Industri Perbankan Syariah Fokus Garap UMKM - Masyarakat Ekonomi ASEAN

NERACA

Jakarta – Menjelang penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang, Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) mengakui bahwa industri perbankan syariah Tanah Air belum dapat meraih pangsa pasar (market share) yang lebih luas selain sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Namun perbankan syariah tidak sendiri. Pasalnya, sektor UMKM juga menjadi incaran perbankan konvensional.

Oleh sebab itu, Asbisindo mengoreksi pertumbuhannya antara 25%-30% pada tahun ini. "Target itu mengalami koreksi dari tahun 2013 yang diperkirakan bisa tumbuh sampai 40%. Bahkan, target pertumbuhan kali ini masih berpotensi dikoreksi lagi sebanyak 5%. Artinya koreksi pertumbuhan bakal terjadi lagi,” kata Ketua Divisi Komunikasi dan Sosialisasi Asbisindo, Imam T Saptono, dalam acara "Roundtable Evaluasi Ekonomi Indonesia dalam Perspektif Ekonomi Islam” di Jakarta, Kamis (23/1).

Potensi koreksi tersebut, sambung Imam, dapat terjadi mengingat tahun ini persaingan likuiditas antarperbankan semakin ketat. Pasalnya, kinerja perbankan, termasuk syariah diprediksi mengalami kendala dalam pendistribusian dana pihak ketiga (DPK). Dengan begitu, telah terjadi endapan likuiditas yang sulit perform di tahun ini.

Selain itu, Imam juga mengatakan nonperforming margin (NPM) perbankan syariah saat ini tergolong tinggi antara 2,8%-3% pada awal 2014. “Namun, besaran NPM yang ada saat ini masih dalam status aman. Jadi belum terlalu mengkhawatirkan meskipun cukup tinggi," tambahnya.

Melihat kondisi keuangan perbankan syariah saat ini, Imam mengaku dalam mengahadapi MEA perbankan syariah belum memiliki daya saing. Pasalnya, perbankan syariah masih fokus pada pasar UMKM dalam negeri. Sedangkan pasar korporasi dan industri besar sudah terlanjur dikuasai perbankan konvensional.

“Dalam menghadapi MEA tentu kita relatif belum bisa menjamah pasar korporasi dan industri besar. Sebab, dua pasar itu sudah terlanjur dikuasai perbankan konvensional, terutama bank-bank asing yang jauh lebih besar permodalannya,” terang Imam.

Sementara itu Imam mengaku 80% dari pasar UMKM dalam negeri sendiri sudah dikuasai oleh perbankan syariah. Prestasi itu sudah cukup memberi modal keyakinan perbankan syariah dalam negeri akan tergerus setelah MEA dibuka. Meskipun ada tantangan perbankan konvensional dalam negeri juga sudah mulai mengejar pasar yang sama.

“Memang ada isu perbankan konvensional mulai meningkatkan ekspansinya ke pasar UMKM hingga 40% pada tahun ini. Tapi itu tidak terlalu mengkhawatirkan meskipun market share kita hanya 4,9%. Tapi juga perlu diingat pasar UMKM sangat besar dan banyak yang belum terjamah,” tutur Imam.

Menurut Imam, yang juga menjabat sebagai Direktur Bisnis Bank BNI Syariah ini, mengatakan pada 2014 pihaknya akan memangkas pembagian marjin (keuntungan) dengan nasabah. Hal ini dianggap perlu untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Namun tetap dalam tingkatan yang kompetitif bagi nasabah.

“Kemungkinan besar kita akan menaikan margin sekitar 100 basis poin (bps) sampai 150 bps. Sehingga kita akan membagi margin itu ke nasabah antara 70% untuk kita dan 30% dari revenue untuk nasabah. Tapi kita masih perlu uji coba karena khawatir tidak bersaing,” pungkasnya. [lulus]

Related posts