Benahi Infrastruktur Jangan Mimpi Terus

Di tengah mimpi pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara maju pada 2025 dengan pendapatan per kapita antara US$14.250-US$15.500 melalui proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I), kondisi riil infrastruktur di negeri ini masih sangat memprihatinkan. Apalagi pemerintah menyediakan modal sendiri hanya 10% dari kebutuhan dana infrastruktur Rp 1.923,7 triliun.

Walau Wakil Menteri Perencanaan Pembanguan Nasional Lukita Dinarsyah Tuwo mengakui untuk meraih target pertumbuhan ekonomi, Indonesia masih terbentur dengan rendahnya investasi, sebagai akibat lemahnya konektivitas serta melebarnya disparitas regional dan tingginya biaya ekonomi.

Seperti kita ketahui bahwa untuk periode 2010-2014 (pra-MP3I) dengan perhitungan porsi kebutuhan infrastruktur sebesar 5% dari GDP, maka dibutuhkan dana infrastruktur sebesar Rp1.923,7 triliun.

Jelas, dengan kondisi seperti itu kalangan swasta akan berpikir dua kali jika pemerintah sendiri hanya menyediakan modal sendiri sebesar 10%. Padahal, APBN semestinya mampu menyediakan dana infrastruktur yang lebih besar lagi.

Ekonomi Indonesia sebenarnya bisa tumbuh pesat dan maju dengan dukungan ekspor sumber daya alam dan industrialisasinya. Karena itu, pemerintah sejatinya harus bisa mengatasi masalah ekonominya, khususnya infrastruktur buruk yang dihadapinya.

Bagaimanapun, masa depan yang cerah bagi Indonesia seperti diramalkan oleh Goldman Sachs yang tahun 2005 menelurkan Next Eleven (N-11), akan diperkirakan akan memiliki kekuatan ekonomi besar seperti BRIC.

Indonesia diharapkan menjadi bagian dari N-11 tersebut karena memiliki potensi untuk menjadi ekonomi penting jika dapat menjaga pertumbuhan ekonominya yang berkelanjutan, sehingga Indonesia bisa berada pada posisi 14 di dunia pada 2025, pada 2050 Indonesia bisa berada pada posisi tujuh, salah satu kekuatan ekonomi dunia.Namun tentunya harus dengan perencanaan yang matang dan rasional, bukan dengan pemaparan program MP3I yang mirip textbook ekonometrika di bangku kuliah.

Namun diperkirakan, Indonesia tampanya masih masuk kategori lower middle income country pada 2050. Selain itu, Indonesia memiliki juga broad based weakness, sehingga memerlukan perbaikan hampir di semua aspek, termasuk dalam stabilitas ekonomi makro, kondisi ekonomi makro, SDM,teknologi,dan politik.

Ini artinya, bahwa Indonesia meski memiliki potensi untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar pada masa mendatang, perlu menjaga keberlangsungan pertumbuhan ekonominya serta mengatasi masalah ekonominya yang masih banyak perlu penanganan serius dan komprehensif.

Indonesia boleh saja berbangga diri karena berbagai proyeksi tersebut menunjukkan bahwa negeri ini akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia. Hal itu bisa menimbulkan optimisme pada bangsa Indonesia, sehingga kita bersemangat untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Selain itu, juga disampaikan bahwa untuk mencapai posisi tersebut juga diperlukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta perbaikan berbagai masalah ekonomi yang sampai saat ini masih membelenggu kita,seperti buruknya infrastruktur.

Optimisme yang tinggi tersebut telah menumbuhkan percaya diri bangsa Asia lainnya, khususnya emerging economy, bahwa mereka juga bisa bangkit. Bayangkan saja,bangsa Asia yang dulunya adalah jajahan berbagai negara Eropa ataupun Amerika telah bangkit dan siap memimpin dunia, menjadi superpower ekonomi dunia.

Jadi, tanpa penyelesaian berbagai masalah ekonomi yang masih kita hadapi, semua proyeksi tadi hanya akan menjadi mimpi siang hari kita semua. Kita yakin mimpi indah MP3I bisa menjadi kenyataan, kalau semua teknokrat dan decision maker sama-sama berpikir rasional, terukur dan tentu disertainya kemampuan anggaran negara yang memadai. Bukankah ada peribahasa yang mengatakan high capital high return, jangan sebaliknya low capital high return?

BERITA TERKAIT

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

Blue Bird Menelan Pil Pahit Keluar Dari Indeks MSCI - Buntut Likuiditas Terus Melorot

NERACA Jakarta – Ketatnya persaingan bisnis transportasi umum berbasis online, memaksa kue transportasi yang selama ini dinikmati PT Blue Bird…

Infrastruktur Gas untuk Kemandirian Energi Nasional

  NERACA Jakarta - Pembangunan infrastruktur gas yang memadai ke seluruh daerah di Indonesia dengan didukung alokasi anggaran yang mencukupi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kebijakan Impor Belum Signifikan Turunkan Harga Beras

Oleh: Budi Santoso Pasokan beras impor secara bertahap mulai memasuki gudang Perum Bulog dan sampai saat ini tercatat 57.000 ton…

Putusan Mahkamah yang Dinilai Aneh

Oleh: Maria Rosari Beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) memutus tiga perkara permohonan uji materi atas pasal 79 ayat (3)…

Kembalinya Debitur Sontoloyo

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pengamat Perbankan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan berulang-ulang mempersoalkan masalah wait and see dunia usaha.…