Perikanan Tangkap Susun Rencana WPP-NRI 718 - Pengelolaan Sumber Daya Laut

NERACA

Jakarta - Sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan yang begitu berlimpah, pemberdayaan dengan berdasarkan pendekatan ekosistem menjadi hal yang mutlak dilakukan bagi Indonesia. Oleh karenanya pemerintah berupaya terus menciptakan kondisi lingkungan laut sehat dan lestari sehingga mampu mengontribusi penyediaan sumber daya yang berkelanjutan.

Itu sebabnya, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), Kemenetrian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyusun Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 718 atau yang disebut dengan RPP WPP-NRI 718.

Gellwynn Jusuf, Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Tangkap KKP, mengatakan mengelola perairan yang demikian luasnya bukanlah suatu perkara mudah. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Salah satunya yang sekarang sedang dilakukan DJPT KKP adalah menyusun RPP. Rencana pengelolaan tersebut akan diaplikasikan di perairan Laut Arafura, Laut Aru dan Laut Timor bagian Timur atau lebih tepatnya di 718, maka dari itu konsep baru ini disebut RPP WPP NRI 718.

“Sampai dengana saat ini pemerintah seperti tak pernah lelah berkomitmen sekaligus berupaya untuk menciptakan kondisi lingkungan laut seperti yang diharapkan, tujuannya tentu keberlangsungan pemanfaatan laut dan demi kesejahteraan rakyat Indonesia, khususnya para nelayan,” kata Gellwynn dalam siaran pers yang diterima redaksi Neraca, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut Gellwynn mengatakan bahwa dokumen Rencana Pengelolaan Perikanan WPP-NRI 718 berorientasi pada 3 hal yaitu pertama, pengembangan kelembagaan pengelolaan yang mengedepankan pendekatan partisipasi pemangku kepentingan di pusat, provinsi, kabupaten/kota, azas transparansi dan akuntabilitas publik. Kedua mempromosikan pengelolaan sumberdaya ikan dengan pendekatan ekosistem untuk mewujudkan Blue-Economy pembangunan Kelautan dan Perikanan dalam rangka mendukung ketahanan pangan, pengurangan kemiskinan, peningkatan daya saing dan pembangunan berkelanjutan.

Ketiga, pemberantasan kegiatan IUU fishing dengan partisipasi aktif pemangku kepentingan, karena diduga Indonesia mengalami kerugian akibat kegiatan IUU fishing di WPP-NRI 718. “Sumberdaya ikan di WPP-NRI 718 sangat penting dalam perikanan Indonesia, maka dari itu perlu dibuat rencana pengelolaan perikanan didaerah tersebut,” terangnya.

Terbesar di Dunia

Dalam keterangan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo Dasar laut Indonesia sangat kompleks dan tidak ada negara lain yang mempunyai topografi dasar laut begitu beragam seperti Indonesia. Hampir segala bentuk topografi dasar laut dapat dijumpai, seperti paparan dangkal, terumbu karang, lereng curam maupun landai, gunung api bawah laut, palung laut dalam, basin atau pasu yang terkurung dan lain sebagainya. “Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang,” paparnya.

Sharif menegaskan, laut Indonesia pada dasarnya menyimpan berbagai sumberdaya alam yang dapat dijadikan modal pembangunan nasional. Karena itu, berbagai kegiatan ekonomi yang berbasis kelautan dapat dikembangkan, dalam rangka membangun masyarakat Indonesia yang sejahtera. Kondisi ini merupakan anugerah yang sangat besar bagi pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan. Indonesia merupakan negara maritime dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan teritorial, perairan laut 12 mil dan perairan ZEE Indonesia. Indonesia juga memiliki 17.504 buah pulau dengan panjang garis pantai 104.000 km.

“Karakteristik arus laut di Indonesia juga khas. Dari Samudera Pasifik melewati kepulauan Nusantara menuju Samudera Hindia merupakan indikator muncul dan lenyapnya El-nino dan La-nina.Indikator ini mempengaruhi perubahan iklim global, dan berdampak pada kemarau panjang, banjir, gagal panen, kebakaran hutan serta naik turunnya produksi perikanan,” jelasnya.

Sharif menjelaskan, dalam 5 tahun terakhir telah terjadi perubahan cukup signifikan terhadap potensi laut dunia. Bahkan Laporan Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2012 menunjukkan produksi ikan dunia dari kegiatan penangkapan di laut maupun diperairan umum cenderung stagnan dalam 5 (lima) tahun terakhir, yaitu dari 90,0 juta ton pada tahun 2006 menjadi 93,5 juta ton pada tahun 2011. Indonesia, juga mengalami hal serupa. Dimana, potensi lestari sumberdaya perikanan tangkap laut Indonesia adalah sekitar 6,5 juta ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan mencapai 5,71 juta ton pada tahun 2011 (77,38%).

Related posts