Banjir Melanda, Stok Beras Jakarta Turun 15%

NERACA

Jakarta – Akibat musim hujan yang menyebabkan banjir di beberapa wilayah di Jakarta membuat stok cadangan beras di Jakarta mengalami penurunan. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa stok beras di Pasar Induk, Cipinang, Jakarta Timur saat ini mencapai 29.996 ton atau cukup untuk memenuhi kebutuhan beras di Jakarta dalam waktu 10 hari kedepan.

Namun demikian, Bayu mengatakan bahwa stok ini mengalami penurunan drastis bila dibandingkan dengan Desember 2013, dimana stok beras mencapai 37.708 ton atau turun 15,32% dibandingkan saat ini. “Kedatangan beras memang agak berkurang masuk ke Pasar Induk Cipinang biasanya 2.500 ton sekarang 2.000 ton (per hari) murni karena distribusi yang terhambat,” kata Bayu di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Namun, pihaknya memastikan bahwa tidak ada ganggung produksi padi akibat musim hujan dan banjir yang melanda beberapa sentra produksi beras di Pulau Jawa seperti Kerawang dan Cirebon. Menurutnya pada bulan Januari ini masuk musim tanam bukan musim panen sehingga tidak berpengaruh kepada produksi padi. Namun berpengaruh pada kegiatan panen yang akan molor karena akan ada penanaman benih ulang. “Produksi beras belum ada gangguan karena sekarang ini musim tanam dan umur padinya masih 1-2 bulan jadi belum panen,” tegas Bayu.

Menurut Bayu, pemerintah khususnya Kementerian Pertanian sudah menyiapkan langkah antisipasi agar pola tanam tetap dilakukan. Cara ini dilakukan agar musim panen tidak terlalu mundur lama sehingga tidak timbul kelangkaan beras. “Kementan akan menyiapkan kebijakan untuk memastikan diganti benih yang terkena banjir dan ditanam ulang,” imbuhnya.

Di Jakarta, Pemprov DKI memastikan logistik untuk para korban banjir, seperti beras akan selalu tersedia. Di Jakarta Selatan, Sudin Sosial setempat masih memiliki stok beras hingga 50 ton yang diprediksi cukup hingga dua pekan ke depan. “Kita masih punya stok beras sebanyak 50 ton untuk berjaga-jaga menyediakan makan untuk para warga yang mengungsi,” ujar Kepala Seksi (Kasie) Bantuan Sosial, Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Sumadi.

Dikatakan Sumadi, untuk jumlah beras sebanyak 50 ton diperkirakan bisa digunakan untuk dua minggu lebih. “Untuk pengeluaran stok beras, kita lihat kondisinya. Kalau kondisinya masih seperti ini, dimana air diperkirakan masih naik, ya mungkin masih bisa untuk stok lebih dari 14 hari,” katanya.

Namun, pihaknya selalu siap untuk berkordinasi dengan Kementerian Sosial maupun Bulog agar stok beras tetap tersedia. Dengan begitu, para pengungsi diminta untuk tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan pasokan makanan saat berada dipengungsian. "Saat ini kita juga sudah mengajukan untuk stok tahun 2014. Tapi kalau stok sekarang habis ya akan langsung dikordinasikan dengan Dinas, Kementerian dan Bulog," ucapnya.

Ditambahkan Sumadi, pendistribusian makanan memang tidak banyak. Karena setiap titik wilayah banjir dan pengungsian sudah didirikan dapur-dapur umum. "Kan sudah ada dapur umumnya, kita tinggal pasok beras dan bahan-bahan untuk memasaknya. Paling di dapur kita sediakan 3.000 nasi bungkus, untuk back up wilayah yang masaknya kurang cepat," tuturnya.

Dari info yang dihimpun menyebutkan, hingga pukul 11.00 tadi, ketinggian air di Katulampa dikisaran 80 sentimeter atau siaga 4. Sedangkan ketinggian air di pintu air Depok masih 195 sentimeter atau siaga 4. Sementara ketinggian air di pintu Manggarai 820 sentimeter atau siaga 3. "Saat ini juga kondisinya masih ada hujan, jadi bisa naik tiba-tiba. Warga harus tetap siaga dan hati-hati," tandasnya.

Terendam Banjir

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengungkapkan bahwa sejumlah sentra-sentra produksi pangan mengalami kendala yaitu banjir. Pasalnya ribuan hektar sawah dan tanaman tergenang air sehingga menyebabkan gagal panen. “Jelas saja banjir mengganggu produksi tanaman. Yang paling terasa adalah tanaman hortikultura seperti sayur-sayuran yang mengalami gagal panen,” kata Winarno.

Menurut dia, ada puluhan Kecamatan di Pulau Jawa yang menjadi sentra-sentra produksi komoditas pertanian yang tergenang air. “Di Bekasi ada 23 Kecamatan yang tergenang air, 24 Kecamatan di Kerawang, 10 Kecamatan di Subang, 12 Kecamatan di Indramayu, dan 6 Kecamatan di Cirebon,” tambah dia.

Akibat banjir-banjir tersebut, kata dia, maka bisa mengganggu pasokan pangan. Terlebih 60% konsumsi nasional berada di Jawa, sementara Pulau Jawa terkena dampak banjir yang cukup parah. “Ketersediaan menjadi ancaman. Maka dari itu, pemerintah harus bergerak cepat agar tidak ingin kekurangan bahan pangan menghadapi musim hujan,” imbuhnya.

Related posts