Tekanan Terhadap IHSG Belum Beranjak

NERACA

Jakarta – Awal pekan kemarin, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia seharian berada di zona merah. Derasnya aksi jual masif yang dilakukan investor sejak awal perdagangan menjadi pemicunya. Perdagangan kemarin, terlalu banyak sentimen negatif yang beredar membuat investor hengkang sejenak dari lantai bursa. Alhasil, mengakhiri perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 114,563 poin (2,58%) ke level 4.322,780. Sementara Indeks LQ45 terjun bebas 24,639 poin (3,30%) ke level 722,399.

Analis Kresna Securities, Etta Rusdiana mengatakan, aksi ambil untuk mampu merontokkan pergerakan indeks BEI, “IHSG ditutup tertekan menyusul aksi ambil untung pada saham sektor perbankan, konsumer, dan otomotif. Meningkatnya tekanan jual itu tidak terlepas dari tekanan yang terjadi di bursa Asia, terutama terkait dengan kekhawatiran berlanjutnya perlambatan ekonomi di China,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, spekulasi pasar the Fed akan kembali melakukan pengurangan stimulus kembali sebesar US$ 10 miliar, mendorong tekanan di pasar Asia. Padahal keputusan resmi baru akan diumumkan pada hari Kamis (30/01) mendatang.

Dari domestik, lanjut Etta Rusdiana Putra, tekanan di pasar saham domestik dipengaruhi juga oleh kekhawatiran laju inflasi yang akan meningkat seiring dengan banjir yang menghambat distribusi barang,”Kami memperkirakan inflasi Januari berada di kisaran 0,8% meningkat dibanding bulan sebelumnya 0,6% pada Desember 2013. Hal ini menjadi sentimen negatif terhadap indeks BEI,”katanya.

Kata Etta, indeks BEI Selasa diperkirakan masih cenderung tertekan seiring masih beredarnya sentiment negative. Oleh karena itu, IHSG bakal bergerak di kisaran 4.270-4.360. Sebagai informasi, neraca perdagangan Jepang mengalami rekor defisit senilai US$ 112 miliar di 2013, tertinggi sejak 1979, ditambah Wall Street yang juga anjlok jadi sentimen negative menjadi pertimbangan pula bagi investor local dan asing untuk melancarkan aksi jualnya.

Perdagangan kemarin, berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 248.700 kali pada volume 4,606 miliar lembar saham senilai Rp 4,883 triliun. Sebanyak 49 saham naik, sisanya 252 saham turun, dan 53 saham stagnan. Bursa-bursa regional menutup awal pekan dengan kompak terjatuh di zona merah. Aksi jual masif juga terjadi di bursa Asia sehingga koreksi yang terjadi rata-rata cukup dalam.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya SMART (SMAR) naik Rp 250 ke Rp 7.200, MNC Sky (MSKY) naik Rp 125 ke Rp 2.080, Lion Metal (LION) naik Rp 100 ke Rp 12.100, dan Hotel Sahid (SHID) naik Rp 60 ke Rp 390. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.725 ke Rp 40.425, Astra Agro (AALI) turun Rp 1.500 ke Rp 21.250, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.225 ke Rp 25.650, dan Indocement (INTP) turun Rp 1.075 ke Rp 20.225.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah 129,158 poin (2,91%) ke level 4.308,185. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 26,376 poin (3,53%) ke level 720,662. Sentimen negatif dari pasar global dan regional membuat investor melepas saham. Aksi jual terjadi di seluruh lapisan saham tanpa kecuali, membuat koreksi indeks sektoral rata-rata lebih dari dua persen.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 149.540 kali pada volume 3,166 miliar lembar saham senilai Rp 2,869 triliun. Sebanyak 25 saham naik, sisanya 258 saham turun, dan 36 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia masih kompak jatuh di zona merah hingga sesi pertama.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Lion Metal (LION) naik Rp 1.500 ke Rp 13.500, SMART (SMAR) naik Rp 250 ke Rp 7.200, Cakra Mineral (CKRA) naik Rp 49 ke Rp 254, dan Saranacentral (BAJA) naik Rp 25 ke Rp 1.190. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 2.175 ke Rp 39.975, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.125 ke Rp 25.750, Astra Agro (AALI) turun Rp 1.125 ke Rp 21.625, dan Indocement (INTP) turun Rp 1.075 ke Rp 20.225.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 79,61 poin atau 1,79% menjadi 4.357,73, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 26,55 poin (3,55%) ke posisi 720,49. Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, bursa Asia termasuk IHSG BEI kembali terkoreksi menyusul kekhawatiran pasar terhadap kinerja emiten global serta data makro ekonomi dari China dan Jepang yang kurang sesuai dengan ekspektasi pasar,”Pelaku pasar memanfaatkan berbagai sentimen negatif tersebut untuk keluar. Di sisi lain, IHSG BEI masuk dalam area jenuh beli sehingga aksi lepas saham cukup kuat," ungkapnya.

Dia mengemukakan, saham-saham yang sebelumnya masih diharapkan untuk naik mulai melemah, pelemahan indeks BEI juga turut ditunjang dari laju bursa saham AS yang terkoreksi cukup signifikan. Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 498,50 poin (2,22%) ke posisi 21.951,56, indeks Nikkei turun 399,65 poin (2,60%) ke 14.991,91 dan Straits Times melemah 45,87 poin (1,49%) ke posisi 3.030,12. (bani)

Related posts