Mendadak Jadi Caleg - Oleh: Ahmad Halim, Staf Divisi Pengawasan Bawaslu Provinsi DKI Jakarta

Meskipun komisi pemberantasan korupsi (KPK) telah banyak menangkap anggota dewan perwakilan rakyat. Namun, antusias masyarakat untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif tidak lantas berkurang, justru semakin bertambah banyak. Dari mulai selebritas, pengusaha, pensiunan militer/PNS, tukang baso, tukang ojek hingga pengganguran pun ikut mencoba mengadu nasihnya di pemilihan umum (Pemilu) 2014 nanti.

Mayoritas mereka yang ingin mencalonkan diri menjadi Caleg hanya bermodalkan popularitas, belaskasihan dan uang. Sebab, yang ada dibenak masyarakat saat ini adalah hidup aman, nyaman, dan sejahtera.

Padahal, jika ingin menjadi anggota dewan perwakilan rakyat, seseorang tidak boleh hanya mengandalkan belaskasihan, uang, dan popularitas. Namun, seorang Caleg harus memenuhi tiga faktor yang saling berkaitan untuk melancarkan jalan menuju senayan. Faktor pertama yaitu mengandalkan hubungan emosional. Bagi seseorang yang ujuk-ujuk ingin mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan tidak memiliki hubungan emosional terhadap masyarakat dan daerah pemilihannya (Dapil), sudah pasti Caleg tersebut akan gagal menjadi anggota dewan pada 9 April nanti. Pasalnya, menjadi seorang Caleg haruslah banyak teman dan jaringan sosial yang memiliki gubungan emosional agar bisa ikut menarik teman, saudara atau tetangga untuk mendukung si Caleg agar terpilih.

Lalu, faktor yang kedua yaitu seorang Caleg harus juga memiliki kecerdasan. Menurut penulis. faktor pertama (hubungan emosional) tidak akan berhasil, jika Caleg yang ditawarkan teman, saudara atau tetangga tidak memiliki kecerdasan. Pasalnya, masyarakat menyadari bahwa pekerjaan yang nanti akan dijalani oleh anggota legislatif yaitu pengawasan, budget dan legislasi. Dan hal tersebut memerlukan pengetahuan yang luas dan pemahaman secara spesifik. Dan penulis pikir masyarakat akan mempertimbangkan hal itu dalam pencoblosan nanti.

Kemudian, faktor yang terakhir yaitu uang. Uang memang bukan segalanya, tetapi tanpa uang hampir mustahil seorang Caleg bisa menjadi anggota legislatif. Namun, perbedaannya dengan caleg yang mendadak dan ujuk-ujuk nyaleg ialah uang yang dikeluarkan tidak besar. Caleg yang sudah memenuhi kedua faktor tersebut hanya butuh mencetak alat peraga untuk berkampanye saja, karena hubungan emosional dan kecerdasan si Caleg tersebut sudah mengikat hati masyarakat.

Oleh karena itu, menurut penulis bagi masyarakat yang tidak memiliki ketiga faktor tersebut, penulis hanya bisa menyarankan bahwa lebih baik tidak mencalonkan diri atau mundur menjadi anggota legilsatif jika tidak ingin sakit hati akibat tidak diberi kepercayaan untuk menjadi wakil rakyat.

Banyak Jalan Menuju Roma

Pasca pemilihan umum (Pemilu) anggota legislatif 2009 lalu, Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat (BKJM) Kalawa Atei Palangkaraya menyebutkan bahwa ada dua calon anggota legislatif mengalami gangguan jiwa. Caleg tersebut gila setelah mengetahui bahwa dirinya tidak lolos menjadi anggota legislatif.

Semua calon anggota legislatif kemungkinan akan mengalami hal yang serupa yaitu masuk ke dalam rumah sakit jiwa, jika mereka (Caleg) tidak memenuhi syarat ketiga faktor tadi, dan si Caleg terlalu percaya diri jika suara masyarakat bisa dibayar.

Jika kita bertanya kepada calon anggota legislatif (Caleg) terkait kenapa anda mencalonkan diri sebagai anggota legislatif? Berbagai jawaban positif pun akan keluar dari mulut para Caleg seperti, ingin melakukan perubahan, membebaskan rakyat dari kemiskinan, membasmi para koruptor, dan seterusnya. Jawaban-jawaban tersebut secara fundamental baik, bahkan menurut saya sangatlah baik. Akan tetapi, jawaban tersebut tidak realistis jika Caleg yang menjawab tidak memenuhi syarat ketiga faktor tersebut yaitu hubungan emosional, kecerdasan dan uang/modal.

Kemudian, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah harus menjadi seorang anggota legislatif jika ingin melakukan perubahan, membasmi koruptor, dan mensejahterakan rakyat? Apakah harus menjadi anggota dewan dahulu, jika ingin membantu dan menolong orang-orang miskin? Jawabanya tentu tidak. Karena menurut saya ‘banyak jalan menuju roma’. Artinya masuk menjadi anggota legislatif adalah salah satu cara dari banyak cara untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Menjadi calon anggota legislatif seakan-akan menjadi suatu kebanggaan dalam diri seseorang, meskipun tanpa kredibilitas dan kapasitas tertentu. Bahkan sebagian hanya bermodalkan status sosial dan sumber daya finansial. Tetapi karena kondisi dan system pemilu (daftar professional terbuka) memberikan ruang, kemudian masyarakat berbondong-bondong ikut-ikutan nyaleg berharap Tuhan memberikan ‘keajaiban’ sehingga dapat merubah nasib kondisi perekonomiannya.

Citra anggota legislatif yang memiliki gaji besar, hidup dalam kesenangan, serba kecukupan, dan dipandang sebagai orang yang cerdas, menjadikan masyarakat ‘nekat’ mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, dan hal tersebut akan terus ada pada setiap pemilihan umum (Pemilu) jika, ada seorang Caleg yang hanya bermodalkan status sosial dan sumber daya finansial terpilih menjadi anggota dewan.

Oleh karena itu masyarakat haruslah memilah dahulu sebelum menentukan pilihannya pada 9 April 2014 nanti dengan cara melihat treack recaud, baik dari segi moralitas, kapabilitas, kualitas, dan integritas sang Caleg, agar kedepannya anggota dewan perwakilan rakyat (DPR, DPD dan DPRD) di isi dengan orang-orang yang memiliki karakter, berbasisi ideologi kebangsaan, berkomitmen menegakkan pancasila dan undang-undang dasar (UUD) 1945. (haluankepri.com)

Related posts