Presiden Persiapkan RAPBN 2012

NERACA

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden dengan agenda membahas RAPBN 2012 guan disampaikan dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2011 mendatang di DPR/MPR. "Menjelang tanggal 17 Agustus mendatang sebagaimana yang berlangsung setiap tahun, saya akan menyampaikan pidato kenegaraan sekaligus akan menjelaskan RAPBN 2012,” kata SBY saat membuka rapat, Senin (25/7)

Namun demikian, Kepala Negara meminta agar pembahasan RAPBN 2012 dipersiapkan dengan rumusan yang baik dan terkonsep. “Meskipun sudah kita persiapkan RAPBN tahun 2012 dan nota keuangannya tersebut, namun mari kita pastikan bahwa sebelum saya sampaikan di depan joint session antara DPR dan DPD, semuanya telah kita persiapkan, telah kita rumuskan dengan baik," tambahnya.

Dengan persiapan ini, SBY berharap agar pidato yang akan dia sampaikan di hadapan Dewan nanti bisa menghasilkan sesuatu yang terbaik. "Oleh karena itu, pada ratas hari ini, mari kita cek satu per satu, semuanya. Dengan demikian harapan kita, apa yang kita sampaikan pada DPR dan DPR, adalah sesuatu yang terbaik," papar SBY.

Karena itu, lanjut Presiden, dalam penyusunan RAPBN 2012 ke depan ini perlu dipikirkan secara matang dan tepat. "Tapi bagaimana pun harus berangkat dari rencana benar, agenda tepat, dan pertimbangan masak," tutup SBY.

Sementara itu, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa memprediksi inflasi berada di level 5,3% dalam asumsi RAPBN 2012. "Asumsi RAPBN 2012, pertumbuhan ekonomi bergerak dari 6,7 persen dan bergerak ke tujuh persen, lifting 950-970 ribu barel. ICP tidak jauh-jauh dari sekarang USD90-USD95. Inflasi sekira 5,3%. Dolar sekira Rp8.500-Rp9.000. Untuk menekan subsidi BBM, defisit tidak akan seperti APBN-P lagi," jelasnya.

Sementara itu, untuk defisit 2012 nanti, dirinya menyatakan akan berada di bawah 2% . "Defisit kita tentu saja tidak akan seperti 2011, sudah sangat jelas itu, jauh di bawah 2%," imbuhnya.

Adapun kebijakan yang akan dilakukan pemerintah pada 2012 mendatang di antaranya adalah kebijakan dalam subsidi BBM. Menurutnya, penggunaan BBM subsidi tersebut harus disiplin. Apalagi Inpres Nomor 2 tahun 2008 akan segera diaktifkan. "Ada tambahan juga dari beberapa belanja modal kita dan defisit ke depan tidak akan setinggi itu, jauh di bawah dua, yang penting kita bisa handle dengan baik konsumsi BBM subsidi, kalau sekarang naik jadi di 40 juta KL, maka tahun depan harus disiplin, tidak akan boleh lebih dari angka yang ada sekarang ini. Nanti pembahasan mendalamnya ada di dewan. Nanti kami meminta jajaran pemerintah untuk melakukan penghematan melalui inpres Nomor 2 tahun 2008," paparnya. **cahyo

Dirinya juga memastikan jika inpres tersebut harus segera dilakukan. Dia menyarankan bisa mulai dilakukan per 1 Agustus mendatang.

"Besok saya rapat koordinasi seluruh K/L dan seluruh sekjen akan kita ajak untuk melakukan penghematan dengan ukuran yang jelas. Setiap kementerian harus ada yang disebut dengan kelompok atau tim yang betul-betul bertanggung jawab untuk mengawasi. Per 1 Agustus harus sudah jalan. Jadi benchmark yang terakhir itu 10% harus turun dari bulan sebelumnya, misalnya Rp100 perak sekarang, maka minimum berikutnya harus turun minimum 10%. Pengawasan yang melibatkan pemda harus dilakukan," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Presiden Tidak Pernah Intervensi Data BPS

  NERACA Jakarta-Pejabat BPS mengungkapkan, Presiden Jokowi tidak pernah mengintervensi data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik. Pasalnya, kualitas data pertumbuhan…

APPTHI Dorong Barnabas Suebu Ajukan Grasi Ke Presiden

  NERACA Jakarta - Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) mendorong mantan gubernur Papua Barnabas Suebu mengajukan grasi (pengampunan)…

Presiden: WTP Bukan Prestasi, Tapi Kewajiban - TERKAIT LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH 2017

NERACA Bogor – Presiden Joko Widodo menyebut laporan keuangan yang mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK bukanlah sebuah…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PII Dorong Pemda Manfaatkan Skema KPBU

  NERACA   Jakarta - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) mendorong agar Pemerintah Daerah (Pemda) memanfaatkan skema Kerjasama Pemerintah dan…

IIF Dapat Kucuran Rp1 triliun dari JICA - Untuk Bangun Infrastruktur

    NERACA   Jakarta - PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menandatangani perjanjian pinjaman sebesar ¥ 8.000.000.000 atau sekitar Rp…

Pasar Tekstil Tanah Abang Melesu

  NERACA   Jakarta - Penjualan tekstil di Pasar Tanah Abang masih lesu, sehingga beberapa pedagang pakaian jadi pun terpaksa…