Bencana Alam dan Sovereign Risk

Oleh : Tumpal Sihombing

Founder and CEO BondRI

Mungkin para pembaca masih ingat dengan Jepang yang beberapa tahun lalu pernah dilanda tsunami, yang berlanjut dengan rontoknya reaktor nuklir Fukushima di negara tersebut. Pra bencana, Jepang merupakan negara maju di Asia dengan peringkat investasi top. Beberapa lembaga pemeringkat internasional saat itu sempat menurunkan peringkat Jepang. Namun oleh karena pemerintah Jepang saat itu sangat tanggap dan lihai dalam menangani bencana, penanganan komunikasinya ke publik internasional pun juga sangat baik, peringkat sovereign dapat kembali normal hanya dalam jangka waktu yang sangat singkat.

Saat ini negara Indonesia sedang mengalami bencana alam. Sudah dipastikan, hal ini bakal memberikan kontribusi negatif bagi kondisi perekonomian nasional. Apakah peringkat nusantara berpotensi turun akibat bencana alam ini? Jawabannya akan sangat tergantung pada efektivitas set kebijakan, implementasi serta respon pemerintah terhadap bencana, termasuk pola komunikasinya kepada masyarakat masyarakat internasional.

Jika bencana ditangani dengan baik namun dengan komunikasi yang buruk, publik tetap kecewa. Jika bencana ditangani dengan buruk tanpa komunikasi yang baik, publik juga bisa kecewa, dan malah boleh jadi menyebutnya sebagai upaya pencitraan. Apapun kebijakan yang dirumuskan, apapun langkah yang dilakukan oleh Pemerintah, akan sangat berpengaruh pada persepsi investor (domestik dan global) akan kondisi pasar dan daya tahan perekonomian Indonesia.

Secara umum, bencana yang terjadi akan menyebabkan harga-harga barang dan jasa mengalami kenaikan, disebabkan semakin mahalnya komponen biaya transportasi dan komponen terkait lainnya di dalam perekonomian. Artinya, laju inflasi tinggi akan menjadi ancaman nyata perekonomian. Dalam kondisi bencana, distribusi barang dan jasa pasti mengalami kemandekan, yang menyebabkan frekuensi dan volume transaksi dalam sistem ekonomi otomatis berkurang. Saat ini, dalam kondisi jumlah uang yang beredar (M0) yang sedang meningkat drastis, ancaman laju inflasi skala domestik ada di depan mata.

Konsekuensi logisnya, investor boleh jadi mulai merasa kuatir dengan investasi di Indonesia. Mereka akan menaikkan expected yield (return) yang disesuaikan dengan tingkat risiko yang meningkat. Hal ini akan terjadi baik di pasar uang maupun di pasar modal (yield obligasi acuan). Dari data rilis Tresuri (BondRI Scorecards Set), hal tersebut sudah eksplisit yang terindikasi dari naiknya tingkat imbal hasil obligasi pemerintah untuk semua rentang tenor (turunnya indeks obligasi pemerintah BondRI IHOG-FRID sejak 16 Jan.2014). Jika hal ini konsisten berlanjut, maka perekonomian kita bakal sulit membendung tren depresiasi Rupiah yang membuka peluang besar naiknya figur sovereign CDS (credit default swap) kita, yang selanjutnya berpotensi menurunkan peringkat nusantara.

Belajar dari Jepang, jika pemerintah tak ingin peringkatnya turun, tak ingin capital outflow terjadi dari pasar domestik, ada baiknya Pemerintah bersikap tanggap dan segera menerapkan kebijakan/ komunikasi yang efektif dalam jangka waktu yang sesingkat mungkin.

Related posts