Bencana Ketahanan Pangan

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Litbang Kesehatan Kemenkes

Indonesia terancam bencana. Karena curah hujan begitu tinggi sejumlah daerah dihantam banjir. Di Jawa Tengah, beberapa daerah seperti Kudus, Bawen banjir memutus akses antar daerah. Di Manado, Sulawesi Utara, tercatat 19 korban jiwa akibat air meluap di mana-mana. Di Jakarta, banjir yang telah menjadi “tamu” tahunan juga kembali singgah. Puluhan ribu mengungsi, belasan jiwa melayang. Di Sinabung Sumatera Utara, tempat-tempat penampungan dijejali puluhan ribu orang yang mengungsi ketakutan diamuk gunung meletus.

Bencana pastinya mengganggu jalannya perekonomian. Berbagai dampak terhadap kesehatan pun timbul. Dari infeksi bahkan hingga menurunnya status gizi, jika bencana terjadi dalam waktu yang cukup lama. Permasalahan malnutrisi akhirnya tak mudah diputus begitu saja.

Bencana tanpa penanganan yang baik menyebabkan menurunnya ketahanan pangan rumah tangga bahkan negara. Bagi mereka yang terkena banjir, akses terhadap makanan akan berkurang apalagi terhadap makanan yang cukup, aman, alih-alih bergizi. Patut diingat ketahanan pangan tidak hanya terkait akses, tetapi juga distribusi, stabilitas suply, dan pemanfaatannya.

Paling rentan merasakan dampaknya adalah wanita hamil dan menyusui dari kelompok masyarakat miskin, mereka yang sakit, masyarakat yang tinggal di daerah kumuh perkotaan, lansia dan anak balita. Menurut FAO, Asia merupakan daerah yang paling rawan pangan, dengan 662 juta orang kekurang gizi. Besarnya potensi bencana, menambah derajat acaman kerawanan pangan.

Untuk itu teknologi dan keragaman pertanian, arus distribusi yang lancar baik nasional maupun regional perlu ditingkatkan. Ada yang berpendapat,kita aman karena bisa mengimpor pangan. Tetapi impor akan menjadi senjata makan tuan jika negara ini kekurangan uang. Perkembangan harga komoditas bahan pangan dan energi yang meningkat di pasar internasional pada 2008, 2010, dan 2012 juga mendorong peningkatan harga komoditas bahan pangan di pasar domestik. Padahal pasokan bahan pangan tidak mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat sehingga kita makin bergantung pada impor. Apa pula yang terjadi jika semua belahan dunia terkena dampak perubahan iklim yang mencetuskan kerawanan pangan? Kebijakan pangan dan pertanian harus berorientasi pada produksi lokal termasuk meningkatkan insentif para petani lokal dan pasar tradisional. Walaupun subsektor tanaman bahan makanan tumbuh 1,4 persen di tahun 2013 tetapi angkanya masih rendah karena perubahan cuaca.

Berbagai tindakan untuk pencegahan bencana dan peningkatan ketahanan pangan tidak bisa tidak harus dilakukan, untuk jangka pendek maupun panjang. Menggalakkan berkebun di rumah di lahan terbatas bisa meningkatkan ketahanan pangan. Tentu saja perlu teknologi yang tepat, mudah perawatan, tidak bergantung pada cuaca dan tidak makan tempat. Di Taiwan, mereka membuat bibit jamur dalam media tanam dalam kaleng. Dengan membuka kalengnya dan menempatkan ditempat yang lembab, jamur pun tumbuh dan bisa dipanen untuk dikonsumsi.

Lebih jauh pemerintah perlu merumuskan anggaran belanja di tahun-tahun mendatang yang juga mengarah pada pengembangan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing dan produksi. Dari sana diharapkan akan lahir produk-produk unggulan yang mampu memperkuat ketahanan pangan di negara ini. Hujan bisa datang kapan saja, maka bijaksana jika payung pun selalu tersedia.

Related posts