free hit counter

KRISIS EKONOMI, POTENSI BANGKRUTNYA PERBANKAN DAN DANA ILEGAL PEMILIHAN PRESIDEN 2014 (1)

Oleh: Salamuddin Daeng, Peneliti Institute for Global Justice (IGJ)

Senin, 27/01/2014

 Tahun 2014 adalah tahun “vivere pericoloso" hidup secara berbahaya, bukan hanya karena tahun ini merupakan tahun politik Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden, juga karena tahun ini adalah puncak dari krisis ekonomi sejak 2008 lalu disertai dengan konflik politik diantara faksi nasional yang kian memuncak. 

Paling membahayakan apabila situasi krisis ekonomi bertemu dengan krisis politik, yang akhirnya menjadi ruang bagi tindak korupsi sektor perbankan dan keuangan. Ingat sejarah hitam perbankan Indonesia sejak krisis 1998, negara dirugikan ratusan triliun dan mewariskan utang negara yang tampaknya tidak akan pernah dapat terbayarkan. 

Tekanan pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2013 dipengaruhi oleh meningkatnya defisit transaksi. Defisit transaksi berjalan diperkirakan mencapai 3,5% dari PDB, dari defisit pada tahun 2012 sebesar 2,8% dari PDB. Angka ini jauh diatas asumsi pemerintah dan para analis ekonomi. Peningkatan defisit neraca transaksi berjalan terutama disebabkan menurunnya ekspor non-migas, meningkatnya impor migas dan kebutuhan pokok lainnya.

Akibatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot, sementara Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi melalui 2 (dua) hal: (1) intervensi pasar uang dengan mengorbankan devisa negara yang tersisa untuk membeli rupiah dan (2) menaikkan suku bunga acuan BI rate secara terus menerus. Baru-baru ini BI telah menetapkan suku bunga sebesar 7,5 %, dalam rangka menahan gejolak rupiah. Alhasil, sejak Juni 2013 BI Rate sudah naik hingga 175%. Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebagai antisipasi inflasi dan terpuruknya rupiah.Next