Bisnis Tambang Baturabara Masih Stagnan

NERACA

Jakarta – PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memprediksi pasar batubara pada tahun 2014 hampir stagnan, di mana harga dan permintaan tidak akan jauh berbeda dari kondisi tahun 2013 lalu. Sekretaris perusahaan PT Adaro Energy Tbk Devindra Ratzarwin mengungkapkan, Jika ada kemungkinan peningkatan, jumlahnya pun tidak akan banyak. Gerakannya relatif flat di mana posisi persediaan dan permintaan lebih dominan persediaan sedangkan permintaan lebih sedikit. Kondisi ini akan mempengaruhi harga yang akan semakin rendah,”Posisi supply dan demand batubara dalam negeri pun akan sama pada tahun ini, yakni demand tetap ada tetapi supply tetap lebih banyak. Yang lebih tahu trennya tentu ketua APBI Bob Kamandanu”, katanya di Jakarta, Senin (27/1).

Meski begitu, prediksi tersebut menurutnya bukanlah patokan harga dari pihaknya. Karena harga tentu bukan Adaro yang akan menentukan namun berdasarkan supply dan demand. Dia memprediksi harga batubara di 2014 akan sedikit meningkat karena melihat harga patokan batu bara acuan (HBA) dalam negeri dan harga batu bara indeks Newcastle yang sudah memperlihatkan rebound.“Sebelumnya sekitar US$60-76 per ton, sekarang sudah mencapaiUS$80 per ton. Sudah rebound, tetapi belum bisa diatas US$100 per ton,”ujarnya.

Mengenai kinerja akhir tahun dan target tahun ini, menurut dia belum bisa disebutkan, pasalnya perseroan masih memproses laporan akhir tahun 2013. “Nanti akan kita sampaikan, tetapi saat ini masih dalam tahap finalisasi”, katanya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan kuartal ketiga 2013, perseroan mengalami penurunan laba periode berjalan yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 47,21% atau menjadi US$183,70 juta dibandingkan laba tahun sebelumnya yang US$348 juta. Perseroan juga membukukan penurunan pendapatan usaha sebesar US$32 juta menjadi US$2,43 miliar dan beban pokok turun menjadi US$1,87 miliar dari beban pokok sebelumnya US$1,89 miliar.

Laba bruto juga turun menjadi US$560,34 juta dari laba bruto sebelumnya US$862,73 juta. Sedangkan laba usaha melemah menjadi US$417,95 juta dari laba usaha tahun sebelumnya US$730,91 juta. Beban lain-lain tercatat US$86,94 juta turun dari beban sebelumnya US$98,98 juta dan laba sebelum pajak turun menjadi US$331 juta dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya US$631,93 juta.

Namun, perseroan memiliki kapitalisasi pasar saham terbesar di sektor batubara mencapai Rp37,7 triliun. Jumlah ini mencerminkan perubahan 1,72% dengan Earning Per Share 89 dan PE Ratio 13 kali dengan harga saham Rp1.180 per lembar. Kapitalisasi pasar saham merupakan hasil dari harga saham dikalikan jumlah saham yang beredar di bursa.

Adaro mengalahkan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan kapitalisasi saham sebesar Rp34,6 triliun dengan Earning Per Share 2.169 dan PE Ratio 14 kali yang mengalami peningkatan 3,3% dengan harga Rp30.700 per lembar.

Perusahaan lain yang juga bermain di sekktor pertambangan batubara masih jauh di bawah ADRO seperti PT Bayan Resources Tbk dengan kapitalisasi pasar Rp28,9 triliun, PTBA sebesar Rp28,8 triliun, HRUM sebesar Rp9,3 triliun, BUMI sebesar Rp8,9 triliun maupun BRAU sebesar Rp6,5 triliun. (nurul)

Related posts