Masyarakat Merasa Terobati Saat Kunjungan SBY ke Sinabung - Oleh: Magdalena Br. Aritonang

Mejuah-juah! Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas kunjungannya ke pengungsian Gunung Sinabung. Sebagai masyarakat yang jauh dari ibukota yang kini tengah mengungsi akibat letusan Gunung Sinabung tentu merasa sangat terobati atas kunjungan Bapak.

Sementara sebelum keberangkatannya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (23/1) mengemukakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungannya ke Karo untuk mencari solusi penanganan Sinabung telah memberikan empat arahan yang harus dituntaskan dalam penanganan erupsi Sinabung, yaitu pertama penanganan bencana sesuai prioritasnya.

Pemerintah kabupaten dibantu pemerintah provinsi dan Badan Nasional Penannggulangan Bencana (BNPB). Utamakan penyelamatan jiwa. Jangan ada korban. Arahan kedua, adalah pemenuhan kebutuhan dasar, psikologis dan sosial. Pendidikan tidak boleh ada yang drop out, dan mengupayakan mata pencaharian apa yang harus dilakukan di pengungsian.

Arahan ketiga Presiden soal solusi pertanian, baik berupa pemberian bibit pertanian maupun bantuan kredit. Bantuan perbankan diberikan bagi yang tidak bisa mengembalikan pinjaman karena pertaniannya hancur. Presiden juga menekankan soal relokasi penduduk yang tinggal di radius 3 km karena tidak aman. Kegiatan pertanian boleh dilakukan tetapi tempat tinggalnya harus di luar lahan itu.

Setibanya di tempat pengungsian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meninjau tiga lokasi pengungsi korban letusan gunung Sinabung, Kamis (23/1). Ketiga lokasi itu semuanya berada di Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut) yang berjarak sekitar 10 kilometer dari kaki gunung Sinabung.

Lokasi pertama yang dikunjungi SBY adalah Mesjid Raya, Kabanjahe. Terdapat 747 pengungsi di tempat tersebut. Kemudian SBY mengunjungi pengungsi di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Terdapat 207 pengungsi di tempat tersebut. Tempat terakhir, Presiden menemui 500 pengungsi di Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus.

Presiden pun menginap di tempat tersebut bersama pengungsi. Presiden bersama dengan para pengungsi tidur di bawah tenda.

Saat berada di GBKP, Presiden menjelaskan kedatangannya ke Sinabung untuk menyelamatkan para pengungsi. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada korban jiwa akibat letusan gunung Sinabung. Dia juga ingin memastikan bahwa pelayanan yang dilakukan oleh aparatnya kepada para pengungsi benar-benar berjalan.

Pelayanan seperti makanan, minum, pengobatan, dan kebutuhan lainnya harus benar-benar tersedia sehingga pengungsi tidak terlantar. Kemudian Presiden menegaskan akan membantu para petani yang lahan pertaniannya rusak karena abu vulkanik gunung Sinabung.

Kedatangan Presiden Yudhoyono di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut) bertujuan meninjau langsung lokasi bencana dan juga ingin melihat dengan mata kepala sendiri kondisi “penanganan” pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung. Dengan melihat langsung, Presiden tidak perlu lagi disodori data-data “dramatis” untuk melukiskan bagaimana menderitanya masyarakat di pengungsian.

Masyarakat Kabupaten Tanah Karo barangkali belum mengenal Presiden Yudhoyono secara dekat. Akan tetapi kehadiran beliau di sana – walau hanya singkat – di tengah suasana duka dan keterpurukan, tentulah akan membawa kesan mendalam di hati masyarakat Kabupaten Tanah Karo terutama pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut) . Perhatian bisa mendatangkan cinta. Mejuah-juah! Bapak Presiden. (mimbar-opini.com)

Related posts