Industri Pasar Modal Krisis Analis Pasar

NERACA

Jakarta – Tantangan industri pasar modal kedepan tidak hanya dari segi minimnya transaksi, jenis produk, jumlah emiten atau jumlah investor. Namun juga sumber daya manusianya, khususnya para analis pasar modal yang masih sedikit dibandingkan dengan negara tetangga.

Hal tersebut diakui langsung, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, bila saat ini kebutuhan analis di industri pasar modal Indonesia masih besar, “Makin banyak emiten dicover' oleh analis, maka pasar modal kita akan semakin dilihat,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Lanjutnya, saat ini total analis di Indonesia sekitar 400 orang dan yang terdaftar di AAEI sebanyak 300 orang. Namun, yang sudah mendapat sertifikasi Certified Securities Analyst (CSA) baru mencapai 126 orang.

Menurut dia, jumlah analis dan Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE) saat ini juga dinilai tidak seimbang dibandingkan jumlah investor yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang berjumlah sekitar 480.000,”Memang tidak ada angka ideal untuk satu analis mengcover' berapa investor atau emiten. Jadi, pertumbuhan analis seharusnya selaras dengan pertumbuhan emiten," katanya.

Oleh sebab itu, Haryajid menilai, industri pasar modal di Indonesia kritis akan kebutuhan analis karena setiap tahunnya ada beberapa tambahan emiten baru. Tahun ini saja, BEI menargetkan ada 30 emiten baru. Artinya, jika setiap tahun jumlah analis tidak bertambah, maka semakin banyak juga sektor yang tidak dicover analis.

Maka atas dasar itu pula, AAEI menargetkan Indonesia setidaknya memiliki 1.000 analis pasar modal di akhir tahun 2014. Caranya, AAEI menjalin kerjasama dengan BEI, universitas terkemuka di Indonesia, dan ikatan alumni CSA yang bisa dijadikan wadah dan forum diskusi sehingga jangkauan analis bisa semakin luas,”Kami juga buat standar profesi untuk analis sehingga mereka benar-benar memiliki kompetensi dan integritas,”kata Haryajid.

Sementara itu, Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengatakan bahwa jumlah pertumbuhan profesi di pasar modal masih minim, apalagi yang memegang lisensi resmi."Jumlah pemegang lisensi perusahaan efek totalnya sekitar ribuan orang. Akan tetapi, mungkin sudah banyak yang pegang lisensi sudah pensiun atau sudah tidak aktif lagi karena sudah jadi pimpinan. Seperti saya juga pemegang lisensi tetapi sekarang sudah di bursa," ujarnya.

Kata Ito, masih minimnya jumlah analis di pasar modal itu tidak cukup untuk memberikan penilaian dan ulasan terhadap kinerja dan prospek semua emiten di BEI,”Artinya, kalau setiap tahun analis tidak bertambah, makin banyak emiten yang tidak ter-'cover'. Karena jumlah emiten terus bertambah," tuturnya.

Ito mengatakan bahwa banyak emiten yang memiliki kinerja positif tetapi tidak dikawal analis. Padahal, analis merupakan salah satu faktor untuk menambah pasar modal bergairah dan semarak. (bani)

Related posts