Bisnis e Wong Cilik Vs Bisnis e Kapitalis - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Selama saya kecil di Jakarta hingga kini tinggal di Malang senantiasa menyaksikan para pebisnis tangguh yang menajajakan produk-produknya kelililng, dari satu RT ke RT lain dari satu RW ke RW lain dan bahkan dari satu kampung ke kampung lainnya. Mereka sudah ada di Indonesia konon sebelum Indonesia merdeka, sehingga bisa dikatakan sudah ratusan tahun bisnis model wong cilik ini beroprasi di bumi Nusantara. Tidak hanya di Jakarta, Malang dan kota-kota besar di nusantara tetapi juga hingga ke pelosok desa pesisir dan pedalaman, bisnis wong cilik ini dapat dengan mudah dijumpai. Tidak banyak berubah kecuali mungkin dari sisi rombong atau kendaraan yang digunakan, kalau dulu banyak dari mereka yang memikul barang jualan lalu berubah dengan menggunakan roda baik yang didorong atau pun dikayuh.

Lalu kini dengan perkembangan teknologi transportasi mereka bisa menggunakan sepeda motor bahkan satu dua ada yang menggunakan mobil pick up atau mini bis sebagai tempat barang jualan sekaligus alat transportasi mereka yang membawanya dari satu desa ke desa lain. Mereka tidak neko-neko dalam berjualan, harga barang yang dijual biasanya tidak terlalu mahal sehingga keuntungan yang diperoleh tidak seberapa. Bagi mereka yang penting usahanya tetap dapat berjalan dan memperoleh sedikit keuntungan untuk nafkah anak istri dan keluarga.

Terkadang suami yang berdagang dibantu juga oleh anak dan istri, mereka adalah pekerja keras dan amat mulia meski penghasilan bersih yang diperolehnya mungkin jauh dari perolehan pengemis di jalan-jalan. Namun, dalam pemahaman agama Islam sosok mereka itu adalah orang yang amat menjaga martabat dan kemuliaannya sebagai orang yang beragama untuk terus bisa menyambung hidup dengan cara halal lagi baik. Meski seringkali untung yang didapat tidak mencukupi kebutuhan primer dan sekunder seperti kebutuhan sandang serta pendidikan anak, namun mereka pantang mengemis di belas kasihani. Orang-orang yang seperti ini oleh agama sebenarnya yang perlu mendapatkan haknya dari kalangan berpunya. Mereka, sebagaimana dipaparkan dalam ajaran agama tidak menampakkan diri sebagai orang tak berpunya meski sebenarnya mereka hidup dalam kekurangan.

Usaha wong cilik ini berupa barang yang untuk dijual maupun memeberikan jasa, misal penjual donat, penjual bakso, tukang sayur, tukang sol sepatu, tukang servis payung dan lain sebagainya. Namun mereka dalam mematok harga tidaklah memberatkan kastemernya, mereka tidak mengambil keuntungan besar. Hal ini tentu berbeda ketika bisnis tersebut dikelola dengan manajemen modern. Dengan dalih bahwa manajemen modern selaluiberupaya meningikat "added value" pada barang yang dijual lalu kue donat pun di jual di ruang berpendingin seperti di Mol dan harganya naik berkali-kali lipat dibanding yang dijual penjaja keliling.

Kondisi serupa terjadi dalam penjualan barang dan pelayanan jasa lainnya manakala usaha tersebut bersinggungan dengan penerapan teknologi yang "dipaksa' untuk digunakan dalam melakukan bisnisnya. Manakala bisnis wong cilik itu sudah ditangan pemilik modal besar (kapitalis) dan tempat jual dibuat sedemikian menarik walau menghabisakan banyak biaya, namuan sang kapitalis tentu yakin modal miliknya akan segera kembali karena barang-barang yang dijual memiliki "nilah tambah", sehingga dapat dijual mahal. Dengan penerapan manajemen modern dan sistem kapitalis tersebut harga bakso yang lima ribu rupiah akan menjadi duapuluh ribu rupiah di tempat-tempat pendingin ruangan.

Tempat yang dikatakan nyaman itu yang membuat harga-harga konsumen naik. Pada gilirannya biaya rumah tangga meningkat akibat "terbujuk" dengan promosi membeli barang di mol, pusat perbelanjaan modern yang sudah jelas-jelas berbiaya tinggi. Alhasil, apabila perilaku konsumen yang terus menerus membeli barang-barang yang sudah dibandrol mahal ini semakin banyak maka ancaman inflasi selalu menggayut negeri ini. Anehnya, masyarakat luas termasuk kita justeru menikmati model bisnis kapitalisme ini yang telah terlanjur merebak dan merasuk ke sendi-sendi perekonomian bangsa.

Tren gaya hidup di negeri ini sudah dipengaruhi tren gaya hidup global, sehingga lambat laun tata cara dalam berkehdupan masyarakat pun berubah. Makan bakso di Mol dianggap lebih mentereng dan gaul dibanding makan bakso dari penjual keliling. Alasan kebersihan dan kesehatan kerap diajukan untuk tidak memakan bakso di pedagang keliling bukannya berupaya untuk bersama-sama mengedukasi pedagang-pedagang UKM dan sektor informal tersebut untuk meningkatkan kualitas makanannya. Perhatian dan tentunya bantuan langsung dari pemerintah amat dibutuhkan untuk mencegah agar UMKM dan sektor usaha informal yang masih tetap bertahan ini dapat menampilkan kualitas lebih baik.

Kesederhanaan, menerima keuntungan sewajarnya dan bekerja keras merupakan fenomena yang tampak pada bisnis kaum cilik yang disebut pemerintah sebagai Usaha Mikro Kecil Mengengah (UMKM) atau sektor bisnis informal. Mereka berbisnis wajar dan sesungguhnya usaha mereka itu menghindarkan negara dari anca,an inflasi karena mereka tidak melakukan "mark up" gila-gilaan sebagaimana sistem kapitaslime biasanya bekerja dalam berbisnis. (uin-malang.ac.id)

Related posts