PNM Serahkan Klaster Slondok ke Pemerintah Magelang

NERACA

Magelang - PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM menutup sekaligus menyerahkan sentra usaha Keripik Slondok kepada Pemeritah Kabupaten Magelang setelah sukses membinanya sejak 2012. Direktur Bisnis Mikro II PNM, Carolina Dina Rusdiana menuturkan PNM kembali membuktikan keberhasilan dari program pengembangan kapasitas usaha (PKU), yang kali ini manfaatnya dirasakan oleh para pengrajin keripik slondok di Dusun Sugihan, Desa Sidowangi, Magelang.“Kesuksesan pembinaan usaha mikro dan kecil (UMK) di Klaster Keripik Slondok antara lain ditunjukan dari peningkatan signifikan produksi dan harga jual produk olahan singkong tersebut,” kata Carolina di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (23/1).

Sebelum mendapatkan pembinaan PKU, lanjut Carolina, pelaku UMK di Dusun Sugihan hanya memproduksi Slondok mentah berkisar 20 ton per bulan, dengan harga jual Rp7000/kg. Setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, produk olahan singkong yang dihasilkan lebih beragam, antara lain Slondok matang, Natta de cassava, dan tepung tapioka.

Klaster industri Slondok saat ini memiliki kapasitas untuk memproduksi slondok mentah rata-rata 20 ton/bulan, slondok matang 100 kg/bulan, Nata de cassava 500 kg/bulan, dan tepung tapioka 120 kg/bulan. Untuk harga jual, slondok mentah masih sama Rp7000/kg, slondok matang dihargai Rp25.000/kg, Natta de cassava dijual Rp1.100/kg untuk yang lembaran dan Rp60.000/kg untuk yang minuman. Sementara itu untuk tepung tapioka harga jualnya mencapai Rp6000/kg.

“Dalam perjalanannya membina pengusaha Slondok, PKU ternyata juga berhasil membentuk kelompok baru pengolah limbah slondok, dengan produk nata de cassava dan makanan ternak awetan,” tutur Carolina.

Kemudian Carolina pun berharap program pembinaan yang telah dirintis oleh PNM selama ini dapat dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Magelang sehingga daya saing usaha para pengrajin slondok dapat lebih ditingkatkan.

Sementara itu, Pemimpin PNM Cabang Semarang, Nino Achmad Kusuma menjelaskan Klasterisasi industri Slondok di Desa Sidowangi selama ini berada di bawah koordinasi PNM Cabang Semarang. Program PKU ini telah membina sedikitnya 60 pengrajin Slondok.“Kendati yang dibina hanya 60 pengusaha, tetapi dampak positif PKU ini juga dirasakan oleh puluhan pengusaha singkong lainnya yang berada di sekitar Dusun Sugihan,” jelas dia.

Menurut dia, kontribusi Desa Sidowangi dan sekitarnya terhadap bisnis pembiayaan Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) cukup signifikan, dengan jumlah nasabah mencapai 30 orang. Jumlah kumulatif nasabah PNM Cabang Semarang per Desember 2013 sebanyak 2.539, meningkat 33,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012. Dari keseluruhan nasabah tersebut menyerap pembiayaan ULaMM sebesar Rp121,92 miliar atau tumbuh 35,59% dibandingkan dengan periode penyaluran Desember 2012 yang sebesar Rp89,9 miliar.

“Hingga saat ini, PNM Cabang Semarang membawahi operasional bisnis pembiayaan 25 kantor ULaMM, yang terbagi ke dalam empat klaster yakni Klaster Pati, Klaster Semarang, Klaster Purwodadi Kota, dan Klaster Temanggung,” ungkap Nino.

Dalam acara penutupan dan serahterima Program Klasterisasi Slondok dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi dari pemerintah Kabupaten Magelang. Secara simbolik juga diresmikan dan diserahterimakan rumah produksi nata de cassava dan rumah penggorengan slondok kepada masyarakat setempat.

Selain itu, pada acara tersebut juga dicanangkan Desa Sidowangi sebagai Desa Binaan PNM dalam lingkup Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Kepala Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) PNM, Ibrahim Salim menambahkan Program Pendampingan Sentra Usaha atau Klasterisasi Industri adalah program pendampingan yang dilakukan secara komprehensif dan intensif kepada sekelompok UMK dengan industri yang sejenis ataupun dalam satu rantai produksi.

PKU sejauh ini telah menyerahkan tujuh klaster usaha ke pemerintah daerah, yakni klaster Keripik Slondok di Dusun Sugihan, Magelang; Klaster pengrajin Keripik Singkong, di Kecamatan Solear, Banten; Klaster pengrajin Rempeyek Pelemadu di Desa Sriharjo, Yogyakarta; Klaster pengrajin keset limbah di Kecamatan Pringapus, Semarang; Klaster pengrajin Gula Kelapa di Desa Mantren, Pacitan, Jawa Timur; Klaster pengrajin Kripik Nanas di Desa Kualu Nenas, Kab. Kampar, Riau; dan Klaster pengrajin Gula Kelapa di Desa Jeruju Besar, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat.

“Sementara itu klaster yang dibentuk pada tahun 2013 yang masih akan berjalan pada tahun 2014 adalah Klasterisasi Industri UMK Opak Singkong di Sumatera Utara, Klasterisasi Industri UMK Perhiasan Perak & Swasa di Mojokerto, Jawa Timur, dan Klasterisasi Industri UMK Ikan Hias di Depok, Jawa Barat,” papar dia.

Menurut dia, Divisi PKU selama 2013 telah melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan usaha sebanyak 208 kali di seluruh wilayah operasional PNM di Indonesia. Adapun jumlah pelaku UMK penerima manfaat PKU mencapai 9.662 peserta atau meningkat 258% dalam setahun.

“Kami tidak hanya memberikan pelatihan dan pembinaan melalui program PKU, tetapi juga membantu perluasan akses pasar hingga ke mancanegara,” Jelas ibrahim.

Ibrahim juga mengungkapkan kesepakatan kerja sama antara PNM dengan Japan External Trade Organization (Jetro) pada penghujung 2013, kata Ibrahim, merupakan salah satu upaya Perseroan memfasilitasi pemasaran produk-produk nasabah binaan ke pasar Jepang.

“Pada tahun ini kami akan lebih meningkatkan pelaksanaan program PKU agar dampak positifnya lebih besar dirasakan oleh para pelaku UMK,” kata dia. [mohar]

Related posts