GRI Keluarkan Pedoman CSR Generasi ke-4

Sabtu, 01/02/2014

Penting dan besarnya desakan akan risiko dan ancaman terhadap keberlanjutan bersama, membuat transparansi mengenai dampak ekonomi, lingkungan dan sosial menjadi komponen utama bagi efektifnya hubungan dengan pemangku kepentingan, kebijakan investasi dan hubungan pasar lainnya. Untuk itu, Global Reporting Initiative (GRI) berkolaborasi bersama National Center for Sustainability Reporting (NCSR) meluncurkan pedoman pelaporan CSR untuk kawasan Asia Tenggara.

NERACA

Dalam era saat ini di mana pertumbuhan ekonomi tidak dapat diperkirakan, pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan mereka, tampaknya hanya sekadar sebuah aspirasi daripada sebuah kenyataan.

Bagaimana tidak? Ketika terjadi globalisasi ekonomi, kesempatan baru untuk menciptakan kemakmuran dan kualitas kehidupan meningkat melalui perdagangan, berbagi pengetahuan, dan akses terhadap teknologi, kesempatan-kesempatan tersebut tidak selalu tersedia untuk setiap peningkatan populasi manusia, dan biasanya disertai dengan sejumlah risiko baru terkait dengan kestabilan kondisi lingkungan.

Kondisi kontras ini menciptakan dilema yang paling menantang di abad ke-21. Tuntutan akan pilihan-pilihan dan cara berpikir yang baru dan inovatif merupakan salah satu tantangan utama dari pembangunan berkelanjutan. Dimana perkembangan pengetahuan dan teknologi dituntut tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat membantu dalam memecahkan permasalahan terkait risiko dan ancaman terhadap keberlanjutan dari hubungan sosial, lingkungan, dan perekonomian.

Dalam suatu kesempatan, Emil Salim, seorang tokoh yang terkenal sebagai pakar pembangunan berkelanjutan menuturkan, kesadaran pelaku bisnis dalam menjalankan usaha yang ramah lingkungan menjadi jaminan keberlangsungan kehidupan generasi yang akan datang. "Peran serta perusahaan merupakan kunci sukses keberhasilan pembangunan berkelanjutan," kata Emil Salim di Hotel Mulia, di Jakarta belum lama ini.

Dalam konteks pembangunan saat ini, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single botom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangan, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya. Perusahaan bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi untuk menciptakan profit demi kelangsungan usahanya, melainkan juga bertanggungjawab terhadap sosial dan lingkungannya.

Untuk dapat mendukung harapan ini dan juga dalam mengkomunikasikan secara jelas dan terbuka mengenai keberlanjutan, Global Reporting Initiative (GRI) berkolaborasi bersama National Center for Sustainability Reporting (NCSR) meluncurkan sebuah kerangka konsep yang global dan dapat dipercaya dalam melaporkan keberlanjutan yang dapat digunakan oleh berbagai organisasi yang berbeda ukuran, sektor, dan lokasinya.

Pedoman pelaporan Corporate Socia lResponsibility (CSR) untuk kawasan Asia Tenggara yang disebut dengan GRI G4 ini, pertama kali diluncurkan di Amsterdam, Belanda, pada tanggal 22 Mei 2013 bertepatan dengan diadakannya Konferensi Global Pelaporan Berkelanjutan, yang dihadirii oleh 1600 peserta dari 70 negara, termasuk 20 orang delegasi dari Indonesia.

Direktur Interim GRI Asthildur menjelaskan, pedoman pelaporan CSR tersebut telah dibuat dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan proses pembuatannya memakan waktu dua tahun. “Dengan adanya sistem pelaporan internasional ini, perusahaan dapat menggunakannya sebagai patok banding dalam menjalankan bisnis yang berwawasan lingkungan dan kepedulian sosial,” ujar dia.

Bukan Hal Baru

Pedoman pelaporan CSR yang juga disebut Pedoman Laporan Keberlanjutan itu sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. GRI telah membuat pedoman ini pertama kalinya pada 2000 lalu. Dengan perkembangan dunia usaha dan kompleksitas isu keberlanjutan dari masa ke masa, maka Pedoman Pelaporan juga perlu disesuaikan. Semenjak tahun 2002, pedoman itu telah direvisi beberapa kali, hingga akhirnya keluarlah pedoman terbaru yang merupakan generasi ke 4 atau disingkat G4.

Hingga akhir tahun 2013, sudah ada 50 perusahaan di Indonesia yang membuat Laporan CSR dengan menggunakan Pedoman GRI. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan tekanan dari investor agar perusahaan-perusahaan menjalankan bisnisnya berdasarkan prinsip 3 P, People, Planet, dan Provit.

"Saat ini, sitem pedoman pelaporan ini sudah diterima secara global. Pedoman itu juga dapat digunakan perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Indonesia Global Compact," kata Ketua Global Compact Indonesia Junardy. Dia menjelaskan, keberlanjutan sebuah perusahaan ditentukan oleh aspek sosial dan lingkungan, bukan semata-mata faktor materiil, dikarenakan aspek social dan lingkungan adalah parameter untuk mengetahui apakah ada dampak posistif atau negatif dari kehadiran sebuah komunitas baru (perusahaan) terhadap komunitas lokal (masyarakat setempat).

Lebih lanjut Junardy mengatakan, perlunya peningkatan kemampuan perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam menggunakan sistem pedoman pelaporan ini, termasuk bagi kalangan UKM. "Dengan begitu, daya saing UKM di Indonesia akan meningkat di pasar internasional bila menggunakan pedoman pelaporan G4," ungkap dia.