Kemendag Buka Kran Impor Cabai dan Bawang - Harga Merangkak Naik

NERACA

Jakarta – Banjir yang melanda beberapa wilayah di Indonesia telah menyebabkan produksi dan alur distribusi menjadi terhambat. Alhasil, beberapa komoditas pangan mulai merangkak naik. Guna meredam dan menstabilkan harga tersebut, Kementerian Perdagangan akan membuka kran impor untuk cabai dan bawang merah.

“Saat ini impor cabai dibuka,” ungkap Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Jakarta, akhri pekan lalu.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah mengeluarkan kebijakan pembukaan keran impor di awal tahun ini untuk cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan bawang merah. Izin impor telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan. Namun, impor bisa dilakukan, bila harga ketiga komoditas tersebut di atas referensi harga yang ditentukan.

Artinya, bila harga eceran di atas harga patokan (referensi), maka impor bisa langsung dilakukan. Sebaliknya, bila harga kembali normal atau di bawah harga patokan, maka impor ditutup. Untuk harga referensi yang telah ditetapkan pemerintah, bawang merah adalah sebesar Rp 25.700/kg, cabai merah keriting Rp 26.300/kg, dan cabai rawit seharga Rp 28.000/kg.

Data Kementerian Perdagangan terkait rekapitulasi penerbitan Surat Perizinan Impor (SPI) produk hortikultura per komoditas tahun ini menunjukkan, untuk pengajuan cabai sebanyak 130 ton, sedangkan bawang merah mencapai 82.154 ton. Selain itu, pengajuan importasi sayur-mayur antara lain kentang segar sebanyak 2.698 ton, bawang bombay segar 87.587 ton, dan wortel 44.415 ton.

Khusus impor cabai, Bayu menambahkan, tampaknya akan sedikit mengalami kesulitan. “Tidak banyak yang menyediakan cabai segar. Ada di Thailand, tapi kalau dibawa ke sini perlu waktu 7 sampai 10 hari. Kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dalam masalah stok dan produksi cabai dalam negeri. Januari ini memang produksinya rendah,” kata dia.

Sementara itu, akibat banjir dan terputusnya jalur distribusi, harga semua jenis cabai dan bawang merah hari ini memang mengalami kenaikan sebesar 12-20%. Berikut harga eceran terkini 3 komoditas tersebut Cabai merah naik menjadi Rp 48.000/kg dari sebelumnya Rp 45.000/kg. Cabai hijau naik menjadi Rp 22.000kg dari sebelumnya Rp 18.000/kg, Cabai rawit merah naik menjadi Rp 38.000/kg dari sebelumnya Rp 34.000/kg, Cabai rawit hijau naik menjadi Rp 34.000/kg dari sebelumnya Rp 19.000/kg, Bawang merah naik menjadi Rp 25.000/kg dari sebelumnya Rp 22.000 per kg.

Seperti diketahui, harga cabai-cabaian di pasar terasa kian meningkat. Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia, Ngadiran, mencatat harga cabai keriting naik dari Rp30.000 menjadi Rp46.000 per kilogram. Harga cabai rawit dan cabai merah besar juga tidak ada bedanya dengan harga cabai rawit keriting. “Tapi, kalau harga cabai merah hijau itu naik jadi Rp32.000 per kilogram, tadinya Rp18.000 per kilogram,” kata Ngadiran.

Bawang merah pun naik Rp6.000 per kilogram, dari Rp16.000 jadi Rp22.000 per kilogram. Sementara itu, bawang putih stabil bertengger di angka Rp13.000 per kilogram. Adapun harga kentang naik Rp4.000 per kilogram, dari Rp7.000 jadi Rp11.000 per kilogram. Demikian pula harga kol naik dari Rp3.500 menjadi Rp6.000 per kilogram. Harga sawi bahkan naik dua kali lipat, dari Rp2.000 jadi Rp4.000 per ikat.

Tidak Mau Susah

Kebijakan pemerintah yang mempermudah impor mendapatkan kritik dari Peneliti Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Ina Primiana. Ia mengkritik tindakan pemerintah yang tidak mau susah dengan mengambil keputuan untuk mengimpor produk hortikultura seperti bawang merah dan cabai rawit. Persoalan ditambah dengan mudahnya keputuan pemerintah membuka keran impor cabai dan bawang merah.

“Saya bingung melihat tindakan pemerintah yang melakukan importasi bawang merah dan cabai rawit tetapi tidak memperbaiki kondisi di dalam negeri. Ada apa dengan pertanian kita?” ujarnya.

Dia menegaskan, importasi bisa dilakukan jika produksi produk hortikutura itu memang tidak ada. Namun seharusnya pemerintah bisa belajar dari pengalaman tersebut, dan mengantisipasinya. Sehingga angka impor semakin tahun semakin kecil. Namun faktanya, saat ini nilai impor semakin tahun bertambah besar. “Kalau kata saya, pemerintah tidak mau susah, dan mengambil keputuan dengan mudah. Indonesia kan luas, seharusnya dipersiapkan pemerataan, manajemen stok, dan basis produksinya,” kata Ina.

Dia menambahkan, Indonesia adalah negara yang tidak terlalu kaya, namun mengalami defisit yang terlalu banyak akibat impor. Ina khawatir, efek terburuk jika pemerintah terus-menerus mengimpor dapat membuat Indonesia menjadi ketergantungan. Selain itu, dengan masuknya produk impor dapat membuat mata penaharian petani produk hortikultura terancam. Hal ini dikarenakan petani harus bersaing dengan produk impor. “Padahal, negara maju seperti Amerika Serikat (AS) saja mengatakan bahwa impor dapat memiskinkan negara,” ujarnya.

Related posts