Investasi Diprediksi Melambat Pada 2014 - Terhambat Berbagai Masalah

NERACA

Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Anton Hermanto Gunawan mengatakan, investasi tahun ini diperkirakan akan tumbuh lebih lambat. Hal ini salah satunya dikarenakan penundaan ekspansi perusahaan hingga usainya Pemilihan Umum (Pemilu).

Prospek investasi memang tak sebaik sebelumnya, karena melambatnya permintaan domestik di tengah ketidakpastian global dan suku bunga yang lebih tinggi. Walaupun begitu masih ada beberapa potensi yang bisa mendukung perekonomian.

"Jika saja current account deficit (CAD/defisit transaksi berjalan) terus membaik, dan pembentukan pemerintahan baru bisa lancar, sentimen pasar akan membaik pula,” kata Anton, melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (23/1). Lebih lanjut dia memaparkan, dengan dukungan faktor konsumsi diharapkan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 5,86%.

Tahun ini Pemerintah menargetkan investasi tumbuh sekitar 15%, jumlah ini lebih kecil daripada pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 27,3%. Perlambatan ini, menurut Anton, merupakan hal yang wajar karena adanya volatilitas global menyusul langkah The Fed (Bank Sentral AS) memperuncing pembelian obligasi.

Selain itu, upaya Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia mengejar penyesuaian current account deficit, serta BI Rate yang meningkat sebesar 175 basis poin (bps) juga membuat permintaan domestik menurun. Total laju pertumbuhan investasi pada kuartal IV 2013, menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), tumbuh 26,4% secara tahunan (year on year/yoy).

Kondisi ini, kata Anton, lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 22,9% yoy. "Jumlah investasinya mencapai Rp105,3 triliun untuk periode Oktober-Desember 2013," terangnya. Adapun investasi asing langsung (FDI), menurut Anton, juga tumbuh sebesar 25,4% yoy dalam rupiah atau 17,5% dalam dolar yang disebabkan depresiasi rupiah. Sebaliknya, investasi dalam negeri melambat sebesar 28,7 persen. FDI, kata dia, paling banyak masuk ke sektor industri, diikuti oleh investasi kendaraan bermotor dan alat transportasi. [ardi]

Related posts