Bosowa Fokus Garap Energi dan Semen - Tingkatkan Pendapatan dan Nilai Aset

NERACA

Banyuwangi - Grup Bosowa terus melakukan pengembangan bisnis dengan melakukan pembangunan proyek-proyek yang saat ini fokus pada sektor energi dan semen. CEO Bosowa Erwin Aksa mengatakan, fokus perusahaan pada dua sektor tersebut lantaran terbukanya peluang terkait kebutuhan masyarakat akan semen dan energi yang semakin semakin meningkat tiap tahunnya.

"Ini kebutuhan masyarakat dan permintaan semen dalam negeri yang kuat, elpiji juga demikian. Kebutuhan pokok masyarakat dan negara untuk bangun infrastruktur," ujarnya di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (23/1).

Dengan ekspansi ini, lanjut Erwin diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan nilai aset perusahaan secara signifikan dalam waktu 3 tahun kedepan. "Pendapatan Bosowa diharapkan bisa Rp 20 triliun, laba nantinya sekitar 20%-25% dari situ. Tentunya diharapkan asetnya juga tumbuh sampai Rp 50-60 triliun. Sekarang total aset kita Rp 15 triliun," lanjutnya.

Lahan Bosowa yang berada di Banyuwangi dengan luas sekitar 20 hektar (ha) kini telah diisi dengan pembanguna pabrik semen dan terminal elpiji dengan nilai investasi mencapai Rp 2 triliun. Dan rencana akan melakukan perluasan lagi untuk pembangun proyek lainnya.

"(Proyeknya) Belum tahu, tapi yang jelas didalam (kawasan). Kawasan Bosowa disini sekitar 20 ha, rencana akan ditambah lagi jadi 30 ha, kita akan bangun industri-industri lain yang terintergasi dengan kawasan ini dan ini lagi proses," katanya.

Erwin menjelaskan, Bosowa telah menyiapkan dana untuk pengembangan selama 3 tahun kedepan mencapai Rp 20 triliun yang 70% berasal dari pinjaman perbankan. Selain itu, dia juga tengah menjajaki untuk melakukan ekspansi keluar negeri, khususnya di negar-negara ASEAN. "Saat ini kita sedang melihat peluang di Myanmar dan Vietnam terkait dengan semen, energi, dan pembangkit listrik," tandasnya.

Sebelumnya, salah satu grup usaha asal Makassar, Bosowa, menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk membangun pabrik semen baru di Maros, Sulawesi Selatan. Dengan dibukanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa menggiling semen jutaan ton per tahun.

Erwin mengatakan bahwa dengan adanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa meningkatkan kapasitas produksi dari 5.500 ton menjadi 7.200 ton per hari. "Ini dimulainya pengoperasian penggilingan semen sebesar 1,8 juta ton per tahun, Dengan demikian, Semen Bosowa Maros nantinya akan memproduksi semen empat juta ton per tahun," kata Erwin.

Proyek tersebut, kata Erwin, menelan dana investasi Rp1,1 triliun. Kini, Semen Bosowa Maros memproduksi semen sebesar 3,5 juta ton per tahun. Produksi ini berasal dari Semen Bosowa di Batam dan di Maros.

Dengan beroperasinya line II ini, total produksi Semen Bosowa menjadi 5,2 juta ton per tahun. Erwin berharap pabrik line II ini bisa mendorong adanya percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.

“Peningkatan ini merupakan bentuk komitmen Bosowa membangun infrastruktur di KTI karena masih sangat tertinggal. Industri dan infrastruktur harus digenjot, sekaligus agar wilayah ini siap menampung limpahan industri dari Pulau Jawa,” kata dia.

PT Semen Bosowa memperkirakan laba bersih perusahaan hingga akhir tahun mencapai sekitar Rp 450 miliar dengan pendapatan Rp 1,5 triliun. Perseroan juga masih mengkaji waktu yang tepat untuk melakukan penawaran perdana umum (IPO) saham mengingat kondisi pasar modal yang tidak mendukung.

Menurut Erwin, Semen Bosowa tahun ini bakal memproduksi semen 2,5 juta ton yang berasal dari dua pabrik di Maros, Sulawesi Selatan dan Batam. Hingga akhir September, perusahaan telah memproduksi semen sebanyak dua juta ton.

Dari total produksi semen sebanyak 2,5 juta ton, perusahaan memasarkan 98 persen untuk kebutuhan domestik dan sisanya memasok kebutuhan Timor Leste. "Pangsa pasar kami untuk kebutuhan lokal baru 5 persen," ungkap dia.

Erwin menargetkan, produksi Semen Bosowa dalam empat tahun mendatang bakal meningkat menjadi lima juta ton. Perusahaan optimistis pangsa pasar semen domestik dan luar negeri masih besar, terutama Cina yang memiliki pabrik-pabrik tua. "Keperluan domestik mereka cukup besar, apalagi banyak pabrik tua yang harus direnovasi," ungkapnya.

Tanam Investasi

Sehari sebelumnya, Erwin Aksa mengatakan Terminal Liquified Petroleum Gas (LPG) Bosowa di Banyuwangi ini menelan investasi senilai Rp 787 miliar dengan sumber dana berasal dal PT Bank Mega Tbk. Proyek ini nantinya akan dikelola oleh anak peusahaan Bosowa yaitu PT Misi Mulia Petronusa. Dan diharapkan dapa selesai pembangunan dalam 2 tahun mendatang. "Insya Allah akan selesai dalam 22 bulan," ujar dia.

Terminal LPG ini berdiri diatas lahan seluas 9 hektar berlokasi di jalan Gatot Subroto km 05 Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Sebelumnya dilokasi yang sama, Bosowa juga tengah mengerjakan pembangunan pabrik Semen Bosowa Banyuwangi.

Erwin optimis prospek bisnis ini karena fasilitas terminal ini sudah terikat kontrak dengan PT Pertamina. Nantinya juga akan berdiri sejumlah fasilitas jetty berkapasitas 6.500 dwt, 4 tangki LPG yang masing-masing berkapasitas 2.500 metrik ton, 6 unit filling sheds, control room, dan fasilitas lainnya.

Terminal ini akan mampu menampung sebesar 10 ribu metrik ton LPG. "Kehadiran terminal gas dan semen Bosowa nantinya diharapkan dapat mendorong ekonomi lokal bahkan Jawa Timur dan Bali," tandas Erwin.

Related posts