Bencana Banjir Ancam Ketahanan Pangan

Sebagian besar petani tanaman pangan sekarang hanya dapat pasrah terhadap dampak buruk bencana banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Mereka cuma bisa menatap sawah yang sudah ditanami padi makin lama makin terbenam dengan air hujan yang turun deras dan memporakporandakan sawah. Gagal panen pun kini menghantui petani miskin.

Efek domino banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau akan menghantam pilar ketahanan pangan yang mendorong kran impor beras dan pangan semakin terbuka lebar setiap tahun. Kegiatan rutin impor pangan pada akhirnya menguras devisa yang tidak sedikit jumlahnya.

Pemerintah Indonesia tampak tidak pernah belajar dari pengalaman. Hampir di setiap musim hujan pada awal tahun, negeri ini selalu dihadapkan pada persoalan yang sama yaitu bencana banjir. Dan faktanya banjir terus berulang dari tahun ke tahun.

Kegiatan pencegahannya kalah cepat dengan kegiatan perusakan hutan. Meski belum dikabarkan penurunan produksi pangan terutama beras akibat banjir, dapat diduga pemerintah dalam waktu dekat akan mengeluarkan data kerusakan sawah yang mengancam ketahanan pangan nasional. Banjir ditengarai sebuah bencana alam akibat ulah manusia. Produk pembangunan yang tak lagi selaras dengan alam.

Implikasinya, musim hujan di kota-kota besar maupun di daerah dengan hutan yang sudah gundul selalu saja identik dengan ancaman banjir. Hujan yang dulunya diyakini sebagai rahmat Tuhan kini dituding menjadi musibah. Keserakahan manusia memeras madu sumber daya hutan mendorong perubahan rahmat menjadi musibah.

Fenomena ini tentu akan mengancam ketahanan pangan. Makin memburuk keseimbangan lingkungan belakangan ini cermin kegagalan pencapaian tujuan utama millennium development goals ( MDGs). Bencana ekologis yang kian kerap terjadi menjadi paradoks dengan tujuan utama pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pengurangan kemiskinan.

Adalah salah satu dari delapan tujuan pembangunan milenium, yakni mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam program nasional dan merehabilitasi sumber daya alam yang rusak, belum bisa diwujudkan. Keprihatinan terhadap lingkungan yang semakin rusak membuat sebagian besar negara di dunia menggalang solidaritas untuk menyelamatkannya.

Fakta-fakta ilmiah menunjukkan bumi semakin panas dan kehidupan manusia kian tidak nyaman. Persoalan besar lainnya, semakin banyak orang yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan badai, banjir, kekeringan, dan bencana ekologi lain. Ancaman krisis pangan global yang menetaskan kelaparan semakin tidak terhindarkan di tengah warga dunia. Pemanasan global ekstrem yang dipicu pembalakan liar guna menggenjot produksi biodiesel berbasis sawit bisa mengancam stabilitas ketahanan pangan di masa datang.

Menyimak makna banjir tahun ini memiliki arti strategis untuk berkontemplasi guna meningkatkan kesadaran masyarakat atas perusakan hutan yang memicu perubahan iklim yang semakin hebat pengaruhnya terhadap terjadi banjir. Pilar ketahanan pangan pun kini mulai goyah sebagai dampak penggunaan energi terbarukan yang berasal dari produk pangan atau bioenergi.

Pemerintah sepatutnya segera mengambil langkah antisipasi dalam upaya mitigasi dan adaptasi secara sungguh-sungguh guna mencegah dampak buruk perubahan iklim terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia. Suka tidak suka, Indonesia harus segera beradaptasi dan melakukan mitigasi atas perubahan iklim. Semoga!

Related posts