, Indocement (INTP) naik Rp 850 ke Rp 21.075, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 700 ke Rp 41.125, Adira Finance (ADMF) naik Rp 550 ke Rp 8.700.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.650 ke Rp 66.050, SMART (SMAR) turun Rp 575 ke Rp 6.625, Selamat Sempurna (SMSM) turun Rp 150 ke Rp 3.100, dan Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 150 ke Rp 5.100.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun sebesar 11,15 poin atau 0,26% ke posisi 4.311,63. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,87 poin (0,40%) ke level 719,53.

Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah mengatakan, pada pembukaan perdagangan, saham bursa Asia bergerak dengan volatilitas terbatas,”Ini bisa menjadi sinyalemen bahwa IHSG pun cenderung untuk bergerak 'mixed' dengan peluang koreksi yang terbatas," paparnya.

Di sisi lain, lanjut dia, investor mempertimbangkan rencana pengurangan pembelian aset oleh Federal Reserve dan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi China. Dia mengatakan bahwa the Fed akan memulai pertemuan kebijakan pada hari Selasa selama dua hari ke depan. Kekhawatiran pasar bahwa pertemuan the Fed itu akan kembali memangkas jumlah pembelian obligasi bulanan sebesar US$ 10 miliar.

Analis Kresna Securities, Etta Rusdiana Putra menambahkan, tekanan di pasar saham dipengaruhi juga oleh kekhawatiran laju inflasi domestik yang akan meningkat seiring dengan banjir yang menghambat distribusi barang "Kami memperkirakan inflasi Januari 2014 berada di kisaran 0,8 persen meningkat dibanding bulan sebelumnya 0,6 pada Desember 2013," kata dia.

Sementara bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 28,55 poin (0,13%) ke level 21.947,55, indeks Nikkei naik 37,01 poin (0,25%) ke level 15.043,27 dan Straits Times melemah 0,90 poin (0,3%) ke posisi 3.041,52. (bani)

Related posts